Indonesia kembali dalam kekalutan. Gelombang demonstrasi yang mengguncang berbagai daerah, mulai dari Jakarta, Makassar, hingga Bandung, menjadi cerminan nyata dari akumulasi kekecewaan masyarakat. Seperti yang Mahfud MD tegaskan situasi yang mencekam ini bukan hanya soal kerusuhan dan korban jiwa, tetapi juga alarm keras bagi kita semua, baik masyarakat maupun aparat, untuk tidak kehilangan substansi dari setiap protes yang terjadi.
Pada dasarnya, setiap demonstrasi lahir dari ketidakpuasan. Dan, itulah substansi pendorong mengapa masa melakukan demonstrasi. Sayangnya substansi ini lambat atau mungkin tak terbaca oleh pemerintah dan DPR. Mereka yang seharusnya memahami dan terbuka terhadap hak berpendapat rakyat, justru kehilangan orientasi.
Aparat yang seharusnya bersikap profesional perlahan seperti kehilangan kendali. Hingga berujung pada korban jiwa, meninggalnya Affan Kurniawan yang dilindas mobil rantis polisi.
Alhasil kita harus menyadari bahwa situasinya telah bergeser terlalu jauh. Ini bukan lagi sekadar unjuk rasa, melainkan cerminan dari kegagalan elit dalam mengelola perbedaan dan aspirasi. Namun sayang sungguh sayang, rakyat dan aparat akhirnya yang menjadi korban. Seakan-akan mereka musuh yang harus saling serang.
Akumulasi Kekecewaan dan Sikap yang Tak Berempati
Akar masalahnya tidak tunggal. Mahfud MD menggarisbawahi beberapa poin krusial yang perlu kita renungkan, sebagaimana ia sampaikan di channel Youtube, Mahfud MD Official.
Pertama, ada akumulasi kekecewaan terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang terus-menerus memicu protes di berbagai sektor.
Sayangnya, penyelesaian yang diberikan seringkali tidak tuntas, hanya sebatas “memberi permen.”
Solusi instan ini mungkin meredakan ketegangan sesaat, tetapi tidak pernah benar-benar menyentuh akar persoalan. Akibatnya, masalah serupa kembali muncul dalam wujud dan kebijakan yang berbeda.
Kedua, ada sikap arogan dan kurang empati dari para politisi. Jarak antara pembuat kebijakan dan rakyat yang merasakan dampaknya terasa semakin jauh. Ketika elit politik kehilangan koneksi emosional dengan penderitaan masyarakat, kebijakan yang dihasilkan cenderung tidak berpihak. Ketidakpekaan ini lantas memicu ledakan kemarahan publik yang terus menumpuk, menunggu waktu untuk meledak.
Menuju Kejelasan dan Solusi Substansial
Melihat situasi ini, sudah saatnya kita semua, baik pemerintah, aparat, maupun masyarakat, menenangkan hati dan kembali pada kejernihan pikiran. Fokus kita tidak boleh teralihkan pada kericuhan atau drama politik, melainkan pada inti persoalan yang mendasari semua ini.
Pemerintah dan aparat harus melihat setiap protes sebagai kritik yang membangun, bukan sebagai ancaman. Apalagi memandang kekerasan sebagai jalan yang bisa meredam keadaan.
Dengarkan aspirasi yang disampaikan. Jika ada kebijakan yang bermasalah, segera evaluasi secara transparan dan akuntabel. Hentikan mentalitas “memberi permen” dan mulai hadirkan solusi yang sungguh-sungguh, komprehensif, dan berkelanjutan.
Jauhi Kekerasan
Bagi masyarakat, demonstrasi adalah hak. Namun, ingatlah bahwa perjuangan untuk perubahan harus tetap berada dalam koridor yang benar dan damai. Kekerasan hanya akan mengaburkan pesan yang ingin rakyat sampaikan dan justru melemahkan tujuan perjuangan itu sendiri.
Pada akhirnya, tantangan terbesar kita adalah menemukan kembali empati dan membangun jembatan dialog. Kita perlu kejujuran untuk mengakui kesalahan, kerendahan hati untuk mendengarkan, dan keberanian untuk bertindak.
Hanya dengan kembali ke substansi masalah, kita dapat mengurai kekacauan ini dan membangun masa depan yang lebih adil dan beradab. Konretnya hentikan hedonisme di atas kehidupan rakyat yang susah secara ekonomi. Bersikaplah adil dan empatik serta terbuka dengan setulus hati.


