Mas Imam Nawawi

- Kajian Utama

Kepemimpinan sebagai Amanah Ilahiyah

Subuh yang sejuk (23/10/25), saya kembali merenung tentang kepemimpinan sebagai amanah. Semua terjadi setelah menunaikan shalat, saya mendengar taujih dari Rais ‘Am Hidayatullah, Ust. Abdurrahman Muhammad yang begitu menancap ke dalam hati. Kalimat pertama beliau membuka dengan syukur kepada Allah subhanahu wa ta‘ala. Dengan penuh kesadaran, kita dapat pencerahan untuk memandang keindahan ciptaan Allah sebagai […]

Kepemimpinan sebagai Amanah Ilahiyah

Subuh yang sejuk (23/10/25), saya kembali merenung tentang kepemimpinan sebagai amanah.

Semua terjadi setelah menunaikan shalat, saya mendengar taujih dari Rais ‘Am Hidayatullah, Ust. Abdurrahman Muhammad yang begitu menancap ke dalam hati.

Kalimat pertama beliau membuka dengan syukur kepada Allah subhanahu wa ta‘ala. Dengan penuh kesadaran, kita dapat pencerahan untuk memandang keindahan ciptaan Allah sebagai awal dari rasa syukur itu.

Pada momen singkat itu, beliau menegaskan bahwa kepemimpinan adalah persoalan paling krusial dalam kehidupan manusia. Bahkan sejak awal sejarah, manusia sudah berhadapan dengan pertanyaan mendasar: apakah pengangkatan pemimpin dalam kehidupan bumi akan membawa kebaikan, atau justru menimbulkan kerusakan? Pertanyaan ini tidak pernah usang, dan sampai sekarang tetap menjadi tantangan besar.

Kepemimpinan sebagai Amanah

Beliau mengingatkan kami pada ayat Al-Qur’an, surah An-Nahl ayat 91. Allah memerintahkan untuk menepati janji, tidak membatalkan sumpah, dan selalu menghadirkan Allah sebagai saksi dalam setiap komitmen.

Dari sini saya semakin yakin, kepemimpinan bukanlah sekadar posisi. Ia adalah amanah Ilahiyah, Rabbaniyah, insaniyah, sekaligus alamiyah. Itulah sebabnya, sumpah seorang pemimpin bukanlah formalitas. Sumpah adalah pernyataan moral yang paling tinggi. Kita tahu banyak pemimpin melupakan sumpah, tapi kita jangan. Bahkan sumpah setia dalam berumah tangga dengan pasangan.

“Ia menjadi pengikat kejujuran dan dasar integritas,” tegas Rais ‘Am.

Dan orang pertama yang seharusnya menampilkan keteladanan dalam hal ini adalah seorang imam, pemimpin yang berdiri paling depan.

Dari Kepemimpinan Lahir Kebaikan

Rais ‘Am menegaskan, kepemimpinan sejati akan melahirkan kebaikan. Sementara kebaikan itu sendiri adalah harapan yang harus kita wujudkan dalam kehidupan masyarakat. Dalam upaya itu, maka kita membutuhkan perjanjian bersama. Pemimpin telah mendapat otoritas untuk menyelesaikan masalah, namun keputusan terbaik hanya akan lahir melalui syura.

Saya merasa pesan ini begitu dalam: seorang pemimpin tidak cukup hanya menonjolkan rasio, melainkan harus menghadirkan hati nurani. Ia harus berbicara tentang keadilan, menjaga integritas, dan menimbang segala hal dengan profesionalitas.

Tugas Berat, Tapi Mulia

Pada akhirnya, kepemimpinan adalah bentuk tertinggi dari ibadah. Kita dapat tuntutan untuk taat kepada Allah, Rasul-Nya, dan amanah-amanah yang kita emban. Berat atau ringan, dengan fasilitas atau tanpa fasilitas, tugas tetap harus kita jalankan.

Pesan beliau menutup dengan nada yang meneguhkan: “Laksanakan saja tugas itu, karena pemimpin sejati tidak mengukur dirinya dengan dunia, melainkan dengan ibadah”.

Inilah pangkal saya belajar, kepemimpinan bukanlah sekadar memimpin orang lain, melainkan menjaga diri agar tetap berada dalam jalan amanah.

Refleksi

Saya teringat doa para ulama terdahulu: “Ya Allah, jangan Engkau bebankan kepemimpinan ini kepadaku bila Engkau tahu aku tidak sanggup menjalaninya dengan amanah. Namun bila Engkau takdirkan aku memikulnya, kuatkanlah aku dengan kejujuran, teguhkanlah aku dengan keadilan, dan jadikan kepemimpinanku sebagai jalan menuju ridha-Mu.”

Doa itu seakan menjadi penutup yang sempurna. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan bukan tentang nama atau jabatan, melainkan tentang amanah. Yang mana setiap amanah harus kita pertanggungjawabkan ke hadapan Allah. Bismillah, saatnya melangkah.*

Mas Imam Nawawi