Hidup yang bahagia adalah yang kita isi dengan semangat menjadi penggerak kebaikan. Mengapa?
Pertama, menjadi baik itu memang membahagiakan. Nabi dan Rasul Allah telah membuktikan dan meneladankan kepada kita. Mereka adalah orang-orang yang menang, bahagia dan termasuk orang-orang yang saleh.
Kedua, kita berada dalam kondisi akhlak dan moral sebagian masyarakat yang kondisinya rusak dan krisis.
Ketiga, hidup kita tidaklah lama. Maka tidak ada yang bisa membuat hidup kita berarti selain daripada “sibuk” melakukan kebaikan demi kebaikan.
Waspada dari Tipu Daya Iblis
Menariknya ajaran Islam, Allah secara gamblang menyebut bahwa musuh nyata kita sebagai manusia adalah Iblis.
Dalam Alquran, Allah abadikan ucapan Iblis yang tidak akan pernah surut dalam menyesatkan kita sebagai manusia dari jalan kebenaran.
“Iblis berkata: ‘Wahai Tuhanku! Karena Engkau telah menjadikan daku sesat, maka aku pasti akan jadikan (kejahatan) tampak indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semua.” (QS. Hijr: 39).
Secara sederhana kita bisa mengambil pemahaman bahwa ketika kita enggan berbuat baik, kemudian lebih milih bertindak tidak benar, maka kita bisa segera sadar, bahwa kita telah terjebak pada seruan Iblis.
Dan, kita perlu segera melakukan perlawanan, karena Iblis menyampaikan itu dengan penuh tekad dan semangat besar besar penuh kebencian kepada kita semua, anak cucu Nabi Adam.
Selagi Mampu, Ayo Sekarang
Ibn Miskawayh, dalam riset Fahmi Arfan: “Menelusuri Jejak Pemikiran Konsep Akhlak Al-Ghazali dan Ibn Miskawayh dalam Aspek Emosi” memiliki rumusan menarik tentang kebahagiaan. Ini penting jadi pemahaman kita untuk bisa sadar dan bergerak.
Pertama, kebahagiaan manusia karena kondisi badan yang sehat dan panca indera yang baik. Dengan kondisi itu maka perbanyak menuntut ilmu, beramal saleh dan melakukan kebaikan-kebaikan.
Kedua, kebahagiaan manusia karena keberuntungan. Seperti punya sahabat yang baik, lingkungan yang kondusif, serta komunitas yang positif.
Ketiga, kebahagiaan karena memiliki keutamaan. Entah itu harta, ilmu atau jaringan, yang semua itu harus kita arahkan pada penguatan kebaikan.
Keempat, kebahagiaan orang yang sukses mewujudkan semua cita-citanya dengan baik. Orang seperti ini harus bersyukur dengan cara mendorong, mengajak dan menarik banyak orang terlibat dalam kebaikan.
Kelima, kebahagiaan karena anugerah Allah berupa kecerdasan dalam berpikir dan memberikan pandangan yang baik bagi orang lain.
Jadi, sekarang coba timbang, mana poin yang paling kuat ada dalam diri kita. Kalau sudah ketemu, meski hanya satu, ayo bergerak. Jadilah penggerak kebaikan. Insya Allah bahagia dunia dan bahagia dalam kehidupan akhirat.*


