Mas Imam Nawawi

- Hikmah

Inilah 3 Dasar Keberuntungan yang Hakiki

Setiap manusia ingin meraih keberuntungan. Tetapi keberuntungan yang mana? Karena seperti produk, ada yang original ada pula yang imitasi alias KW, tiruan. Begitupun keberuntungan hidup ada keberuntungan hakiki ada yang ilusi. Keberuntungan yang ilusi itu seperti sugar rush (manis sesaat, lalu akibatnya lemas). Sedangkan keberuntungan yang hakiki seperti stamina, semakin kuat dan tahan lama. Meski […]

Inilah 3 Dasar Keberuntungan yang Hakiki

Setiap manusia ingin meraih keberuntungan. Tetapi keberuntungan yang mana? Karena seperti produk, ada yang original ada pula yang imitasi alias KW, tiruan. Begitupun keberuntungan hidup ada keberuntungan hakiki ada yang ilusi. Keberuntungan yang ilusi itu seperti sugar rush (manis sesaat, lalu akibatnya lemas). Sedangkan keberuntungan yang hakiki seperti stamina, semakin kuat dan tahan lama.

Meski saya telah lama mengenal bahwa Nabi Muhammad SAW adalah orang yang meraih keberuntungan hakiki karena kejujuran, saya tetap kagum ketika melihat hal itu beliau SAW praktikkan dalam berdagang.

Ust. Mansur Salbu dalam buku “Mencetak Kader” menuliskan dengan begitu dalam meski dengan gaya bahasa ringan.

“Menurut cerita Maisaroh (kepada Khadijah ra), kalau Muhammad menjual, dia jelaskan kepada pembeli kenapa ada yang dijual murah ada yang mahal. Dia terangkan dengan kata-kata yang jelas sambil tersenyum. Banyak yang membeli barangnya jauh lebih tinggi dari harganya dengan alasan, ‘Saya bukan membeli barangnya, tapi membeli hati penjualnya.'” (Lihat halaman: 260).

Jadi dasar keberuntungan yang pertama adalah kejujuran. Dalam dunia dagang atau bisnis bahkan dalam seluruh aspek kehidupan, ini adalah akar untuk sukses dan berkembangnya usaha, karir dan berbagai hal lainnya secara positif dan tentu saja berkah.

Fokus untuk Bersungguh-Sungguh

Dasar keberuntungan yang hakiki selanjutnya adalah fokus untuk bersungguh-sungguh (mujahadah). Orang yang bermujahadah adalah sosok yang terus berupaya bebas dari kemalasan, kebodohan dan kerugian. Sebagaimana pandangan sebagian ulama, bahwa mujahadah artinya bisa menundukkan hawa nafsu (Lihat buku “Tuntunan Mujahadah & Acara-Acara Wahidiyah”).

Bahkan mujahadah bagi ulama adalah kunci untuk mendapatkan hidayah. Perhatikan saja orang-orang Quraisy yang memeluk Islam, rata-rata mereka memikirkan dengan mendalam apa kandungan ayat-ayat Alquran. Kemudian merenungi dengan begitu kuat hingga dalam tempo yang panjang untuk mengenali siapa sebenarnya Muhammad.

Namun demikian mujahadah adalah hal yang bisa kita terapkan sebagai sikap mental dalam melakukan apapun yang baik. Dalam hal menulis saya selalu berupaya untuk mujahadah. Belum bisa kualitas setidaknya kuantitas dengan wujud menulis setiap hari.

Ikhlas

Dasar keberuntungan yang ketiga adalah ikhlas. Kata Gus Baha ikhlas itu mudah, sejauh kita memang melakukan apapun niatnya karena Allah. Misalnya, mengajar ilmu, kita semangat bukan karena yang datang banyak. Tapi karena mengajarkan ilmu perintah Allah. “Ya, lakukan saja,” begitu Gus Baha punya argumen.

Sementara itu, Imam Al-Ghazali dalam kitab “Ayyuhal Walad” memberikan makna yang lebih mendalam. Bahwa ikhlas itu kita menjadikan segala amal hanya untuk Allah Ta’ala. Kemudian hati kita tidak merasa senang dengan pujian manusia dan juga tidak peduli dengan kecaman mereka.

Berapa banyak orang yang merasa terangkat kepalanya karena karya-karya dan amalnya mendapatkan pujian. Sedangkan ia merasa terbanting seketika ketika orang meremehkannya. Orang seperti itu adalah orang yang tidak ikhlas alias salah mendedikasikan semua kebaikannya, bukan untuk Allah.

Pada hakikatnya, 3 hal itu adalah teori yang telah lama ada dan terbukti dalam tahap demi tahap kehidupan umat manusia. Oleh karena itu kita perlu memiliki 3 dasar ini. Sebab dalam hal benda saja, orang lebih suka pada yang asli daripada yang tiruan. Lantas kepada keberuntungan, apa iya kita rela mengejar yang palsu.*

Mas Imam Nawawi