Mas Imam Nawawi

- Opini

Lagi-Lagi Bullying Menjadi Akar Kerugian

Entah seperti apa, yang pasti kasus ledakan di SMA 72 Jakarta menyeruak istilah bullying. Sekali lagi ini menandakan bahwa upaya untuk menjadikan sekolah zero bullying sangat mendesak. Jika tidak kita atasi dan tangani, bullying potensial menjadi akar dari segala bentuk kerugian. Bukan saja material yang hancur karena ledakan, tapi juga masa depan Indonesia karena rapuhnya […]

Lagi-Lagi Bullying Menjadi Akar Kerugian

Entah seperti apa, yang pasti kasus ledakan di SMA 72 Jakarta menyeruak istilah bullying. Sekali lagi ini menandakan bahwa upaya untuk menjadikan sekolah zero bullying sangat mendesak. Jika tidak kita atasi dan tangani, bullying potensial menjadi akar dari segala bentuk kerugian. Bukan saja material yang hancur karena ledakan, tapi juga masa depan Indonesia karena rapuhnya moral kolektif generasi muda.

Mantan Deputi Kerjasama Internasional BNPT RI, Hamidin, menjelaskan ke media bahwa kejadian ini sangat mungkin karena bullying yang mengakibatkan luka sosial yang membusuk tanpa penanganan.

Oleh karena itu, ia berharap, seruan anti-bullying tidak berhenti sebagai slogan. Mesti ada upaya dari sekolah dan pemangku kepentingan untuk menjadikan itu sebagai sarana menumbuhkan empati.

Hamidin kemudian menegaskan. “Anak-anak yang terluka di hati bisa menjadi bom waktu jika tidak ada yang mendengar dan menuntun mereka ke jalan yang benar. Senjata terkuat melawan kekerasan adalah perhatian, kasih, dan kemampuan mendengar,” ujarnya seperti laporan suara.com.

Perlu Kepastian

Meski demikian, Menteri Sosial, Saifullah Yusuf tetap meminta semua pihak menahan diri. Jangan mengedepankan spekulasi bahwa terduga pelaku peledakan SMAN 72 Jakarta adalah korban bully. 

Memang kehati-hatian publik dalam menerima informasi sangat penting untuk semakin meningkat kemampuan filterisasinya. Bagaimanapun fakta demi fakta terbaru menarik untuk kita temukan selanjutnya.

Terlebih, Kapolri juga tengah aktif mendalami berbagai macam informasi yang perlu. Kita patut menunggu keterangan Polri ke depan agar semua benar-benar clear and clean.

Anti-Bullying

Terlepas akan seperti apa fakta ke depan terungkap, kita penting menjadikan anti-bullying benar-benar hidup dalam denyut kehidupan di sekolah.

Secara konsep, Nabi Muhammad SAW memberikan pesan sangat ringkas dan tegas. “Berkata baik atau diam.” 

Pesan itu penting menjadi nafas seluruh siswa dalam interaksi sosial, sehingga satu sama lain menjadi penguat persahabatan dan kekeluargaan.

Langkah kecil namun penting, memasang tulisan biasakan salam, senyum dan sapa, penting menjadi pengingat yang sekolah letakkan pada sudut-sudut kumpul siswa. Dengan demikian mereka mendapat dorongan untuk tidak egois, mau menghargai orang lain dan mengedepankan sikap baik kepada siapapun.

Jangan Biarkan

Sekilas, perilaku bullying tampak sepele, bahkan sering dianggap lumrah dalam keseharian anak-anak atau remaja. Namun ketika kita biarkan, ia perlahan menjelma menjadi luka yang dalam. 

Korban bullying tak jarang tenggelam dalam kesedihan, kehilangan semangat, menarik diri dari pergaulan, hingga merasa sekolah bukan lagi tempat yang aman. Dalam kondisi tertekan itu, ada yang akhirnya meminta pindah, bahkan berhenti sekolah sama sekali.

Lebih jauh dari itu, perilaku yang dibiarkan tanpa teguran dan pendampingan berpotensi melahirkan rantai kekerasan baru. 

Anak yang pernah disakiti bisa tumbuh menjadi sosok yang menyakiti. Luka batin yang tak disembuhkan, di kemudian hari bisa menjelma menjadi dorongan untuk melakukan kekerasan yang sama. 

Pada fakta yang demikian inilah letak bahayanya—bukan hanya bagi korban, tetapi bagi peradaban kemanusiaan itu sendiri. Dan, seperti api, kebakaran besar selalu terpicu oleh letupan api kecil. Bullying itu kecil, tapi ia bisa menjadi seperti api yang membakar semuanya.*

Mas Imam Nawawi