Sore ini saya mendengar ide yang benar-benar segar dan menggetarkan. Yakni tentang apa hakikat dari kepemimpinan syura. Ternyata keunggulannya luar biasa. Mari kita gali lebih dalam.
Ust. Abdurrahman Muhammad, Pemimpin Umum Hidayatullah yang menegaskan perihal penting itu.
Menurutnya kepemimpinan syura adalah benteng dan pertahanan moral. Mengapa demikian?
Namun sebelum itu, kita telaah dahulu dari sisi umum. Secara akademik kita dapat ketahui bahwa kepemimpinan syura adalah manifestasi ajaran Islam untuk menjauhkan pola kepemimpinan yang otokratis. Kemudian mendorong akuntabilitas serta meritokrasi secara lebih dalam.
Secara bahasa, syura memiliki dua pengertian, yaitu menampakkan dan memaparkan sesuatu atau mengambil sesuatu.
Secara istilah Ar-Raghib al-Ashfahani memaknai syura sebagai proses mengemukakan pendapat dengan saling merevisi antara peserta syura.
Mengapa Benteng Moral?
Ust. Abdurrahman Muhammad menegaskan bahwa syura adalah benteng moral. Saya coba melakukan penalaran, mengapa demikian.
Pertama, syura menghendaki kesadaran bahwa musyawarah penting untuk menghasilkan keputusan terbaik. Bukan menurut pendapat satu orang, tetapi kolektif.
Mengacu pada sebuah hadits, bahwa umat Nabi Muhammad SAW tidak akan bersepakat pada kejahatan, maka jelas, musyawarah adalah penetral. Penetral suasana hati dan pikiran yang mungkin selama ini terkungkung oleh prasangka buruk, pikiran negatif dan kebencian.
Kedua, syura melibatkan pandangan dari mereka yang memang paham, punya kepekaan dan kesadaran tinggi akan dampak dari setiap keputusan. Kata Pemimpin Umum Hidayatullah, setiap orang pasti memiliki kebaikan-kebaikan. Kalau kebaikan itu sudah kuat dengan moral, maka artinya orang itu tetap punya kesabaran dan keyakinan. Mengapa kita tidak mau menghargai, begitu kira-kira titik tekannya.
Ketiga, jelas syura menghendaki semua pihak mengedepankan cara berpikir objektif. Berpikir objektif adalah bukti seseorang bisa dan mau membaca dengan baik. Dalam arti lain, membaca itu termasuk mau mendengar pandangan orang lain yang berbeda dengan penangkapan hati yang teduh dan jernih.
Dengan demikian syura tak boleh dan tak memberi tempat pada adanya unsur amarah, benci dan hawa nafsu.
Kelembutan
Syura lebih jauh juga mendorong kita menghidupkan kepekaan, bukan kesombongan. Jadi, orang yang mau bermusyawarah adalah mereka yang jiwanya tenang dan lembut.
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah, kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS. Ali ‘Imran: 159).
Jadi ternyata musyawarah adalah puncak seseorang mampu menahan amarah, mau memintakan ampun orang lain. Subhanallah.


