Mas Imam Nawawi

- Kajian Utama

Kian Dewasa Semestinya Semakin Yakin Seperti Nabi

Seseorang pernah berkata, manusia semakin lama hidup semakin takut kekurangan materi. Padahal idealnya semakin dia dewasa, bertambah keyakinannya seperti Nabi. Setidak-tidaknya berada di jalur keyakinan Nabi Muhammad SAW. Ungkapan itu tampak ideal. Sepertinya kebanyakan orang akan sulit menerima sebagai jalan hidup. Apalagi pada era seperti sekarang, semua serba materi. Semakin orang tua usianya, semakin dekat […]

Iman seperti Nabi

Seseorang pernah berkata, manusia semakin lama hidup semakin takut kekurangan materi. Padahal idealnya semakin dia dewasa, bertambah keyakinannya seperti Nabi. Setidak-tidaknya berada di jalur keyakinan Nabi Muhammad SAW.

Ungkapan itu tampak ideal. Sepertinya kebanyakan orang akan sulit menerima sebagai jalan hidup. Apalagi pada era seperti sekarang, semua serba materi. Semakin orang tua usianya, semakin dekat dengan masa pensiun.

Pensiun artinya kehilangan kerja, berkurang atau bahkan tidak ada lagi pendapatan. Akibatnya sebagian besar orang berpikir bagaimana tetap bisa mendapat sumber-sumber pendapatan. Dan, itu sah saja, sejauh tak menghambat dan merugikan hal yang lebih besar. Namun jangan lupa selain kebaikan dunia idealnya kita sadar ada kebaikan akhirat.

Emosi Nabi

Pandangan yang seperti itu menunjukkan iman yang belum maksimal mengambil peran dalam setiap keputusan seseorang bersikap.

Kalau seseorang memang hidup dengan meneladani emosi Nabi SAW ia tak perlu ada khawatir. Justru sedari awal imannya yang akan mengambil peran dominan.

Ahmad Al-Jada’ penulis buku “Meneladani Kecerdasan Emosi Nabi” memberikan rekomendasi jelas. Bahwa hidup kita mesti meneladani emosi Nabi Muhammad SAW.

Mulai dari fokus membenahi keyakinan kepada Allah. Keyakinan yang menumbuhkan tekad terus beramal shaleh.

Kemudian sabar dalam mencari peluang-peluang kebaikan. Mampu berkomunikasi dengan baik. Mau menghargai orang lain. Ulet dalam bekerja.

Ketika ada orang masa mudanya tidak serius, masa tua akan menjadi garis finish kebermanfaatan eksistensinya secara luas. Oleh karena itu bicara iman, sejatinya mendorong jiwa sadar untuk punya mental kerja yang sungguh-sungguh.

Kalau dalam bahasa Ust. Abdullah Said (pendiri Hidayatullah), kita harus bisa berpikir keras, bekerja keras dan beribadah keras.

Tawakal

Selanjutnya tugas kita, kalau telah berupaya meneladani emosi Nabi SAW adalah bertawakal.

Tawakal itu bermakna memaksimalkan upaya (ikhtiar) dengan berharap hasil kepada Allah SWT.

Mentalitas tawakal ini yang akan menjadi penyelamat kita dari kecewa, putus asa atau menyalah-nyalahkan orang lain (suka cari kambing hitam).

Ringkasnya tawakal itu seperti Nabi SAW kala hendak perang. Beliau SAW menghitung berapa jumlah pasukan umat Islam, berapa yang berkuda, berapa logistik dan pada titik mana perang akan berlangsung. Sisi lain, beliau mengutus orang menjadi pengintai kondisi lawan.

Dalam kata yang lain, bicara iman artinya kita terampil dalam persiapan. Maksimal dalam kerja dan kinerja. Tidak kemudian santai, malas, lalu kala datang hasil yang buruk, kita mengatakan itu takdir.

Ketika mentalitas ini ada dalam diri seseorang, maka ia akan semakin dewasa. Hidupnya akan semakin menginspirasi. Ucapannya memberi power kepada anak muda. Tindakannya menginspirasi kaum penerus untuk istiqamah.*

Mas Imam Nawawi

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *