Mas Imam Nawawi

- Opini

Ikhlaskan Hati, Tingkatkan Kapasitas: Catatan untuk Pemuda Hidayatullah

Malam ini (10/1/26), saya berdialog melalui sambungan telepon dengan dua anak muda yang baru saja mengemban amanah besar: Bang Hanif dan Bang Adam, selaku Ketua Umum dan Sekjen Pemuda Hidayatullah. Kepada mereka, saya menitipkan doa dan pesan sederhana: ikhlaskan hati. Ikhlas adalah fondasi utama agar pikiran tetap jernih dan tindakan terasa ringan. Mengutip Gus Baha, […]

Ikhlaskan Hati, Tingkatkan Kapasitas: Catatan untuk Pemuda Hidayatullah

Malam ini (10/1/26), saya berdialog melalui sambungan telepon dengan dua anak muda yang baru saja mengemban amanah besar: Bang Hanif dan Bang Adam, selaku Ketua Umum dan Sekjen Pemuda Hidayatullah. Kepada mereka, saya menitipkan doa dan pesan sederhana: ikhlaskan hati.

Ikhlas adalah fondasi utama agar pikiran tetap jernih dan tindakan terasa ringan. Mengutip Gus Baha, ikhlas itu mudah jika kita menggantungkan segalanya kepada Allah. Namun, karena kita berharap kepada Sang Pencipta, konsekuensinya adalah kesungguhan total dalam bekerja.

Upgrade Kapasitas Berpikir

Menjadi pengurus pusat menuntut kesadaran untuk meningkatkan kapasitas intelektual. Ibarat sebuah ponsel pintar yang menerima aplikasi berat masa depan, pengurus tidak bisa hanya mengandalkan “sistem operasi” lama. Mereka harus melakukan upgrade kapasitas agar mampu menjalankan tugas kompleks tanpa mengalami kebuntuan.

Pengurus pusat harus melatih teknik berpikir dalam tiga tahap: membangun pengertian, menyusun kesimpulan, hingga mencapai keyakinan kokoh dalam eksekusi. Di sini, beda pandangan adalah hal wajar, asalkan diperdebatkan secara ilmiah dan rasional, sementara ukhuwah tetap rileks dan hangat.

Kita bisa belajar dari Khalid bin Walid RA. Ia menunjukkan kematangan spiritual dan intelektual saat menerima SK pemberhentian dari Khalifah Umar bin Khattab. Khalid tidak membantah, sebab baginya, berjuang adalah soal pengabdian kepada Allah, bukan soal mempertahankan posisi atau ego pribadi.

Relevansi dan Narasi Masa Depan

Tugas besar selanjutnya adalah menjadikan Pemuda Hidayatullah relevan dengan kebutuhan zaman. Pengurus pusat harus mampu mengemas ide agar berdampak luas. Di sini, kemampuan komunikasi bukan sekadar retorika, melainkan instrumen untuk membangun kolaborasi inklusif.

Kita perlu menggeser kultur dari “me centered” menjadi “we centered”. Merujuk pada pemikiran Brian Tracy dalam “The Laws of Luck”, keberuntungan seringkali adalah pertemuan antara persiapan dan peluang. Artinya, kesadaran untuk berjalan bersama memang lebih penting daripada kebutuhan lainnya yang merusak kebersamaan.

Jika langkah itu terpenuhi, maka kekuatan akan terbentuk dan memancarkan keindahannya. Inilah jalur utama menuju kepemimpinan Indonesia 2045 yang harus disiapkan sekarang, dengan cara-cara yang relevan, konsisten, dan terbuka bagi kemajuan bangsa.*

Mas Imam Nawawi