Home Berita Jilbab itu Agar Malu Terpelihara Bukan untuk Menutupi Malu
Jilbab itu Agar Malu Terpelihara Bukan untuk Menutupi Malu

Jilbab itu Agar Malu Terpelihara Bukan untuk Menutupi Malu

by Imam Nawawi

Belakangan ramai berita tentang ungkapan Jaksa Agung ST Burhanuddin. Ia marah terkait fenomena terdakwa yang mendadak pakai jilbab saat sidang. Koruptor kala korupsi tidak berjilbab, begitu sidang korupsi berjilbab. Semacam ada salah fungsi jilbab. Yang harusnya memelihara malu malah menjadi sarana menutup malu.

Jilbab memang Allah perintahkan agar wanita dapat memelihara mahkota dalam dirinya, yakni iman dan rasa malu. Sebab hal paling mulia dalam diri wanita adalah iman dan malunya.

Penjelasan Nabi Tentang Malu

Rasulullah SAW bersabda, ”Iman itu lebih dari 70 atau 60 cabang, cabang iman tertinggi adalah mengucapkan ‘La ilaha illallah’, dan cabang iman terendah adalah membuang gangguan (duri) dari jalan, dan┬árasa malu┬ámerupakan cabang dari iman.” (HR Bukhari-Muslim).

Jilbab agar wanita menutup aurat. Dan, orang yang menutup aurat tentu akan malu untuk melanggar perintah Allah. Menampakkan aurat saja ia tidak berani apalagi sampai melakukan tindakan tercela, katakan korupsi.

Oleh karena itu, mungkin, bisa jadi pertimbangan, wanita yang bekerja mendapat kelonggaran untuk berjilbab atau bahkan kuatkan dengan dorongan. Dengan harapan dapat memelihara malu, sehingga dapat mencegah diri dari tindakan korupsi.

Pandangan Kiai Cholil Nafis

Atas pernyataan Jaksa Agung RI, KH. Cholil Nafis mengaku setuju.

“Setuju Pak Jaksa Agung RI. Saya dulu bertanya-tanya kenapa terdakwa ke persidangan pakaiannya mendadak kayak orang saleh,” seperti lansir Hidayatullah.com (13/5/22).

Seolah-olah atribut Islam dalam hal ini wanita hanya patut menggunakan jilbab ketika manusia melakukan kesalahan. Padahal tidaklah demikian.

Lebih tegas Jaksa Agung RI mengatakan secara gamblang.

“Makanya saya melarang teman-teman itu di daerah, dulu itu kalau sidang, terdakwa itu pakaiannya, dikasih baju koko, pakai peci, saya marah, Mas. Kok begini, saya bilang, “Ganti.” ucapnya menegaskan.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment