Home Kajian Utama Ibadah, Bukan Gelisah
Ibadah, Bukan Gelisah

Ibadah, Bukan Gelisah

by Imam Nawawi

Tempo-tempo orang mendengar bahwa tujuan Allah menciptakan manusia adalah dalam rangka beribadah. Namun, mengapa realitanya manusia banyak yang gelisah dan merasa tak bersalah kala tak beribadah?

Ternyata ibadah ini bukan soal gerakan badan dan lisan belaka, tetapi kerja hati mengenal Allah dan mengetahui diri dengan sebaik-baiknya.

Ketika manusia beribadah dan hatinya tidak memahami Allah, maka ia akan sujud di dalam shalat, tetapi tidak di luar sholat.

Hal itu terjadi karena hati manusia adalah raja. Kalau rajanya tidak lantip dalam mengenal Rabb, maka hati ini akan mudah tersambung dengan perkara-perkara selain-Nya. Yang kala semakin senang, malah semakin bimbang.

Baca Juga: Teknologi dan Ibadah

Kata Prof Dr Nadratuzzaman Hosen saat berbincang dengan kami (23/1/24), “Umat ini baru berjamaah dalam shalat tetapi belum dalam kesaksian kehidupan.”

Tuhan Itu

Sekalipun kita mendengar kata Allah, sebagian sepertinya masih sulit menyelami dan menggali apalagi menjelaskan, siapa Allah itu.

“(Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (QS. Al-Muzzammil: 9).

Artinya Allah adalah Tuhan yang menguasai, mengetahui, memiliki, dan seterusnya seluruh alam raya ini. Baik sisi Timur atau Barat, semua dalam genggaman-Nya.

Yang menarik adalah perintahnya kepada kita, “Maka ambillah Dia sebagai pelindung.”

Dalam Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir, makna ayat itu adalah agar kita menyerahkan segala urusan kita kepada-Nya.

Jika kita renungkan dengan mendalam, maka kita akan temukan satu fakta yang menggugah keyakinan, bahwa hanya Allah itu semata yang benar-benar Tuhan.

Jadi, tidak perlu gelisah, bingung. Yang perlu kita lakukan adalah membenahi kualitas ibadah, sehingga hati mudah terkoneksi kepada Allah Ta’ala.

Semu Jangan Nomor Satu

Sekarang kita cek, apa yang membuat manusia mudah gelisah.

Secara garis besar karena dua hal terjadi dalam hati. Pertama, iman yang pudar. Kedua, kecintaan pada perkara dunia yang mengarusutama.

Ketika orang mulai tidak lagi merasa ingin Allah menolong kehidupannya, ia akan melakukan berbagai hal yang menurut rasionya adalah jalan benar.

Semakin hari, saat hati semakin terlepas dari mengingat Allah, maka hatinya mulai membuahkan berbagai macam gelebah.

Sebab ternyata ketenangan bukan pada harta, bukan pula tahta.

Lihatlah bagaimana para penguasa takut sekali kehilangan jabatan. Hatinya terus menerus gelisah.

Sekiranya hati itu ingat kepada Allah, maka ia akan berpikir bagaimana memanfaatkan sisa waktu jabatannya untuk semakin dekat kepada Allah.

Membuat kebijakan-kebijakan yang mendatangkan maslahat bagi rakyat. Bukan malah semakin ingin menggenggam kekuasaan. Ingat, kekuasaan bagi manusia pasti tidak lama.

Oleh karena itu dalam hal mengisi hidup dengan ibadah, kita jangan menomorsatukan perkara duniawi untuk kesenangan pribadi.

Baca Lagi: Kreatif Melihat Indonesia

Jika seseorang telah sampai pada level kesadaran itu, maka ia akan beribadah kepada Allah, bukan hanya pada saat sholat dan atau memperingati hari besar dalam Islam, tetapi benar-benar ibadah dalam setiap gerak langkah hati, pikiran dan perbuatan.*

Mas Imam Nawawi

 

Related Posts

Leave a Comment