Hidup kita akan nikmat jika ada niat mau berkontribusi. Itu yang melintas di kepala saat langit mulai senja.
Tiba-tiba ada suara, “Saya besok akan ada pertemuan. Dan, saya harus siap-siap, karena akan mendapat amanah sebagai ketua,” ungkap seorang teman kepadaku.
“Alhamdulillah,” sahutku. Hidupmu memberi arti dan sangat terbuka ruang berkontribusi.
Darius Foroux dalam bukunya “What it Takes to be Free” mengatakan, “And youn and I can make life better by making a contribution.”
Kalimat itu menandakan bahwa kita (atau siapapun) bisa bikin dunia jadi lebih baik, walau cuma dengan melakukan hal-hal kecil yang bermanfaat. Dan, memang demikianlah rumus hidup untuk merasakan nikmat.
Oleh karena itu orang yang egois, individualis, asosial, selalu tidak pernah tenang pikiran dan hatinya. Karena ia selalu berpikir tentang dirinya mendapat apa. Sama sekali atau jarang ia berpikir bisa memberi apa bagi kehidupan.
Makin Rasional
Darius melanjutkan, “We can be more rational and desire less crap“.
Dalam kutipan tersebut, Darius mengajak kita untuk merenungkan gaya hidup kita dan hubungan kita dengan materi. Ia menyoroti kecenderungan manusia untuk terjebak dalam siklus konsumerisme, di mana kita terus-menerus menginginkan dan membeli barang-barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan.
Sikap ini, menurut Darius, tidak hanya berdampak buruk bagi keuangan kita, tetapi juga bagi kesejahteraan mental kita.
Darius mendorong kita untuk menjadi lebih “rasional”. Artinya, kita perlu berpikir lebih jernih tentang apa yang benar-benar penting dalam hidup.
Dengan mengurangi keinginan kita akan “crap” atau barang-barang yang tidak esensial, kita bisa lebih fokus pada hal-hal yang memberikan makna dan kebahagiaan sejati. Hidup dengan lebih sederhana dan mindful memungkinkan kita untuk menghargai apa yang kita miliki, mengurangi stres, dan menemukan kedamaian batin.
Dalam skala lebih besar, hal yang tak penting berupa barang itu bisa kita luaskan menjadi segala bentuk pemikiran dan keinginan yang destruktif bagi diri dan orang lain.
Ketua RT
Coba perhatikan orang yang mendapat kesempatan jadi ketua RT selama 6 tahun. Kalau ia rasional dan ia ingin merasakan hidup nikmat, ia tidak akan mencari-cari muka untuk bisa terus menjadi RT sampai mati. Cukup ia berpikir, bekerja dan berdedikasi dengan baik selama mendapat kesempatan menjadi RT pada periode pertama.
Ia akan sibuk menjadikan waktu dan energinya sebagai media menghadirkan kebermanfaatan luas bagi rakyat dalam lingkup RT-nya. Dan, orang yang seperti itu tidak saja nikmat masa hidupnya. Anak dan cucunya juga akan sangat berbahagia, bangga dan meneladaninya.
Orang yang rasional dalam pengertian ini bukan yang anti spiritual, tetapi justru menerapkan nilai-nilai Ilahiyah.
Baca Juga: Belajar Saja Ada Proses, Masak Iya Politik Main Instan!
Sebab fokusnya adalah kepada hal-hal yang penting. Dan, bagi orang yang beriman rasionalitasnya bukan hanya dunia, tetapi juga menembus akhirat. Dalam kata yang lain ia takut berbuat buruk karena itu akan mengganggu nasibnya di hari akhir.
Perbanyak Aksi
Berkontribusi artinya memberi. Kita akan menjadi orang terbaik jika bisa memberi manfaat terbanyak, terbaik, dan terdepan.
Dan, untuk menjadi orang yang ada pada level itu, kita tidak cukup hanya berharap, bermimpi, berbicara, apalagi menanti. “All useless without action.” Semua itu tidak akan ada artinya tanpa aksi.
Oleh karena itu usai memahami bagaimana cara hidup nikmat, dengan benar-benar berkontribusi, tugas kita selanjutnya adalah aksi, aksi dan aksi. Islam mendorong kita setelah beriman adalah beramal shaleh. Artinya take action.*


