Manusia itu makhluk yang memang istimewa. Pertama karena perannya sebagai khalifatullah dan abdullah. Kedua karena bekal berupa anugerah kemampuan berpikir yang Alalh berikan. Dan, karena itu, manusia mestinya sadar bahwa kekuasaan itu adalah amanah.
Kekuasaan identik dengan kepemimpinan, terutama secara kebangsaan dan kenegaraan. Padahal, setiap jiwa secara hakikat punya kekuasaan.
Baca Juga: Moral yang Ditinggal dan Tertinggal
Sebagai contoh, ketika seorang pemuda hidup dia memegang kekuasaan. Apakah akan mengisi hari dengan ketaatan atau sebaliknya. Ia bebas memilih dan menggunakan kekuasaannya tersebut.
Demikian pun orang yang menyandang pangkat dan jabatan, jelas ia punya kewenangan yang bisa ia gunakan. Terserah dia, mau ia arahkan untuk kebaikan atau sebaliknya.
Terlebih seorang presiden, menteri, panglima tentara, kiyai dan beragam ketokohan lainnya. Semua itu amanah dan karena itu jangan lupa, semua itu akan tiba pada masa yang setiap pengembannya akan dan harus bisa mempertanggungjawaban.
Nasihat Al-Mawardi
Dalam kesempatan ini saya ingin mengutip nasihat Imam Al-Mawardi dalam kitabnya Adabud Dunya wad Din.
Pertama, Menjaga agama dari distorsi dan menganjurkan untuk mengamalkannya tanpa pengabaian.
Kedua, memakmurkan negeri dengan bersandar kepada kemaslahatan dan mengukuhkan jalan dan caranya.
Ketiga, mengelola harta yang jadi amanah dengan peraturan agama, tanpa penyelewengan, baik pemasukan maupun pembelanjaannya.

Keempat, memperhatikan kezaliman dan hukum, tanpa pandang bulu dari seluruh lapisan penduduk dan berpegang pada keadilan untuk menyelesaikan persengketaan.
Kelima, memperhatikan dan menegakkan hukuman bagi orang-orang yang berhak tanpa lalai dan melewati batas.
Keenam, memilih para pembantunya, dari orang–orang yang memiliki kemampuan, kecukupan, dan amanah.
Kemudian Al-Mawardi mengatakan bahwa jika pemegang pemerintahan umat melaksanakan hal itu maka dia telah menunaikan hak Allah. Dalam kata yang lain seluruh rakyat wajib taati. Berhak untuk bisa kita berikan nasihat, berhak mendapatkan kesukaan dan kecintaan mereka.
Sebaliknya, jika sesorang pemimpin melalaikan dan tidak melaksanakan hak serta kewajibannya, maka dia akan mendapat tuntutan dan siksaan Tuhan. Kemudian rakyat akan durhaka dan marah dalam hatinya.
Kiamat
Jika amanah telah orang sia-siakan, maka itu bukan saja kerusakan yang akan muncul, boleh jadi kiamat memang benar-benar dekat. Namanya kiamat, kecil apalagi besar, jelas tidak menyenangkan dan sangat menyusahkan.
Dari Abu Hurairah r.a. berkata, tatkala Nabi SAW berada dalam suatu majelis, sedang berbicara dengan sahabat, maka datanglah orang Arab Badui dan berkata, “Kapan terjadi Kiamat?”
Baca Juga: Cholidi yang Baik Hati
Rasulullah SAW. terus melanjutkan pembicaraannya. Sebagian sahabat berkata, “Rasulullah SAW mendengar apa yang ditanyakan, tetapi tidak menyukai apa yang ditanyakannya . Berkata sebagian yang lain, “Rasulullah SAW tidak mendengar.”
Setelah Rasulullah SAW menyelesaikan perkataannya, beliau bertanya, “Mana yang bertanya tentang Kiamat?”
Berkata orang Badui itu, “Saya wahai Rasulullah SAW,“
Rasul SAW berkata, “Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah Kiamat.”
Bertanya (orang badui) “Bagaimana menyia-nyiakannya?” Rasulullah SAW menjawab, “Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah Kiamat” (HR Bukhari).
Mas Imam Nawawi_Ketua Umum Pemuda Hidayatullah


