Semua orang mendambakan hidupnya aman. Oleh karena itu apapun orang kejar untuk menggapai rasa aman itu. Umumnya orang percaya dengan uang, maka korupsi pun mereka lakukan. Supaya apa, supaya aman pada hari tua. Padahal umur siapa yang tahu. Kalau mau berpikir sebentar saja, yang bikin aman itu ya Allah. Tetapi, sebagian besar manusia masih terjebak oleh hal-hal permukaan, sehingga akal dan hatinya tidak pernah bisa memahami.
Akibatnya seperti motor yang pemiliknya biarkan diam lebih dari sebulan dan tidak pernah ia nyalakan dan panaskan. Kita bisa tahu hasilnya, motor itu sulit sekali aktif bekerja apalagi melaju sesuai harapan.
Aman Versi Siapa?
Alquran memang luar biasa, mukjizat akhir zaman. Isinya bukan semata bagaimana kognisi manusia hidup, tapi juga akal dan hati bekerja. Oleh karena itu, Alquran tidak saja menghadirkan arahan dan perintah serta petunjuk, tetapi juga bukti dalam wujud kisah.
Orang yang menduga cara hidup aman dengan melanggengkan kekuasaan adalah Fir’aun. Maka siang dan malam ia berusaha menjaga genggaman kekuasaan tetap di tangan. Bahkan ia tega menyembelih bayi laki-laki dari keturunan Yahudi di seantero Mesir kala itu.
Kondisi itu menjadikan akal dan hati Fir’aun membatu. Ia bahkan tidak mengenal lagi apa sebenarnya hakikat dari kehidupan ini. Kedatangan Nabi Musa dianggapnya gangguan tidak perlu dan ia ingin segera menghalau dengan membunuhnya.
Tapi apa yang kemudian terjadi, Fir’aun tenggelam di tengah lautan bersama seluruh balatentaranya. Akhirnya jangankan kekuasaan, nyawanya sendiri pun ia tak mampu menjaganya. Jasadnya diabadikan oleh Allah dan atas bukti itu hendaknya manusia modern sadar, bahwa hidup aman tidak bisa disandarkan pada kekuasaan bahkan termasuk kekayaan.
Baca juga : Kehancuran besar kapan terjadi?
Di sini kita perlu memahami bahwa hidup aman harus benar-benar tepat, singkatnya kalau mau aman, aman versi siapa?
Jangan lagi mau hidup seperti Fir’aun, atas nama kekuasaan melakukan apapun sekehendak hati. Rakyat kecil ia injak-injak, para pemberi nasihat ia sikat, bahkan terhadap kebenaran ia benar-benar menutup hati. Akibatnya, pendengarannya hanya bisa menerima sampah dari pretensi-pretensi manusia kerdil dari kanan dan kirinya.

Aman dalam Islam
“Kami berfirman, “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]: 38).
Itulah hidup yang aman, tenang dan tenteram. Yakni jika mengikuti petunjuk Allah, yakni dengan menjadikan Alquran sebagai pedoman dan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan. Secara praktis, hidup yang aman itu adalah ketika seseorang bisa mengamalkan perintah-perintah pokok dalam ajaran Islam.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal sholeh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]: 277).
Jadi sangat mudah mendeteksi diri kenapa mudah sekali gelisah, tidak tenang dan gundah gulana. Bisa jadi karena memang tidak ada amal sholeh yang dilakukan. Tidak sungguh-sungguh mendirikan shalat. Bahkan bagi yang punya harta kekayaan, apakah benar hartanya sudah dizakati?
Hidup sudah terjebak oleh asumsi permukaan, bahwa kecerdasan yang kita miliki adalah karena usaha pribadi semata, waktu yang ada lebih baik untuk menghimpun uang, dan kala kekayaan ada dalam genggaman, ia memandang orang miskin, meminta-meminta sebagai pemalas, bodoh dan beban kehidupan.
Padahal, tidaklah manusia Allah jadikan berbeda-beda dalam penerimaan rezeki agar satu sama lain bisa saling membutuhkan. Bukankah perusahaan besar membutuhkan buruh dalam jumlah banyak? Kalau semua orang sukses jadi pengusaha, siapa yang akan bekerja secara teknis sebagai buruh?
Jadi, kesimpulannya jelas, hidup ini akan terasa aman, indah, dan membahagiakan, kala kita dalam melihat, berpikir, merasa dan bertindak benar-benar kita bingkai dengan pandangan Alquran. Oleh karena itu, pahamilah Alquran dengan baik dan amalkanlah dengan segera walau berupa perbuatan sederhana. Jika iman landasannya, keberkahan adalah buahnya. Insha Allah.
Mas Imam Nawawi
Tegal, 11 Jumadil Awwal 1442 H


