Home Kajian Utama Kesempatan itu Bernama Waktu, Awas Gagal Lagi!!!
Kesempatan itu Bernama Waktu, Awas Gagal Lagi!!!

Kesempatan itu Bernama Waktu, Awas Gagal Lagi!!!

by Imam Nawawi

Dalam hitungan jam, Indonesia akan mengalami perubahan waktu. Berubah dari 2023 menjadi 2024. Orang yang berpikir akan menyiapkan langkah agar waktu di 2024 bisa menjadikan diri lebih baik, lebih bermanfaat dan lebih maslahat. Karena sejatinya kesempatan itu tidak lain adalah waktu.

Waktu menjadi alat ukur perjalanan setiap anak manusia. Yang kemarin masih jomblo, sekarang sudah menjadi suami/istri. Kemudian ada pula yang telah memiliki anak. Namun, satu hal utama yang banyak orang lupa, apa kebermanfaatan diri bagi kehidupan yang telah dipersiapkan.

Sudahkah iman dalam hati tumbuh kuat? Adakah kegemaran diri beramal sholeh? Lalu adakah keberanian dalam diri memberi nasihat dalam kebenaran dan kesabaran kepada sesama, terutama yang jumawa atau pun sedang dalam kondisi nestapa?

Baca Juga: Bersyukur Sepanjang Waktu

Setidaknya itulah renungan yang kita semua bisa melakukan dengan baik. Berdasarkan pada kandungan Alquran, Surah Al-Ashr.

Terlena

Namun, kehidupan dunia seringkali menyeret hati sebagian manusia sibuk pada hal-hal yang semu.

Menghimpun uang itu perlu, tetapi menjadikan urusan utama adalah uang, juga bukan tindakan yang tepat.

Sekarang, betapa tidak sedikit orang melihat bahwa semua hal harus dengan uang. Apalagi kalau sudah bicara politik, konkretnya kampanye, atau bahkan kalau mau tetap punya jabatan dan semakin tinggi jabatannya. Rata-rata orang mulai melupakan Tuhan, yang memberinya nafas, waktu dan kehidupan.

Oleh sebab itu kita perlu merenungkan secara mendalam pesan Nabi SAW perihal bagaimana kebanyakan manusia melupakan nikmat penting dalam kehidupan ini.

“Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang.” (HR Bukhari).

Dan, terbukti, masyarakat Indonesia, semakin modern, semakin terkoneksi, waktunya semakin banyak yang tergerus untuk hal yang kurang produktif, katakanlah media sosial.

Data tahun 2013 mencatat, rata-rata orang menghabiskan 1 jam 37 menit atau setara dengan 97 menit per hari di media sosial.

Kemudian pada tahun 2022, penduduk dunia menghabiskan rata-rata 2 jam 31 menit di media sosial, yang merupakan durasi terlama dalam 1 dekade terakhir.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia tidak ketinggalan, negeri ini mengalami peningkatan penggunaan media sosial. Di tahun 2023, sebanyak 60,4% dari total populasi telah menggunakan media sosial. Nilai ini diprediksi akan terus meningkat hingga mencapai 81,82% di tahun 2026.

Sadar

Secuil data dan fakta tentang bagaimana sebagian orang terlena dengan media sosial (belum termasuk bahasan tentang konten kreator dan konsumsi konten) telah cukup menjadi bukti, bahwa kebanyakan orang rela kehilangan waktu demi hal yang kurang atau bahkan tidak berguna.

Kondisi itu harus kita sadari sebagai sebuah hal yang penting diubah. Jika selama ini diri suka rela membuang waktu untuk hal tidak penting, maka pada 2024 kita mesti menargetkan, berapa buku yang harus saya baca dalam sehari, sepekan, sebulan atau bahkan setahun.

Lebih jauh, kemana saya melangkah, menemukan teman yang kegemarannya adalah ilmu, amal baik, dan melakukan hal-hal yang bermanfaat luas, juga mesti jadi pertanyaan yang terus disegarkan.

Dan, langkah paling fundamental yang kita butuhkan untuk sadar waktu sebagai kesempatan emas adalah apakah hati ini telah mengenal Allah.

Baca Lagi: Literasi dan Masa Depan Kita

Dengan begitu, ibarat bahtera, maka hati ini selalu siap mengarungi samudera kehidupan dengan segenap tantangan yang membentang?

Oleh sebab itu, jangan ada waktu akan datang apalagi berlalu, kecuali kita harus bertambah kuat iman dan amal sholeh.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment