Di tengah terik siang Jakarta pada Selasa, 20 Mei 2025, saya berbincang dengan seorang supir ojek online. Ia termasuk dalam golongan masyarakat ekonomi rentan. Setidaknya begitulah data yang saya baca dari beberapa media akan posisi mereka secara ekonomi. Penghasilannya tak pasti, kadang cukup, kadang pas-pasan.
“Susah, pak,” ucapnya sederhana, tanpa banyak keluh.
Namun di balik keterbatasan itu, ia tetap punya harapan. Tidak menyerah. Bahkan hari itu, ia bersiap turun ke jalan untuk berdemo.
Bukan sekadar aksi spontan. Ini upaya menyuarakan aspirasi.
“Kami ingin dimengerti oleh aplikator. Kami turun karena Presiden Prabowo pernah berbicara soal kesejahteraan pekerja, tapi realisasinya belum terasa,” katanya.
Ia menjelaskan, setiap hari mereka bekerja tanpa henti. Hujan atau panas, tetap berkendara demi memenuhi kebutuhan keluarga.
“Minimal kami berharap ada peningkatan. Baik dari sisi penghasilan maupun perlindungan sosial.”
Makna dan Hikmah
Saya melihat ada banyak pelajaran dari percakapan singkat ini.
Pertama, betapa kuatnya semangat warga meski hidup dalam kesulitan.
Mereka tidak menunggu belas kasihan, tapi mencari solusi dengan usaha dan suara.
Kedua, ini menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah bangsa bukan hanya terlihat dari gedung tinggi atau teknologi canggih. Walakin juga dari bagaimana negara hadir bagi rakyatnya yang paling lemah.
Dan ketiga, sikap pantang menyerah seperti ini layak kita teladani.
Dalam kondisi apa pun, tetap berusaha, tetap bermimpi, dan tetap percaya bahwa esok bisa lebih baik.
Bangun Warga Indonesia
Rasanya kalau kita perhatikan, pemerintah mudah sekali untuk membangun. Jembatan, jalan tol, bendungan, dan infrastruktur lainnya. Kami sadar itu penting. Namun mengapa tidak dengan membangun manusia?
Hal ini menunjukkan bahwa membangun manusia bukan perkara biasa. Tak cukup fasilitas hidup. Bahkan tak cukup kecanggihan teknologi.
Empati, kepedulian dan pembelaan terhadap rakyat menjadi kunci. Soal supir ojek online, bukan satu-satunya kelompok warga Indonesia yang hidup dalam kekuatan ekonomi lemah. Para dosen, guru, pun tampaknya juga tidak jauh berbeda.
Lantas bagaimana mengatasi ini semua? Butuh kesadaran pemerintah bahwa membangun tak hanya fisik, tapi juga jiwa. Semoga kisah ringan ini menyadarkan kita semua, terutama mereka yang punya tandatangan yang bisa mengubah wajah bangsa.*


