Mas Imam Nawawi

- Artikel

Kebahagiaan itu Sederhana, Inikah Wujudnya?

Berapa banyak orang hidup ingin bahagia. Tapi apa sebenarnya bahagia itu? Kali ini kita tidak akan “mengkonsumsi” teori hidup bahagia. Tapi fakta yang menarik. Ini kisah pada Subuh hari ini (14/7/25). Kisah yang menjelaskan dengan gamblang bahwa bahagia itu sederhana. Benar-benar prasaja. Bahagia Bukan Manja Subuh itu tak biasa kurasa. Tubuh manja ingin kembali berbaring. […]

Makna Kebahagiaan

Berapa banyak orang hidup ingin bahagia. Tapi apa sebenarnya bahagia itu? Kali ini kita tidak akan “mengkonsumsi” teori hidup bahagia. Tapi fakta yang menarik. Ini kisah pada Subuh hari ini (14/7/25). Kisah yang menjelaskan dengan gamblang bahwa bahagia itu sederhana. Benar-benar prasaja.

Bahagia Bukan Manja

Subuh itu tak biasa kurasa. Tubuh manja ingin kembali berbaring. Tapi itu aleman yang tak boleh kubiarkan. Beberapa jurus kulakukan untuk melawan. Mulai dari minum air putih, makan satu buah biskuit, hingga akhirnya memeriksa WA. Tak kunyana ada kiriman konten IG dari Pak Haji, sosok yang setiap hari berkirim kabar kepadaku.

Konten IG itu dari Dapur Ola: @dapurola. Captionnya ringan dan ringkas. Bahwa kebahagiaan itu sederhana. Bukan melulu tentang pencapaian besar atau hadiah mahal. Melainkan tentang orang yang kita cintai dan momen kecil yang kita bagi bersama mereka.

Nah, akhirnya bahagia menerpaku. Sebagai bukti bahwa bahagia bukan menuruti badan yang manja. Beda sekali ya dengan badan yang lelah!

Lima Kebahagiaan

Di atas caption itu ada carousel berisi 5 foto.

Pertama Moedjono, 75 tahun. Ia mengaku dirinya akan bahagia kalau bisa memberi hadiah pada cucu saat ia berhasil dalam studinya. Wah haru banget.

Kedua Citra, 45 tahun. Ia mengaku bahagia kalau orang tua memerlukannya ia bisa memenuhi semua keinginannya. Keren sekali ini. Karena berbakti kepada orang tua itu pahalanya besar sekali.

Ketiga, Gunawan, 30 tahun. Ia akan bahagia kalau bisa memberi hadiah kepada orang tua saat ulang tahun. Momen yang spesial tentunya.

Keempat, Iqbal, 20 tahun. Ia pernah bahagia. Yaitu ketika bisa membelikan cincin untuk sang ibu. Wah, mantap banget Iqbal.

Kelima, Maulana, 50 tahun. Baginya bahagia itu kalau bisa bertemu dengan saudara yang lama berpisah. Ini hakikat persaudaraan. Kangen karena begitu lama tak berjumpa. Semoga bisa bertemu ya.

Makna Kebahagiaan

Sekarang kita bisa mengambil pelajaran. Berdasarkan kisah Moedjono, Citra, Gunawan, Iqbal, dan Maulana, kita dapat menarik kesimpulan bahwa kebahagiaan sejati seringkali berakar pada tindakan. Tepatnya aksi memberi dan mempererat ikatan keluarga.

Bagi generasi yang lebih tua seperti Moedjono, kebahagiaan memuncak saat mereka dapat menyaksikan dan mendukung keberhasilan cucu-cucu mereka, menunjukkan bahwa kegembiraan pribadi sering kali terkait erat dengan kesejahteraan generasi penerus. Ini adalah kebahagiaan yang muncul dari kepuasan melihat benih cinta dan didikan yang ditanam berbuah manis.

Sementara itu, individu paruh baya seperti Citra dan Gunawan menemukan kebahagiaan yang mendalam ketika berbakti dan memberikan kontribusi nyata kepada orang tua.

Kebahagiaan Citra muncul dari kemampuannya memenuhi kebutuhan orang tua, sebuah tindakan yang sarat nilai spiritual dan budaya. Gunawan juga merasakan keistimewaan dalam memberikan hadiah ulang tahun kepada orang tuanya. Kedua contoh ini menyoroti bagaimana kebahagiaan dapat ditemukan dalam pemenuhan tanggung jawab dan penghormatan terhadap leluhur, memperkuat nilai-nilai kekeluargaan yang kuat dalam masyarakat.

Fenomena ini juga terlihat pada Iqbal, yang pada usia muda (20 tahun) merasakan kebahagiaan saat mampu memberi hadiah berharga kepada ibunya, menunjukkan bahwa tindakan memberi dan membuat orang tua bahagia adalah sumber kebahagiaan dan kepuasan sejak dini.

Namun, seiring bertambahnya usia, prioritas kebahagiaan bergeser. Bagi Maulana (50 tahun), kebahagiaannya didefinisikan oleh pertemuan kembali dengan saudara yang telah lama terpisah, sebuah pengalaman yang menyentuh inti persaudaraan dan ikatan emosional.

Spektrum

Secara keseluruhan, cerita-cerita ini menggambarkan spektrum kebahagiaan yang luas, namun dengan benang merah yang sama: koneksi manusia dan tindakan altruistik. Baik itu kebahagiaan yang berasal dari menyaksikan kesuksesan generasi muda, memenuhi kewajiban kepada orang tua, atau mempererat kembali ikatan persaudaraan yang lama terjalin.

Semuanya menyoroti bahwa kebahagiaan sejati sering kali tidak ditemukan dalam kepemilikan materi yang bertumpuk. Melainkan dalam interaksi yang bermakna dan kontribusi positif terhadap kehidupan orang lain, terutama mereka yang terikat oleh darah dan kasih sayang. Inilah bagian dari wujud kebahagiaan yang manusia dambakan.*

Mas Imam Nawawi

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *