- Artikel

Latihan Menajamkan Pikiran

Pisau kalau tajam menyenangkan ibu-ibu, tentu saja saat mereka memotong sayur, daging, ikan dan lainnya. Lalu bagaimana kalau pikiran? Tentu saja, pikiran bisa lebih tajam dari pisau dan akan memberi dampak positif bagi siapapun yang memilikinya. Pertanyaannya apakah berpikir tajam itu penting? Saya yakin, sebagian besar akan berkata, yes. Apalagi pada masa seperti sekarang, yang […]

Jadi, berpikir itu tidak mudah. Tetapi bisa kita latih setiap hari. Tugas kita memperbanyak membaca dengan kualitas baik. Kemudian menemukan masalah dalam realitas. Lalu kita coba tawarkan satu konsep atau ide

Pisau kalau tajam menyenangkan ibu-ibu, tentu saja saat mereka memotong sayur, daging, ikan dan lainnya. Lalu bagaimana kalau pikiran? Tentu saja, pikiran bisa lebih tajam dari pisau dan akan memberi dampak positif bagi siapapun yang memilikinya.

Pertanyaannya apakah berpikir tajam itu penting? Saya yakin, sebagian besar akan berkata, yes.

Apalagi pada masa seperti sekarang, yang informasi mengalir tak terbendung. Ada yang terseret arus informasi yang salah. Tidak sedikit yang tenggelam dan tak bisa menyelamatkan diri.

Bayangkan, pada zaman informasi seperti ini, masih saja orang tertipu oleh investasi bodong, dokter gadungan, dan lain sebagainya.

Mungkin inilah bagian penting mengapa berpikir tajam itu sangat kita perlukan. Supaya kita bisa menganalisa, memilih, memilah dan mengolah informasi dengan tepat, sehingga bisa semakin baik. Bukan malah kian terbalik (kesadarannya).

Jenis Berpikir

Berpikir itu setidaknya ada tiga yang umum orang ketahui. Yakni berpikir kritis, berpikir kreatif dan berpikir analitis.

Sekarang coba cek, apakah kalian langsung percaya tentang sesuatu jika yang menyampaikan adalah artis favorit, dosen favorit, brand favorit dan lain sebagainya?

Jika kalian menjawab iya, maka saat itu harus segara kalian sadari. Kalian sangat butuh kemampuan berpikir kritis. Berapa banyak orang tertipu karena iya saja terhadap ucapan seseorang yang ia kagumi bahkan ia kultuskan?

Misalnya, ketika kita membaca berita tentang suatu produk baru, kita perlu bertanya: Siapa yang membuat klaim ini? Apakah ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut? Apakah ada kepentingan yang tersembunyi di balik klaim ini?

Kebenaran tetaplah kebenaran. Ia hanya bisa kita tangkap dengan ketajaman berpikir. Dan, kebenaran tidak selalu menempel pada lisan tokoh, orang terkenal dan lain sebagainya.

Dalam ungkapan KH. Hasan Abdullah Sahal, kebenaran tidak bisa kita ukur dari timbangan mayoritas atau minoritas. Kebenaran adalah cahaya.

Secara praktis, kita bisa melatih cara berpikir kritis dengan beberapa langkah. Pertama, menantang asumsi. Kedua, mencari bukti yang mendukung atau menolak suatu klaim. Ketiga, mengevaluasi argumen.

Pada latihan berpikir kreatif, kita harus banyak membaca, berinteraksi. Melakukan brainstorming, mind mapping, dan tak ragu mencoba hal-hal baru.

Baca Juga: Pentingnya Berpikir Mengapa

Ringkasnya, mulai hari ini, coba biasakan diri kalian untuk selalu bertanya ‘Mengapa?’ setiap kali kalian menerima informasi baru. Dengan begitu, kalian akan terlatih untuk berpikir kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak benar dan merugikan diri atau orang lain.

Sistem Berpikir

Dalam buku Thinking, Fast and Slow karya Daniel Kahneman, sistem berpikir itu ada dua.

Pertama, berpikir cepat, ini sifatnya lebih pada intuitif. Kedua, berpikir lambat, ini yang kita kenal semua, yakni berpikir rasional.

Baca Lagi: Melatih Berpikir Progresif

Keduanya harus sama-sama memainkan perannya agar kita bisa mengambil keputusan dan sekaligus dapat meningkatkan kualitas pikiran kita.

Misalnya, seseorang sukanya belanja. Kemudian ada tawaran diskon dan ia suka. Intuisinya akan mendorong segera check out. Tetapi rasionalitasnya akan bekerja, memberikan pertimbangan-pertimbangan yang masuk akal. Tetapi rasio yang kurang bacaan, sama dengan paru-paru kurang pasokan oksigen, pasti sulit bernafas.

Namun, kalau memerhatikan kandungan ayat-ayat Alquran, sistem berpikir kita akan bagus kalau memadukan dua aktivitas, yakni pikir dan dzikir. Jadilah insan ulul albab.

Mungkin pikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan karakter dan relevansi pendidikan dengan kehidupan sehari-hari bisa jadi jembatan. Bahwa belajar di sekolah, seharusnya membuat kita tajam berpikir, bukan hanya pandai menjawab soal-soal yang sudah dipelajari.

Jadi, berpikir itu tidak mudah. Tetapi bisa kita latih setiap hari. Tugas kita memperbanyak membaca dengan kualitas baik. Kemudian menemukan masalah dalam realitas. Lalu kita coba tawarkan satu konsep atau ide, bahwa dengan begini dan begini, kita bisa menjawab soal-soal kehidupan yang ini dan itu. Itulah berpikir dan kita memerlukan itu.*

Mas Imam Nawawi

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *