Home Artikel Kumpul dan Berdiskusilah!
Kumpul dan Berdiskusilah!

Kumpul dan Berdiskusilah!

by Imam Nawawi

Senin sore (24/6/24) saya mendapat undangan kumpul dengan kawan-kawan, total ada 10 orang. Duduk berhadap-hadapan, saling melempar opini, problem dan analisa. Saya senang sekali hadir dalam forum itu, karena memang Islam itu mendorong kita untuk bertemu, berkumpul dan berdiskusi.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103).

Jadi kalau jarang ngopi (kumpul sambil diskusi) sahabat saya, Ainuddin, mengatakan bagaimana akan muncul ide, apalagi kalau mau maju tapi jarang bertemu. Akan seperti apa kebersamaan ini melahirkan kekuatan?

Tapi kumpul dan diskusi bukan untuk unjuk gigi, tapi niat untuk meninggikan kalimat Allah. Kalau itu landasannya, maka dari sisi niat saja, Allah akan berikan jaminan perlindungan di hari Kiamat. Lindungan yang tak ada lindungan kecuali dari Allah Ta’ala.

Kumpul dalam hal ini adalah bertemunya hati, bersaudaranya hati, dan berjamaahnya hati.

“Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul dan berpisah semata-mata karena Allah.” (HR. Muslim).

Tak Soal Jumlah Sedikit

Berkumpul tak harus ribuan massa. Karena biasanya itu akan mudah kalau urusan politik atau sebagian kecil tabligh akbar.

Baca Juga: Apa Solusi dari Kita?

Perhatikan saja dengan seksama, bagaimana dua orang bertemu karena Allah, itu sudah masuk orang yang selamat di hari Kiamat. Artinya, perbanyak saja teman, bertemu dan berkumpul, untuk mengingat Allah.

Arnold Toynbee mengatakan yang tampil menggerakkan peradaban itu tidak banyak orang. Sedikit (minoritas) tapi kreatif. Artinya hidup hatinya, tajam akalnya dan kuat komitmen dan kinerjanya. Itulah yang selanjutnya kita pahami sebagai jama’ah.

Syaikh Sayyid Sabiq dalam karya tulisnya “Anashirul Quwwah Fil Islam” menuliskan bahwa di antara unsur kekuatan dalam Islam disamping kesatuan aqidah, ibadah, akhlak, tujuan, adalah kekuatan berjamaah.

Jama’ah berbeda dengan majmu’ah (bergerombol, berkerumun). Hal itu dalam sosiologi bisa terjadi antar sesama penumpang kereta, kapal atau pesawat. Badannya bersama, duduk berdampingan, tapi tujuannya tidak sama. Apalagi niatnya, jelas sangat mungkin berbeda-beda.

Bentuk konkret jama’ah dapat kita petik pelajarannya dari 40 sahabat Nabi SAW yang konsisten menimba ilmu, meneguhkan iman di Darul Arqam. Mereka kala mau bertemu dan duduk nyawa taruhannya.

Tetapi begitulah, orang yang tahu mengapa mereka harus rela mati adalah orang yang jiwanya telah tercerahkan. Sebab mati di jalan Allah itu malah menuju kehidupan yang sejati.

Ikatan

Dari kisah Darul Arqam kita tahu bahwa ikatan dan hubungan terus menerus antar sesama Muslim memang bagusnya kita kuatkan.

Baca Lagi: Menyala Energi Positif dalam Kehidupan

Bersahabat itu harus dengan hati, bukan dengan belati. Begitu Kang Maman kerap menulis dan menyampaikan dalam banyak kesempatan pertemuan.

Sebuah keluarga saja yang anggotanya telah kehilangan kesadaran akan urgensi mempertahankan ikatan kasih dan sayang akan mudah untuk terbelah, tercerai berai dan pecah berkeping-keping.

Tetapi keluarga yang semua anggotanya sadar pentingnya iman, menjaga ikatan hati karena Allah, insya Allah apapun badai yang menerpa, keluarga itu akan eksis dan berkibar. Itulah keluarga Imran. Ayah, ibu dan anak, semuanya berhimpun dalam satu ikatan sekaligus tujuan, totalitas menghamba kepada Allah.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment