Mas Imam Nawawi

- Kisah

Kepemimpinan yang Dicintai Rakyat: Pelajaran dari Orhan Bey untuk Zaman Bencana

Inspirasi memang datang dari manapun, termasuk dari film sejarah Turki. Saya melihat dalam situasi dan kondisi bencana banjir yang melanda banyak daerah belakangan ini, inspirasi dari film ini bisa menjadi referensi tentang bagaimana idealnya relasi pemimpin dan rakyat. Hal itu tidak lain karena sekarang kita semua seperti memiliki pertanyaan mendasar yang sama: seperti apa sesungguhnya […]

Kepemimpinan yang Dicintai Rakyat: Pelajaran dari Orhan Bey untuk Zaman Bencana

Inspirasi memang datang dari manapun, termasuk dari film sejarah Turki. Saya melihat dalam situasi dan kondisi bencana banjir yang melanda banyak daerah belakangan ini, inspirasi dari film ini bisa menjadi referensi tentang bagaimana idealnya relasi pemimpin dan rakyat.

Hal itu tidak lain karena sekarang kita semua seperti memiliki pertanyaan mendasar yang sama: seperti apa sesungguhnya pemimpin yang dibutuhkan rakyat saat masa sulit?

Nah, saya melihat salah satu cara untuk menjawabnya, kita dapat bercermin dari sebuah adegan kuat dalam film Kurulus Orhan Episode ke-7.

Dalam serial itu alur cerita menampilkan Orhan Bey—putra Osman Bey dan penerus perjuangan Daulah Utsmaniyah—sebagai simbol kepemimpinan yang mencintai dan dicintai rakyat.

Orhan Bey dan Kepemimpinan yang Merangkul

Pada satu momen penting, Orhan Bey berdiri di hadapan rakyatnya yang beragam, termasuk warga non-Muslim yang sebelumnya mengalami penindasan di Bursa.

Dengan nada tegas namun penuh empati, Orhan menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara Muslim dan non-Muslim di bawah kepemimpinannya.

Lebih dari itu, ia membuka seluruh wilayah negeri untuk mereka dan mengundang rakyat menyampaikan setiap masalah yang mereka hadapi.

Namun yang menarik, respons rakyat justru di luar dugaan. Alih-alih mengeluh, seorang warga maju dan menegaskan bahwa mereka tidak memiliki masalah. Ia menyampaikan rasa syukur karena Orhan telah menjaga negeri dan melindungi rakyatnya dengan adil.

Penegasan itu bukan basa-basi, melainkan lahir dari pengalaman hidup di bawah kepemimpinan yang hadir dan mendengar.

Ketulusan Rakyat sebagai Cermin Kepemimpinan

Selanjutnya, ketulusan itu menjelma menjadi tindakan nyata. Seorang warga menurunkan gandum yang ia pikul dan menyerahkan setengahnya untuk mendukung perjuangan Orhan Bey. Tak lama kemudian, warga lain maju membawa telur unggas terbaik yang ia miliki. Tanpa komando, bantuan mengalir dari tangan-tangan rakyat biasa.

Pada titik ini, satu hal menjadi jelas: rakyat tidak memberi karena dipaksa, tetapi karena percaya. Mereka rela berkorban karena merasa dilindungi, dihargai, dan dilibatkan. Inilah bentuk dukungan paling jujur dalam sebuah kepemimpinan.

Dalam konteks rakyat membantu rakyat dalam bencana banjir tahun ini, warga memang telah lebih awal bergerak. Semoga pemimpin hari ini bisa mengambil posisi strategis dalam mengatasi musibah yang tidak kecil ini.

Negara Hadir Setelah Rakyat Percaya

Menanggapi ketulusan itu, Orhan Bey tidak berhenti pada ucapan terima kasih. Ia menegaskan bahwa mulai hari itu, negara siap membantu rakyatnya.

Pernyataan ini menunjukkan keseimbangan peran: rakyat mendukung negara, dan negara hadir untuk rakyat.

Relevansi dengan Bencana Banjir Hari Ini

Jika ditarik ke konteks bencana banjir saat ini, adegan ini menyentuh kesadaran kita bersama. Bencana bukan hanya soal air yang meluap, tetapi juga tentang kehadiran, empati, dan kepercayaan.

Tanpa menyalahkan siapa pun, kita perlu bercermin: apakah relasi antara pemimpin dan rakyat sudah terbangun dengan saling percaya?

Pada akhirnya, Orhan Bey mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati tidak lahir dari kekuasaan semata, melainkan dari ketulusan mendengar, keberanian merangkul, dan kesediaan hadir di saat rakyat membutuhkan.

Dan, dalam masa krisis, nilai-nilai inilah yang paling urgen, mendesak bahkan darurat. Semoga segera hadir pemimpin terbaik bangsa ini menyelesaikan soal-soal yang tak mungkin rakyat atasi sendiri.*

Mas Imam Nawawi