Home Kisah Kongres Budaya Umat Islam Dorong Umat Punya Elan Daya Cipta
Kongres Budaya Umat Islam Dorong Umat Punya Elan Daya Cipta

Kongres Budaya Umat Islam Dorong Umat Punya Elan Daya Cipta

by Imam Nawawi

Dalam rangka Milad ke-48 MUI, Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam MUI menggelar Kongres Budaya Umat Islam. Keren sekali. Karena forum ini mendorong umat Islam, terutama kaum muda kembali mempunyai elan daya cipta.

Istilh elan daya cipta itu hadir dari makalah yang ditulis oleh Prof. Dr. Susanto Zuhdi yang berjudul “Kelenturan Budaya Islam Dalam Menghadapi Berbagai Tantangan Zaman.”

Elan artinya semangat perjuangan yang hidup dan menyala-nyala. Tidak ada elan daya cipta, berarti pasif dan regresif.

Baca Juga: Dakwah Sesuai Perkembangan Digital

Ketika umat kehilangan elan daya cipta, kreativitas dan inovasi, nilai-nilai Islam pun mulai pudar dari kebudayaan hidup umat Islam.

Hal itu karena kebudayaan berarti praktik hidup keseharian, kemudian perilaku, dan intelektualitas.

Oleh karena itu ketika kita melihat bagaimana Islam masuk Andalusia, teknologi perkapalan telah umat kuasai, bahkan memiliki industri perkapalan sendiri.

Begitu pun ketika Barat tercerahkan, daya cipta keilmuan menjadi hal yang paling berpengaruh, sehingga begitu banyak intelektual Muslim hadir dengan karya yang tidak saja berbobot, tetapi berkuantitas tinggi.

Harus Berdaya Cipta

Seakan melanjutkan pentingnya elan daya cipta itu, Menko PMK Prof. Muhadjir Effendy juga menegaskan hal yang sama dengan pendekatan lebih segar secara sosial.

Bahwa manusia yang berbudaya itu berdialektika.

“Dialektika budaya Peter Berger itu menyatakan bahwa semua yang ada di jagat raya itu sebenarnya ciptaan yang maha pencipta, sedangkan yang mendapatkan tetesan cahaya penciptaan itu hanya manusia, selain itu tidak bisa menjadi seorang creator, ” ungkapnya

Artinya, sebagai manusia saja kita harus mampu berdaya cipta, apalagi sebagai manusia yang beridentitaskan umat Islam, tentu sangat wajib mewujudkan itu.

“Manusia saja yang memiliki kemampuan berdaya cipta, daya cipta itu inti dari budaya. Tidak mungkin ada budaya kalau tidak memiliki daya cipta dan yang memiliki daya cipta itu hanya manusia,” tegasnya.

Komisi Sejarah

Pada akhirnya sesi wacana usai masuklah ke sidang komisi. Saya sendiri yang mewakili BMH masuk ke Komisi A yang mengulas usulan tentang penulisan sejarah Islam di Indonesia sampai masa reformasi.

Baca Lagi: Raih Bahagia dalam Dakwah

Sebagai upaya memberikan gagasan, saya usulkan tiga hal. Pertama, bagaimana menyikapi repatriasi benda purbakala dari Museum Belanda ke Indonesia.

Kedua, metode penulisan sejarah harus lebih “lincah” dalam arti jangan terlalu akademik bahasanya, karena banyak anak muda hobinya sekarang baca status media sosial.

Ketiga, pengenalan kehidupan tokoh, prinsip hidup, kecerdasan dalam menghadapi masalah, juga perlu dihadirkan, sehingga orang tidak hanya membaca tokoh A hebat dan ini kontribusi besarnya, tetapi tidak tahu, bagaimana tokoh itu berproses kala mudanya.

Pada akhirnya saya sangat berterimakasih kepada MUI yang dalam Milad ke-48 menggelar satu forum yang sangat strategis, menyegarkan dan menggerakkan. Maju terus MUI.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment