Mas Imam Nawawi

- Kajian Utama

Keluarga dengan Spirit Idul Adha

Idul Adha merupakan hari raya istimewa bagi umat Islam. Pada momen ini dimensi ruhiyah yang kental dengan energi sosial mengubah situasi dan kondisi semesta. Setidaknya dalam masa 4 hari. Dan, kala kita gali, ternyata semua keistimewaan ini berangkat dari keteguhan iman sebuah keluarga. Jadi, ada keluarga hebat yang hadir mengapa muncul spirit Idul Adha. Keluarga […]

Spirit keluarga di Hari Raya Idul Adha

Idul Adha merupakan hari raya istimewa bagi umat Islam. Pada momen ini dimensi ruhiyah yang kental dengan energi sosial mengubah situasi dan kondisi semesta. Setidaknya dalam masa 4 hari. Dan, kala kita gali, ternyata semua keistimewaan ini berangkat dari keteguhan iman sebuah keluarga. Jadi, ada keluarga hebat yang hadir mengapa muncul spirit Idul Adha.

Keluarga itu hadir dengan nahkoda andal, seorang ayah yang menjadi pembawa risalah tauhid, yakni Nabi Ibrahim alayhissalam. Sang istri bernama Hajar dengan seorang anak bernama Ismail. Anak yang “ajaib” karena dalam usia belia, ada yang mengatakan 7 tahun, telah mengerti bagaimana hidup dengan keimanan.

Baca Juga: Ini Cara Agar Sehat Holistik

Hal itu terbukti kala sang ayah bermimpi dan mendapat perintah dari Allah untuk menyembelihnya. Kala sang ayah bertanya bagaimana pendapatnya, sang anak menjawab dengan sebuah kalimat yang amat dahsyat. Kalimat yang tak mungkin hadir kalau iman tidak mantap dalam hati dan sistem kesadarannya.

“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang Allah perintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As Saffat: 102).

Kronologi

Kehadiran sosok anak bernama Ismail itu merupakan buah dari perjalanan panjang. Ada kronologi indah yang menghiasi perjalanan hidup Nabi Ibrahim.

Mulai dari impian mendapatkan keturunan hingga doa yang dipanjatkan kepada Allah Ta’ala.

Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.” (QS. Ash-Shaffat: 100).

Bahkan Nabi Ibrahim mengikhtiarkan hadirnya sosok anak ini dapat dididik dengan baik di lingkungan yang steril dari kontaminasi pragmatisme, paganisme, dan materialisme.

Upaya itu bahkan mengantarkan Nabi Ibrahim rela meletakkan anak dan istrinya di satu lembah yang tak ada tanaman dan tidak ada sumber air di sisi Baitul Harom. Semua itu dilakukan agar keluarga ini menjadi penegak sholat.

Energi Idul Adha

Dari sekelumit ulasan mengenai keluarga yang menjadi “aktor” di balik Idul Adha di atas kita dapati satu energi historis yang dapat menjadi penggerak sekaligus pemandu bagaimana mestinya Idul Adha ini berdampak terhadap pembangunan keluarga kita di era digital ini.

Pertama, keberhasilan dalam bentuk hadirnya pertolongan Allah dalam sebuah keluarga harus disertai dengan visi, langkah dan eksekusi yang nyata.

Baca Juga: Tiga Langkah Ringan Produktif di Pagi Hari

Kedua, agenda utama yang harus terus hidup dalam keluarga adalah soal bagaimana mengokohkan keimanan, sehingga satu sama lain dalam interaksi internal keluarga landasannya semata-mata ingin mendapat ridha Allah. Dengan begitu kala keluar rumah, rahmat dan kebaikan yang bisa kita hadirkan bagi sesama.

Ketiga, iman itu memang harus kita manivestasikan atau kita buktikan. Satu jalur terbaik untuk pembuktian iman itu adalah kesiapan jiwa raga kita menjalankan perintah Allah, bahkan berkorban  dalam melaksanakan perintah-Nya.

Dengan demikian Idul Adha merupakan pengingat agar keluarga-keluarga Muslim sadar akan tujuan dan fokus kehidupan di dalam membangun keluarga.

Jangan malah terjebak pada arus yang sebenarnya tidak ada tuntunannya, kemudian menyesal pada akhirnya. Dan, akhirnya keluarga tidak mampu menjadi sarana terbaik untuk mendapatkan rahmat dan barokah dari sisi-Nya.*

Mas Imam Nawawi

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *