Mas Imam Nawawi

- Hikmah

Hadapi Ujian Walau Berat, Itulah Kunci Kemenangan

Zona nyaman, banyak orang tahu itu tidak baik. Namun berapa orang yang sangat menyukai dan menikmatinya. Padahal rumus hidup untuk bisa meraih kemenangan mesti bertemu ujian yang tidak ringan. Tak perlu teori rumit yang tersimpan dalam buku dan literatur perpustakaan universitas untuk memahami ini. Kita hanya butuh menghidupkan mata hati. Perhatikan masa Rasulullah SAW saat […]

Ujian

Zona nyaman, banyak orang tahu itu tidak baik. Namun berapa orang yang sangat menyukai dan menikmatinya. Padahal rumus hidup untuk bisa meraih kemenangan mesti bertemu ujian yang tidak ringan.

Tak perlu teori rumit yang tersimpan dalam buku dan literatur perpustakaan universitas untuk memahami ini. Kita hanya butuh menghidupkan mata hati.

Perhatikan masa Rasulullah SAW saat hijrah. Itu bukan perjalanan biasa. Perencanaan, ketelitian dan kewaspadaan dan ketawakalan menjadi bagian tak terpisahkan. Meski begitu, kafir Quraisy mengerahkan pasukan yang lebih dari cukup untuk menangkap Rasulullah SAW.

Ujian itu Bisa Dilalui

Dalam teori di atas kertas, Nabi SAW harusnya tertangkap. Tapi dalam realitas, siapa yang sabar dan ikhlas, Allah yang akan menyelamatkan. Rasulullah SAW dan Abu Bakar lolos dan tiba di Madinah dengan selamat. Padahal Nabi sempat bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari.

Abu Bakar Ash-Shiddiq bahkan pernah sangat takut. Lalu Rasulullah SAW menenangkan dengan ungkapan dahsyat. “Jangan takut, sesungguhnya Allah bersama kita.”

Sejarawan merekam, momen di Gua Tsur itu Allah kirimkan laba-laba untuk segera memintal jaring sebagai rumah di mulut gua. Sedangkan seekor burung membuat sarang seakan-akan gua itu tak mungkin dimasuki manusia.

Demikianlah Allah, menolong orang yang sabar. Dan, hikmah dari peristiwa itu adalah, kemenangan besar selalu hadir setelah ujian yang tidak kecil.

Refleksi

Sekarang, coba tarik hikmah itu ke dalam hidup kita masing-masing. Apakah kita orang yang fokus pada nilai dan tujuan mulia dalam hidup ini?

Menjadi Muslim bukan perkara mudah. Kita akan bertemu dengan ujian yang memaksa diri tetap memegang nilai Islam atau mengabaikannya.

Beberapa orang muda pernah berkata kepadaku, bahwa dirinya sudah bosan hidup miskin harta. Apa konsekuensi dari kalimat itu? Ia pun menjadi pemuda yang memburu kedudukan.

Bayangkan kalau Rasulullah SAW memilih takut, berhenti, dan tidak menjadikan hijrah sebagai lompatan meraih keberhasilan hebat, mungkin kata Madinah tidaka akan pernah kita dengar.

Dalam kata yang lain, jangan mudah lelah. Karena kemenangan itu milik pribadi yang visioner, konsisten dan teguh keyakinan. Mungkin secara sosial, orang tak memberi penghargaan sebagaimana orang yang kaya dan punya kedudukan.

Pribadi Menang

Tapi perhatikanlah, dunia ini selalu merekam baik pribadi yang punya jejak kebaikan karena nilai. Bukan mereka yang kesana dan kemari hanya untuk makan-makan, lalu bercerita dan mengira dirinya hebat.

Bukankah nama Bung Hatta berkibar karena ia memilih hidup biasa bahkan untuk beli sepatu pun tak kuasa?

Apakah kita ragu, orang senang menyebut nama M. Natsir karena ia hidup sangat sederhana. Bahkan jasnya pun pernah bertambal?

Lebih jauh, delegasi Indonesia ke Mesir kala itu: Agus Salim, Rasjidi, dan AR Baswedan, mereka terbang dengan sepatu yang lusuh dan tas yang robek. Apa makna dari semua fakta itu?*

Mas Imam Nawawi

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *