Home Opini Kejujuran, Kekuatan yang Ditinggalkan?
Kejujuran, Kekuatan yang Ditinggalkan?

Kejujuran, Kekuatan yang Ditinggalkan?

by Imam Nawawi

Saya langsung merenung perihal kejujuran. Mengapa kejujuran yang merupakan kekuatan justru ditinggalkan?

Itulah kecamuk dalam pikiranku, terutama saat membaca buku tentang perlakuan buruk yang sebagian masyarakat Islam alami.

Semakin hanyut renungan itu kala membaca bab sebuah buku, betapa ada upaya negara besar menjauhkan masyarakat Muslim dari agamanya. Sebuah langkah yang tak berbeda dari upaya Barat menghegemoni dunia selama ini.

Sama seperti Barat yang sekuler – liberal dan ingin mengubah warna seluruh dunia dengan pandangan materialistiknya, begitu pun dengan langkah-langkah negara dengan ambisi mendunia belakangan ini.

Baca Lagi: Belajar Kebijakan Ekonomi Para Penguasa

Buku itu juga menerangkan bahwa ada cara pandang yang sama dalam memandang semua agama, khususnya Islam.

Mereka berusaha mendefinisikan ulang semua agama agar sesuai dengan filsafat “penjajah” dengan menjauhkan agama-agama tersebut dari esensi dasarnya.

Jujur

Menjadi manusia yang paling utama adalah mau jujur. Kita tahu, sebagai negara besar dengan kekuatan ekonomi raksasa, siapapun itu (sekarang ya kalau gak Amerika ya China) pasti ingin menguasai dunia.

Akan tetapi, apakah mereka tidak pernah belajar pada sejarah, bahwa jika tujuan-tujuan ekonomi telah melegalkan kejahatan kemanusiaan apalagi sampai doktrinasi dan genosida, upaya seperti itu tidak akan pernah berhasil.

Coba pahami secara mendalam, bagaimana persekusi, boikot dan kebiadaban orang-orang kafir Quraisy terhadap umat Islam. Langkah bodoh itu tak membuat cahaya dakwah pudar, justru semakin terang dan menembus berbagai sudut bumi.

Karena kesadaran akan keimanan memang wujud keinsafan puncak seorang manusia. Ia tidak akan mau menukar iman dengan hal-hal duniawi. Sosok Bilal pada masa itu justru menjadi magnet yang menguatkan spirit orang untuk semakin teguh dengan Islam.

Bagaimana Saat Ini?

Namun sejarah selalu memaparkan dengan terang, siapapun yang berupaya memisahkan iman dari dada seseorang, terutama Muslim, hal itu tak akan pernah mengubah semangat perlawanan.

Sebuah ungkapan menyebutkan “Kekejaman berdarah dan teror dari musuh justru akan semakin memperkuat semangat perjuangan.”

Baca Lagi: Islam dan Gerak Ekonomi Indonesia

Pertanyaan mendasar, mengapa negara besar sampai mau capek-capek melakukan itu semua?

Biasanya karena potensi ekonomi yang sangat besar. Sebagai contoh di Turkistan Timur, tempat Muslim Uyghur tinggal, ada 76 jenis kandungan mineral. Terdapat 134 jenis cadangan mineral yang ditemukan; 5 jenis mineral ini cadangannya lebih besar dari yang ada di utara China, dan seterusnya.

Sama seperti Indonesia, negara ini sangat kaya sumber daya alam. Lihat saja perjalanan bangsa ini, dari Portugis, Inggris, bahkan Belanda sangat ingin menguasai negeri ini. Apa sebab, kekayaan alamnya yang luar biasa.

Sampai di sini, saya memandang, bahwa langkah tidak jujur akan mendatangkan masalah besar. Rasionalnya, kalau mereka ingin mengoptimalkan sumber daya alam yang bukan miliknya, mengapa tidak dengan cara-cara yang beradab, misalnya dengan cara perniagaan.

Mengapa harus memaksa untuk memiliki, melakukan permusuhan terhadap manusia dan keyakinannya.

Bukankah pada era seperti sekarang, manusia sudah hidup dengan literasi lebih baik dari masyarakat satu abad sebelum ini?

Akan tetapi kalau mau kita jawab dengan sederhana, inilah kehidupan.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment