Home Artikel Hiduplah dengan Penuh Arti
Hiduplah dengan Penuh Arti

Hiduplah dengan Penuh Arti

by Imam Nawawi

Suatu waktu saya membaca secara acak di internet, mulai membaca artikel hingga buku digital. Sampai kemudian saya tersadar akan satu hal, yakni bagaimana hidup ini bisa memberi arti, bahkan bisa penuh arti.

Saya tidak kenal nama seseorang ini, yaitu Corazon Aquino. Tetapi ungkapan dia sangat menarik.

“Aku lebih memilih mati secara berarti daripada hidup tanpa arti.”

Ungkapan itu membuatku siuman akan sosok Bilal Bin Rabah. Saat ia mendapat siksaan sadis, orang mungkin berpikir lebih baik menyerah.

Tetapi Bilal rela menghadapi itu semua, karena ia tahu bahwa walaupun mati karena mempertahankan iman, maka kematiannya itu penuh arti.

Baca Juga: Bermanfaat, Berbahagia

Daripada terus hidup, tetapi menjadi budak selama-lamanya dan tidak menjadi orang yang punya visi menuju Surga.

Langkah Urgen

Lalu apa langkah urgen yang kita butuhkan agar mampu menjadi insan yang hidupnya penuh arti?

Pertama kita memang harus punya visi. Tanpa visi kita tidak akan pernah menetapkan jalan menuju tujuan.

Mungkin pengetahuan seseorang banyak, tapi tanpa visi, maka ia tidak punya tujuan dan jelas, ia tidak memilih untuk melangkah lebih baik.

Namun kita bisa memulainya dengan langkah konkret yang bisa kita mulai sekarang juga.

Misalnya, mulai membuat tujuan bagaimana melakukan pengembangan diri, keluarga, karir, cinta dan kebermanfaatan lainnya.

Saat Bung Karno belajar dan ia sadar Indonesia harus segera merdeka, maka ia kerahkan seluruh kekuatan dalam dirinya untuk melawan penjajahan.

Secara akademik Bung Karno insinyur, tetapi tujuan besarnya mendorong sosok cerdas itu menjadi Presiden Republik Indonesia pertama.

Buya Hamka tidak sekolah, tetapi kesadaran akan urgensi ilmu membuatnya sampai pada level ahli, baik dalam hal keulamaan, kecendekiawanan maupun perpolitikan.

Jika seseorang sampai sekarang masih belum tahu akan kemana, sebaiknya segera duduk tenang dan berpikirlah apa yang hendak dicapai.

Berarti dengan Uang

Tidak bisa kita pungkiri orang zaman sekarang selalu senang dengan uang alias butuh terhadap uang.

Akan tetapi tetap sebuah kesalahan besar ketika orang menomorsatukan uang. Karena uang bukan Tuhan, betapapun orang akan hidup nyaman kalau punya cukup uang.

Lihatlah, betapa banyak orang yang tadinya cerdas, bijaksana, berilmu, seketika menjadi rusak karena menjadikan uang sebagai tuhan?

Baca Lagi: Lelah itu Perlu

Uang adalah dampak positif moral karena seseorang mau dan mampu mendedikasikan diri dengan baik. Entah pada ruang profesional, amal sosial ataupun jasa.

Jadi, kalau kita ingin hidup penuh arti, pastikan tujuan hidup. Kemudian bergeraklah dengan dedikasi terbaik dan moral yang tinggi. Insha Allah uang yang datang akan barokah.

Kalau kita kembangkan pikiran Corazon Aquino. maka kita bisa sebut, “Aku lebih suka uang yang menguatkan karakter positif dalam diriku daripada uang yang menghempas moral dan reputasiku.”

Mungkin ini hanya secuil saran bagaimana kita menjadi insan yang punya tujuan, pendirian, kebahagiaan. Dan, tentu saja bisa memberi arti bagi sesama dan semua.*

Mas Imam Nawawi

 

Related Posts

Leave a Comment