Bagi sebagian besar orang, syahadat, sholat, zakat, puasa, haji, sudah cukup. Akan tetapi benarkah itu benar-benar kafi? Gus Hamid dalam buku Minhaj menegaskan bahwa mengamalkan syariat tidak menjamin mengubah cara berpikir.
Seorang aktivis pengajian pernah bertutur. “Saya kok merasa ada yang kurang pas dari kehidupan saya ini, Mas. Saya rajin ikut pengajian, majelis taklim, tapi kok rasa-rasanya saya ini suka sekali tidak berakhlak. Gampang marah kalau ada orang nyerobot, berkata yang dasarnya jengkel kalau ada orang gak sesuai harapan.”
Pada sisi lain, saya mendapati sebuah tulisan status media sosial seseorang. “Kok bisa rajin sholat tapi curang dalam berdagang.”
Kasus itu menandakan bahwa sebagian umat ini belum menjadikan Islam sebagai cara pandang. Mereka masih melihat Islam sebatas ritual. Yaitu dalam bentuk penegakan syariat yang hanya rukun Islam.
Gus Hamid dalam mengulas masalah ini juga sama. Ia juga mendapat pertanyaan perihal orang yang cerdas dari sisi akademik, sholeh secara ritual. Tapi pemikirannya mendukung lesbi, khamer, dan lain sebagainya.
Kunci Solusi
Menjadi Muslim yang tak sebatas baik secara ritual, namun juga benar secara cara pandang harus memahami Islam secara keseluruhan.
“Untuk dapat berpikir dengan cara yang benar, seorang Muslim harus dapat memahami syariat Islam dengan baik sebagai sebuah sistem tazkiyatu al-nafs yang mempunyai tujuan (maqasid).

Syariat Islam harus kita jalankan dengan keimanan atau tegak atas akidah. Tanpa akidah syariat tidak mempunyai makna apa-apa.” (halaman: 197). Paparan Gus Hamid mengenai hal ini sejalan dengan apa yang oleh Ustadz Abdullah Said jabarkan dalam menempa para kader-kadernya di Pesantren Hidayatullah.
“Memperbaiki kualitas umat Islam, harus dimulai dari perbaikan kualitas syahadatnya. Di sini kuncinya. Inilah yag perlu dikondisikan lebih dahulu.” (Kuliah syahadat, halaman: 29).
Baca juga : Bahagia dengan perubahan
Akibat dari hal itu, lebih lanjut Ustadz Abdullah Said menegaskan menjadikan sebagian orang salah memahami Islam. Akibatnya Islam dipandang kaku, kurang sesuai dengan kemajuan zaman, kurang cocok untuk zaman semaju sekarang.
Syahadatnya Kemana?
“Masalahnya bukan di situ, tetapi itu semua akibat dari syahadat yang belum eksis, belum mengakar mantap, belum melahirkan kekuatan dasar.” (halaman: 30).
Dengan demikian, menjadi Muslim dan Muslimah tak cukup hanya dengan memperhatikan apa yang telah kita lakukan selama ini dari sisi ritual, tetapi juga mengecek pemahaman terhadap akidah, syariat, sekaligus pelaksanaannya.
Bahkan jauh lebih dari itu, hal yang harus selalu kita renungi adalah apakah benar syahadat telah benar-benar eksis dalam jiwa.
Sebagai contoh, kalau diri tergolong kaya misalnya, sudah adakah rasa bersalah kalau tidak peduli kepada anak yatim dan orang miskin? Jika tidak ada, maka jelas kategorinya pendusta, karena ayatnya terang bicara masalah ini.
Lantas bagaimana kalau diri menjadi pejabat, orang berpengaruh secara kebijakan, tetapi tidak berpikir memajukan rakyat dan umat, sudah barang tentu jihad baginya adalah berpikir keras dan berjuang sungguh-sungguh melahirkan kebijakan yang mensejahterakan rakyat, minimal tak ada yang kelaparan. Allahu a’lam.
Imam Nawawi
Bogor, 11 Syawal 1441 H


