Dalam suasana menyambut Subuh yang hening, kedua mata saya asik menyapu kalimat demi kalimat dalam buku karya Brian P. Moran dan Michael Lennington: “The 12 Week Year”. Kesimpulan sementara yang saya baca dari Bab 1 sampai Bab 7 adalah pentingnya tindakan. Kata buku itu, tindakan adalah kekuatan sejati orang-orang yang berhasil.
Tanpa tindakan, orang dengan banyak pengetahuan pun tidak akan memiliki kekuatan apapun. Nilai manusia bukan pada idenya, tapi sejauh mana ide itu benar-benar ia terapkan. Saya akhirnya ingat istilah man of action, manusia yang bertindak dari Amien Rais untuk Ust. Abdullah Said. Tapi kata buku itu, tidak ada tindakan tanpa pemikiran, visi yang tajam dan kreasi mental.
Pemanfaatan Potensi
Sekarang, pernahkah teman-teman memperhatikan, sebenarnya apa potensi yang ada dalam eksistensi kita dan belum kita manfaatkan secara optimal.
Buku itu berkata, potensi kita itu harus kita keluarkan. Kemudian ikuti dengan upaya terbaik untuk selalu kita gunakan dengan sebaik-baiknya. Kapan? Setiap hari, setiap pekan, setiap bulan, tiga bulan, enam bulan, bahkan hingga 5 tahun.
Orang yang melakukan itu, kata Moran dan Lennington akan melahirkan satu kekuatan besar dalam dirinya. Karena yang mengubah semua bukan hanya pikiran, tapi tindakan. Mengoptimalkan potensi dengan sebaik mungkin adalah bagian dari tindakan penting.
Ikat Lagi
Sebagian orang mungkin sudah cukup baik dalam menata waktu dan pikirannya. Namun mungkin juga mereka lupa untuk mengikatnya lagi. Ini lahir dari ungkapan bahwa ketika kita telah membaca, mempelajari dan mengamati banyak hal, kita perlu bertanya.
“Apa yang benar-benar telah saya pelajari. Setelah membaca, mengetahui semuanya, apa yang benar-benar saya dapatkan?” Bagiku itu adalah cara mengikat lagi.
Idealnya semua itu perlu melahirkan tiga hal utama. Pertama, soal terobosan dalam hidup. Kedua, visi yang tajam. Ketiga, tentang kreasi mental.
Saya akan ambil poin kedua. Visi yang tajam, itu butuh komitmen kita menghadirkan rencana. Karena “visi tanpa rencana sama dengan angan-angan”.
Sama dengan konsep inti dalam Islam, yakni siapa orang beriman itu. Dia adalah yang percaya dengan hati, mengikrarkan dengan lisan kemudian membuktikannya dengan tindakan. Sampai sini kita harus sadar bahwa apa yang Allah berikan balasan kepada manusia adalah tindakan-tindakannya beserta seluruh yang mengitarinya, termasuk niat dalam hati.*


