Home Artikel Hubungan Baik dan Sukses Seseorang, Kuat Korelasinya?
Hubungan Baik dan Sukses Seseorang, Kuat Korelasinya?

Hubungan Baik dan Sukses Seseorang, Kuat Korelasinya?

by Imam Nawawi

Setiap kita tentu punya hubungan. Orang mengatakan ada hubungan baik, hubungan keluarga atau hubungan kerja. Dan, sebagian ahli memandang bahwa hubungan baik sangat berkorelasi dengan kesuksesan seseorang. Benarkah demikian?

“Keahlian paling dicari dalam diri CEO adalah kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Orang yang bisa melakukannya akan selalu dibutuhkan dalam bisnis,” begitu kata Thomas W. Harrell seperti dikutip John C. Maxwell dalam karyanya “Good Leaders ask Great Questions”.

Hubungan akan terbina dengan baik jika satu sama lain masih bisa menjalin komunikasi. Komunikasi adalah tukar tambah ide, pengalaman, yang satu sama lain saling memahami, mendukung dan menguatkan.

Baca Juga: Merawat Cita-Cita Kita

Dalam kata yang lain, orang yang tidak terampil dalam komunikasi akan bermasalah dalam hubungan sosial. Sayangnya itu adalah satu faktor penghambat orang mudah meraih kesuksesan.

Akhlak

Oleh karena itu Nabi Muhammad SAW memerintahkan kita untuk memperhatikan akhlak. Karena akhlak itu yang akan membuat hubungan satu sama lain terjaga, semakin kuat dan tentu saja bermanfaat.

“Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

Dalam kata yang lain, seorang Muslim, idealnya memang mampu menjaga hubungan baik. Hubungan baik dalam konteks dagang harus ada modal utama: kejujuran.

Ketika terjadi sebuah hal yang tidak terduga, maka tetap bangun komunikasi. Jangan lari!

Misalnya, A meminjam modal kepada B untuk urusan usaha. A yakin usahanya akan lancar, begitu pun B, sehingga mau memberi pinjaman modal. Akan tetapi baru berjalan beberapa saat, prediksi itu tidak terjadi, A gagal dan belum bisa mengembalikan pinjaman modal.

A harus tetap bersikap tenang dan bertanggung jawab. Bangun komunikasi kepada B secara jujur dan terbuka. Dan jangan pernah lari karena ingin melepaskan diri dari kewajiban membayar pinjaman modal.

Sebab jika A memilih lari itu awal dari keburukan lebih besar. Boleh jadi B tidak mengejar, tapi reputasi A sudah tidak bisa lagi orang lihat. Nah, kalau ke depan ada peluang dan A harus bertemu B lagi, maka A pasti tidak akan berani. Ia sadar telah bersikap tidak baik kepada B.

Nah itu baru satu contoh dalam konteks yang spesifik, usaha alias bisnis. Masih bisa kita kembangkan dalam sektor kehidupan lainnya.

Jaga

Hubungan dengan siapapun hendaknya kita jaga. Nabi SAW pernah memberikan nasihat kepada Sayyidina Ali ra. “Wahai Ali, 1000 teman itu sedikit, dan 1 musuh itu banyak”.

Ungkapan tersebut menghendaki bahwa jangan seseorang dari kita memilih untuk bertengkar walau dengan 1 orang. Karena itu akan berdampak menyulitkan, menyusahkan untuk meraih kebaikan-kebaikan.

Kalimatnya 1 orang. Artinya orangnya itu atasan atau bawahan, jangan pernah memilih bertengkar.

Suatu waktu ada seorang dosen senior dengan kekuatannya bisa memengaruhi banyak orang. Satu hari ia mendapat informasi negatif tentang satu orang rekannya, yang posisinya adalah bawahan. Terjadilah pertengkaran.

Singkat kata, sang dosen senior butuh untuk sebuah kepentingan terkait karirnya. Namun semua teman yang tersisa tidak ada yang andal untuk urusan tersebut. Ia ingin menghubungi orang yang pernah ia musuhi. Hatinya menolak, enggan. Karena malu, tidak enak dan lain sebagainya.

Baca Lagi: Loyal itu kepada Nilai, bukan Manusia

Sebuah ungkapan menyebutkan bahwa jika seseorang mampu menjaga hubungan baik dengan siapapun, ia telah menempuh 85% perjalanan untuk sukses. Dan, 90% penyebab kegagalan seseorang dalam kehidupannya adalah tidak menjaga hubungan baik dengan orang lain.

Orang Sukses

Dan, secara empiris kita bisa melihat bahwa orang yang sukses seringkali bukan yang terpandai otaknya (dalam arti dapat nilai ujian A dengan ijazah selalu A). Bukan pula orang yang paling banyak modalnya dalam usaha. Akan tetapi yang paling “pandai dalam bergaul.”

Nabi Muhammad SAW sukses, bukan karena putra konglomerat. Beliau SAW lahir sebagai anak yatim kemudian yatim piatu. Akan tetapi akhlak membuat beliau mampu menjaga hubungan baik dengan siapapun, sampai sukses besar dalam bisnis.

Dalam kata yang lain, hidup ini harus saling memberikan yang terbaik, walau hanya dengan kata-kata. Jangan terjebak suasana apa lagi emosi. Kalau misalnya sampai terjadi, jangan enggan meminta maaf dan mengubah perilaku. Karena kesuksesan itu bukan semata-mata capaian, tapi juga kemampuan diri menjalankan perintah Allah, misalnya: memaafkan orang lain.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment