Home Artikel Kapan Mengubah Diri Sendiri?
Kapan Mengubah Diri Sendiri?

Kapan Mengubah Diri Sendiri?

by Imam Nawawi

Banyak orang tertarik diskusi tentang bagaimana mengubah orang lain. Suatu hal yang percuma sekali kita lakukan. Itulah pandangan dari Rolf Dobelli dalam bukunya “The Art of The Good Life.” Ia merekomendasikan lebih baik mengubah diri sendiri. Dan, segera tanyakan kapan mau mengubah diri sendiri.

Rolf tentu punya alasan, setidaknya dari pengalaman hidup dan fakta-fakta yang ia pelajari. Ia menulis: “Anda tidak dapat mengubah orang lain -termasuk pasangan dan anak-anak Anda. Motivasi untuk perubahan pribadi harus datang dari dalam. Tekanan eksternal maupun argumen rasional tidak akan berhasil.”

Saya juga sering berbincang bersama istri, bahwa mendidik anak tidak bisa dengan “paksaan” sekalipun mungkin orang banyak menerapkan pola itu.

“Paksaan” hanya akan melahirkan sikap sementara bukan perilaku permanen. Karena memang yang kita terapkan pola anak bersikap dengan terpaksa, bukan tersadarkan. Sekalipun metode “memaksa” tetap bisa orang gunakan dalam tempo yang sangat terbatas.

Keteladanan

Menarik sekali penjelasan Prof Didin Hafidhuddin tentang bagaimana mendidik anaknya cinta ilmu.

Baca Juga: Indahnya Alquran Kala Menusuk Hati

Pria murah senyum itu mengatakan kepadaku bahwa ia tidak pernah memerintah anak-anaknya melakukan sesuatu, melainkan ia telah memberikan keteladanan terlebih dahulu.

Bahkan kala mulai tampak ketertarikan dengan apa yang Prof Didin lakukan, anak-ankanya diberi kesempatan untuk terlibat.

Jadi, kalau kita ingin anak kita gemar membaca, bukan perintah yang pertama kali kita berikan. Kasihlah teladan, berikanlah contoh. Mungkin anak tak langsung ikut, tapi alam bawah sadarnya sudah mengatakan, ayah saya suka membaca.

Jadi, kuncinya simpel, sebelum sibuk mengubah orang lain, aktiflah mengubah diri sendiri. Jadilah figur yang mengalirkan energi keteladanan. Bukan sosok yang gemar menyusun kata dengan muatan tuntutan kepada orang lain untuk berubah.

Melangkah

Mengubah diri sendiri artinya melangkah menjadi diri dengan kepribadian lebih baik. Rolf membantu kita dengan beberapa pertanyaan.

“Bagaimana dengan diri Anda?”

“Seberapa banyak Anda berubah seiring waktu?”

“Coba ingat siapa diri Anda (karakter, kepribadian, temperamen, nilai-nilai dan kegemaran) 20 tahun lalu!”

Ketika saya masih santri di Pesantren Hidayatullah Marangan, Loa Kulu, Kutai Kartanegara, tepat 20 tahun silam, saya adalah anak SMA yang kegemarannya membaca dan menulis.

Kebiasaan

Setiap pulang sekolah, terlebih sebelum tidur, saya selalu menyempatkan waktu membaca dan menulis. Sampai sekarang, kebiasaan membaca dan menulis itu terus terawat.

Baca Lagi: Menghidupkan Spirit Pelaku Sejarah

Kebiasaan itu semakin mengakar karena saya terus mendapat dukungan dari guru saya Ustadz Hamzah Akbar. Beliau sering memberikan nasihat: “Terus membaca dan menulis, karena tidak semua orang memiliki kegemaran seperti itu.”

Kini saya bisa bergaul dengan penulis-penulis hebat. Ada Kang Maman Suherman yang bukunya Re: dan Perempuan cetak ulang sebanyak 21 kali. Kemudian ada Mas Reza, yang tak pernah absen dalam diskursus kemasyarakatan yang berkembang.

Bahkan saya punya teman yang hobinya menulis, seperti Bung Ainuddin Chalik, Muh Abdus Syakur, Ustadz Masykur dan lain-lainnya. Orang-orang itu Allah hadirkan karena perjalanan panjang, dua dekade silam.

Lalu apa yang akan saya lakukan untuk 20 tahun mendatang? Menularkan virus untuk orang senang membaca, gemar menulis. Itu berarti saya harus semakin tekun menulis, kian gemar membaca.

Bahkan saya telah dan tengah mengajak diri sendiri dan kawan-kawan muda untuk bersiap memimpin Indonesia 2045.

Dengan cara apa, masuk partai politik? Seperti tema kita pada kesempatan ini, dengan mengubah diri sendiri sampai punya karakter, watak dan perilaku seorang pemimpin yang hebat.

Pemimpin yang punya keteladanan, minimal dalam skill. Sosok yang kata-katanya berbobot. Dan, tidak ada waktu berlalu melainkan ada jejak karya bermanfaat yang ditinggalkan. Kita mulai dari sekarang!*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment