Mas Imam Nawawi

- Kisah

Kang Maman, JNE dan BMH Beri Bukti Nyata Apa itu Kolaborasi

Meskipun saya tidak hadir dalam pengiriman buku dan Al-Qur’an kali ini (Rabu, 26/11/25), rasanya saya seperti duduk dan bersalaman dengan Kang Maman. Pegiat literasi yang begitu antusias menebar cahaya kepada sesama bersama JNE dan BMH. Kegiatan baik itu telah berlangsung selama tiga tahun lebih. Dan, sejatinya Kang Maman sebagai pegiat literasi sudah cukup dengan aksinya […]

Kang Maman, JNE dan BMH Beri Bukti Nyata Apa itu Kolaborasi

Meskipun saya tidak hadir dalam pengiriman buku dan Al-Qur’an kali ini (Rabu, 26/11/25), rasanya saya seperti duduk dan bersalaman dengan Kang Maman. Pegiat literasi yang begitu antusias menebar cahaya kepada sesama bersama JNE dan BMH.

Kegiatan baik itu telah berlangsung selama tiga tahun lebih. Dan, sejatinya Kang Maman sebagai pegiat literasi sudah cukup dengan aksinya menebar cahaya melalui beragam forum dan seminar. Namun, seperti tak mau kehilangan momentum, Kang Maman sangat bersemangat untuk tidak sekadar berbagi ilmu, tetapi juga buku dan Al-Qur’an.

Kang Maman laksana seorang presiden, ia tak mau ada anak bangsa yang kesulitan mengakses buku. Sebab salah satu faktor yang membuat anak-anak tidak membaca, seringkali bukan karena mereka malas membaca. Mereka tidak punya buku untuk dibaca. Terlebih kalau melihat tantangan literasi bangsa, tidak semua tempat bisa mudah dan murah mendapatkan buku.

Saya selalu ingat deskripsi penuh kepekaan dari Kang Maman. Bagaimana anak bangsa mau membeli buku. Kalau seseorang lahir di Polewali Mandar, kemudian harus ke Makassar dengan perjalanan berjam-jam untuk membeli buku, yang harganya pun tak mudah mereka jangkau. Pada saat yang sama mereka harus berjuang untuk bisa makan setiap harinya.

Tindakan Bersama

Kebaikan dari tiga pihak itu: Kang Maman, JNE dan BMH adalah bukti tindakan bersama. Ada ribuan nama yang mendonasikan buku dan Al-Qur’an kami tidak kenal, tapi dari kepedulian mereka tiga pihak ini bisa bersatu. Dampaknya, buku dan Al-Qur’an menjangkau tempat yang kalau ketemu buku dan Al-Qur’an merasa seperti mendapatkan impian.

Sehari atau dua hari setelah pengiriman, teman-teman BMH dari berbagai wilayah akan mengirimkan foto. “Alhamdulillah paket buku dan Al-Qur’an sudah kami terima di Aceh, Kalimantan, Sorong, dan lain sebagainya. Tiga hari setelah itu, foto-foto penyaluran Al-Qur’an dan buku ke tempat-tempat yang kita belum pernah dengar berdatangan.

Saya yang terus belajar mengasah kepekaan, membasuh hati kepada Kang Maman kadang meneteskan air mata. Betapa satu hal yang kita anggap biasa, itu adalah hal luar biasa bagi saudara-saudara kita di pelosok.

Pantas Allah memberikan sebuah pernyataan langsung kepada kita melalui Al-Qur’an. Bahwa Allah menyukai dan mencintai orang-orang yang beriman dan mereka bersatu padu dalam melakukan kebaikan. Yang mereka melakukan itu laksana bangunan yang kokoh tak tergoyahkan.

Ayo Donasi Lagi

Langkah selanjutnya sangat jelas bagi kita, mari kita donasi lagi. Sungguh bacaan (buku dan Al-Qur’an) adalah pendorong kita sampai pada kemajuan.

Saya melihat setidaknya ada tiga hal mengapa donasi buku dan Al-Qur’an akan selalu penting dan relevan.

Pertama, bangsa yang akan maju adalah bangsa yang tradisi membacanya kuat.

Kedua, anak bangsa kita masih banyak yang belum bisa tersentuh oleh kolaborasi tiga pihak ini. Jadi harus terus kita perkuat gerakan kebaikan ini.

Ketiga, kita punya visi bersama: Indonesia Emas 2045. Mewujudkan visi itu tak cukup dengan narasi belaka. Kita butuh aksi bersama, yang tak sekali dan dua kali kita lakukan, tapi berkelanjutan.

Akhir kata, saya sampaikan terimakasih yang tak terhingga kepada seluruh sahabat kebaikan. Terkhusus kepada Kang Maman, kepada Owner JNE, semoga kebaikan ini benar-benar menggerakkan kemajuan umat, bangsa dan negara.*

Mas Imam Nawawi