Mas Imam Nawawi

- Kisah

Membangun Peradaban: Jejak Kepemimpinan Ust. Abdullah Said

Memahami terminologi peradaban merupakan sebuah tantangan intelektual yang cukup kompleks. Dalam tradisi Barat, istilah civilization berakar dari bahasa Latin yang merujuk pada kehidupan perkotaan dan baru menjadi baku pada abad ke-19. Sementara itu, sejarah Islam memandang konsep ini melalui istilah ‘umran yang diperkenalkan oleh Ibnu Khaldun. Beliau menggambarkan ‘umran sebagai kehidupan menetap serta pembangunan masyarakat […]

Membangun Peradaban: Jejak Kepemimpinan Ust. Abdullah Said

Memahami terminologi peradaban merupakan sebuah tantangan intelektual yang cukup kompleks. Dalam tradisi Barat, istilah civilization berakar dari bahasa Latin yang merujuk pada kehidupan perkotaan dan baru menjadi baku pada abad ke-19. Sementara itu, sejarah Islam memandang konsep ini melalui istilah ‘umran yang diperkenalkan oleh Ibnu Khaldun. Beliau menggambarkan ‘umran sebagai kehidupan menetap serta pembangunan masyarakat yang terorganisir.

Evolusi istilah ini kemudian terus berkembang melalui kata hadharah dan madaniyyah guna mencari padanan yang tepat bagi kemajuan manusia.

Jika kita menggambarkan peradaban sebagai sebuah pohon yang rimbun, maka etimologi ini adalah akar yang mencari tanah paling subur untuk tumbuh.

Dalam konteks Indonesia modern, sosok Ust. Abdullah Said yang lahir dengan nama Muhsin Kahar muncul sebagai perwujudan nyata dari pembangunan peradaban tersebut.

Beliau memegang peran sentral sekaligus komprehensif dalam sejarah berdirinya Pondok Pesantren Hidayatullah. Beliau bukan sekadar pembangun infrastruktur fisik, melainkan bertindak sebagai arsitek ideologi, sistem pendidikan, dan penggerak sosial yang membentuk jati diri Hidayatullah hingga saat ini.

Sebagai langkah awal, kontribusi intelektual terbesar Abdullah Said adalah merumuskan landasan ideologis melalui penafsiran lima surah pertama Al-Quran berdasarkan urutan turunnya wahyu, yakni Surah Al-Alaq, Al-Qalam, Al-Muzzammil, Al-Muddatstsir, dan Al-Fatihah.

Sistematika Nuzulul Wahyu

Ijtihad beliau ini melahirkan Sistematika Nuzulul Wahyu atau SNW. Konsep SNW berfungsi sebagai manhaj atau metode yang menggerakkan seluruh operasional di jaringan Hidayatullah.

Ibarat sebuah kompas, SNW memberikan arah yang presisi bagi para kader dalam menapaki jalan dakwah. Bersamaan dengan itu, lahir pula Kurikulum Berbasis Sirah yang menjadi panduan pendidikan.

Beliau merajut proses pembinaan santri dengan tahapan kehidupan Nabi Muhammad SAW, mulai dari fase keyatiman hingga fase Gua Hira, sehingga pendidikan terasa lebih hidup dan aplikatif bagi para santri.

Selanjutnya, Abdullah Said merevolusi wajah pesantren menjadi pusat pengkaderan yang militan melalui beberapa langkah strategis. Beliau mengawali evolusi lembaga ini dari pengajian rutin pada tahun 1973 hingga berkembang menjadi jaringan pendidikan formal yang luas.

Selain itu, beliau menetapkan misi dakwah nasional sebagai fokus utama. Beliau mencetak kader-kader tangguh yang siap berangkat ke berbagai pelosok Indonesia untuk menyebarkan dakwah sekaligus membangun cabang-cabang baru.

Kekuatan kepemimpinan beliau yang karismatik menjadikannya figur sentral yang menetapkan arah kebijakan lembaga secara teguh dan visioner.

Kepekaan Sosial

Sisi luar biasa lainnya terlihat pada inovasi sosial dan pemberdayaan umat. Ustaz Abdullah Said memiliki kepekaan sosial tinggi yang mewujud dalam program-program solutif bagi masyarakat bawah. Salah satunya adalah tradisi Pernikahan Mubarak. Program pernikahan massal ini membantu para kader menjalankan syariat tanpa beban biaya sekaligus mempererat ikatan jamaah yang memiliki visi membangun peradaban Islam.

Beliau juga menaruh perhatian besar pada penyantunan kaum duafa. Beliau mendirikan panti sosial dan lembaga pendidikan bagi anak yatim guna membentangkan jalan menuju masa depan yang lebih cerah.

Langkah mulia ini kini menjadi pilar utama dalam kegiatan Laznas BMH. Melalui sinergi strategis, beliau berhasil menjalin kolaborasi dengan pemerintah, termasuk dalam pembebasan lahan wakaf seluas 5,4 hektar di Gunung Tembak, Balikpapan, yang kini luasnya telah berkembang mencapai ratusan hektar.

Majalah Suara Hidayatullah

Selain pembangunan fisik dan sosial, beliau menyadari betul kekuatan opini publik melalui visi literasi. Beliau menjadikan literasi sebagai pedang perjuangan. Terinspirasi oleh tokoh besar seperti Buya Hamka, beliau memprakarsai majalah Suara Hidayatullah.

Media ini memegang peran ganda, yakni sebagai sarana syiar edukasi sekaligus motor penggerak ekonomi pesantren. Hebatnya, majalah ini tetap tegak berdiri hingga hari ini meskipun badai disrupsi digital menerjang industri media.

Melalui ringkasan pemikiran dan kiprahnya, kita dapat menyimpulkan bahwa Ust. Abdullah Said bukan semata pemimpin pesantren biasa.

Melalui visi besarnya, beliau berhasil mengubah Hidayatullah dari sebuah rintisan lokal di Balikpapan menjadi jaringan nasional dengan ratusan cabang di seluruh penjuru Indonesia.

Beliau telah membuktikan bahwa peradaban bukan sekadar teori akademik tentang kota atau pembangunan fisik belaka, melainkan sebuah kerja nyata dalam membangun manusia dan sistem sosial yang berlandaskan nilai-nilai wahyu.

Kalau ada orang berkunjung ke Pesantren Hidayatullah dari Aceh sampai Papua, maka praktik hidupnya sama.

Dan, nilai prinsip bersilaturahmi, gotong royong dan persaudaraan menjadi arus yang terus Hidayatullah jaga sampai kapanpun. Karena sejatinya orang beriman itu bersaudara.*

Mas Imam Nawawi