Mas Imam Nawawi

- Hikmah

Longsor Gunung Kuda dan Pelajaran Berharga

Musibah tanah longsor di area tambang batu alam Gunung Kuda, Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, mengejutkan kita semua. Kita prihatin atas hal itu. Namun lebih dalam, kita penting mendapat pelajaran berharga. Apalagi berita media menyebutkan ada 17 korban jiwa akibat peristiwa itu. Kemudian ada 7 luka-luka. Bagi sebagian orang mungkin itu tampak semata angka. Namun kita mesti […]

Longsor

Musibah tanah longsor di area tambang batu alam Gunung Kuda, Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, mengejutkan kita semua. Kita prihatin atas hal itu. Namun lebih dalam, kita penting mendapat pelajaran berharga.

Apalagi berita media menyebutkan ada 17 korban jiwa akibat peristiwa itu. Kemudian ada 7 luka-luka. Bagi sebagian orang mungkin itu tampak semata angka. Namun kita mesti menyadari ini adalah tentang nyawa manusia.

Dari sini kita menyampaikan doa, semoga keluarga korban mendapat kekuatan mental dan batin dalam menghadapi musibah ini.

Alam Begitu Berharga

Terlepas dari pandangan apapun. Kita mendapati pelajaran bahwa ini adalah pengingat keras. Bahwa kita tidak bisa hidup sembarangan.

Cara kita berinteraksi dengan alam harus lebih beradab. Alam ini bukan hanya tempat kita tinggal, mencari nafkah, tetapi juga penjaga kehidupan kita semua.

Dalam kata yang lain, kalau alam rusak, kita pun tidak bisa hidup dengan baik, aman dan tenteram.

Namun, seperti jamak kita pahami, banyak orang tak peduli lagi kepada alam. Apalagi kalau sudah berurusan dengan hitungan keuntungan. Terkadang sebagian manusia lebih bengis dari binatang buas di hutan, kalau sudah soal uang.

Perbaikan Tata Kelola

Sebagaimana pandangan Direktur Eksekutif Walhi Jabar, Wahyudin Iwang yang rilis di Kompas (1/6/25). Peristiwa itu menunjukkan buruknya tata kelola pertambangan. Tidak hanya itu, fakta itu juga mengungkap lemahnya pengawasan dari pihak berwenang.

“Gunung Kuda bukan satu-satunya insiden yang memakan korban jiwa. Ini menunjukkan bahwa praktik tambang di Jawa Barat masih jauh dari profesional dan abai terhadap standar keselamatan,” ujarnya.

Pada era teknologi yang begitu maju, manusia tak boleh terbelakang dalam berpikir. Dalam arti tidak terjebak kepentingan sesaat yang mengundang bencana mengerikan.

Cukuplah peristiwa Gunung Kuda membuat kita semua sadar. Mari hidup bersama alam bak tetangga. Kita hargai, hormati, rawat dan lestarikan.

Terlebih alam memang tidak berkomunikasi seperti manusia. Alam mungkin diam saja bagaimanapun manusia membuat kerusakan. Tapi ada saatnya alam akan murka. Dan, ketika itu terjadi, bukan siapa-siapa yang rugi. Kita sendiri.

Peringatan Tuhan

Allah SWT telah mengingatkan kita semua akan kerusakan-kerusakan yang itu adalah perbuatan tangan manusia.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah membuat mereka merasakan akibat dari sebagian perbuatan mereka, dan agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar-Rum : 41).

Sebagai manusia kita memang harus insaf. Bahwa kita tak boleh berhenti menyadari kesalahan dan memperbaikinya. Semoga ke depan Allah jaga lingkungan kita dari hal kerusakan-kerusakan.

Dan, untuk itu, kita sebagai manusia harus juga berkomitmen menjaga alam yang Allah aungerahkan kepada kita.*

Mas Imam Nawawi

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *