Mas Imam Nawawi

- Artikel

Jadi Polisi Masih Diminati?

Sebagian besar masyarakat masih menaruh keinginan kuat berprofesi sebagai polisi. Dua faktor utama tetap menjadi pemicu tinggi, yaitu gaji dan status sosial. Begitu banyak orang ingin menjadi polisi, mantan polisi pun membuat bimbingan belajar untuk bisa masuk jadi polisi. Menurut sebagian pihak itu memang bisnis yang “guriih”. Jadi, wajar kalau banyak yang membuat bimbingan belajar […]

Polisi

Sebagian besar masyarakat masih menaruh keinginan kuat berprofesi sebagai polisi. Dua faktor utama tetap menjadi pemicu tinggi, yaitu gaji dan status sosial. Begitu banyak orang ingin menjadi polisi, mantan polisi pun membuat bimbingan belajar untuk bisa masuk jadi polisi.

Menurut sebagian pihak itu memang bisnis yang “guriih”. Jadi, wajar kalau banyak yang membuat bimbingan belajar untuk bisa diterima sebagai polisi.

Tempo melaporkan tidak kurang dari 100 ribu calon yang daftar polisi melalui Akpol setiap tahunnya. Namun ada saja bimbel yang tidak kredibel.

Masih dalam laporan Tempo, ada peserta yang ikut bimbel dan harus membayar Rp. 400 juta. Orang rela membayar karena ada iming-iming berupa jaminan pasti lolos jadi polisi.

Mantan Polisi

Sisi yang siapapun akan menatap heran, bimbel itu adalah usaha milik mantan polisi bersama istri. Idealnya mantan polisi paham tentang regulasi dan hukum. Tapi demikianlah dunia, silau dan menyilaukan.

Jika orang kehilangan orientasi hidup, pengetahuan tak bisa menjadi benteng kebaikan. Semua runtuh bersama ilusi kesenangan yang sejatinya merugikan.

Kita juga sulit membayangkan, bagaimana kalau cara-cara seperti itu tidak ketahuan, akan semakin buruk dampak yang akan rakyat Indonesia rasakan.

Mengapa?

Pertanyaan mendasarnya adalah mengapa ada orang yang paham hukum justru melanggarnya?

Tulisan ini tak bermaksud mendiskreditkan polisi, baik oknum apalagi institusi. Tapi ini penting untuk kita dapat mengambil pelajaran. Mengapa fenomena seperti itu terjadi?

Secara teori motivasi, manusia memiliki dua motivasi. Yakni intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik mendorong manusia mengedepankan moral. Sedangkan motivasi ekstrinsik bergantung pada aspek yang ada di luar diri manusia. Entah itu uang, kekayaan atau kekuasaan.

Ketika orang lebih tinggi motivasi ekstrinsiknya, maka ia akan menenggelamkan moral dalam hatinya. Ia akan memilih ilusi kesenangan yang merusak itu.

Kemudian aspek amigdala (pusat kendali emosi dalam otak yang menegaskan rasa bersalah) kala seseorang melakukan kesalahan.

Namun ketika orang melakukan kesalahan secara sengaja secara terus-menerus, maka fungsi amigdala akan melemah dan bahkan hilang. Alhasil orang akan merasa berbohong dan atau menipu sebagai bukan kesalahan.

Solusi

Oleh karena itu, hal utama yang harus kita kuatkan adalah kesadaran dan karakter yang baik. Silakan berusaha untuk bisa jadi polisi, tapi tempuhlah jalur yang benar. Jangan terjebak tipuan. Selain biaya mahal, kemudian gagal, rusak pula karakter diri.

Lebih jauh kepolisian sendiri penting untuk menciptakan sistem yang sehat. Sistem yang mencegah secercah peluang pun untuk kecurangan bisa terjadi.

Kita tahu, negara ini butuh peran polisi. Semakin polisi negeri ini bersih, semakin hebat Indonesia. Karena hukum akan tegak dengan adil, ketertiban tercipta dengan penuh kesadaran. Dan, pembangunan akan berjalan secara maksimal. Pancasila pun tegak sebagai tindakan. Bukan teriakan (belaka).*

Mas Imam Nawawi

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *