Home Kajian Utama Gempa “Jembatan” Kiamat?
Gempa “Jembatan” Kiamat?

Gempa “Jembatan” Kiamat?

by Imam Nawawi

Gempa kembali terjadi, kali ini mengguncang Sumedang, Jawa Barat (31/12/23). Sebanyak 14 desa terdampak dan gempa susulan terjadi berulang kali. Lalu apa sebenarnya gempa itu? Pernahkah kita menghitung gempa yang terjadi selama 2023? Dan, benarkah gempa itu “jembatan” hari Kiamat?

BMKG mencatat bahwa Indonesia telah mengalami gempa sebanyak 10.789 kali sepanjang 2023 dengan berbagai magnitudo dan kedalaman. Jumlah itu merupakan yang tertinggi dari rata-rata tahunan yang biasanya sekitar 7.000 kali gempa.

Kalau mau kita renungkan 7.000 kali gempa atau 10.789 kali gempa itu banyak atau sedikit?

“Kiamat tidak akan datang sebelum dicabutnya ilmu, terjadinya banyak gempa, terasa cepatnya waktu berlalu, munculnya fitnah-fitnah, banyaknya huru-hara yaitu pembunuhan hingga air menjadi berlimpah di tengah-tengah kalian dan kemudian meluap (banjir).” (HR. Bukhari).

Baca Juga: Sempatkanlah Membaca Walau Hanya 5 Menit

Kita garis bawahi kalimat “terjadinya banyak gempa.” Kalau kita mengatakan 7.000 atau 10.789 itu banyak, berarti Kiamat memang tidak akan lama lagi?

Gambaran

Terlepas apakah jumlah itu banyak atau tidak, satu hal yang pasti, gempa adalah gambaran perihal datangnya hari Kiamat.

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya goncangan pada hari kiamat itu adalah kejadian yang sangat besar.” (QS. Al-Hajj: 1).

Tafsir Al-Muyassar menerangkan, hendaknya kita bertakwa kepada Allah, karena pada hari Kiamat, kengerian-kengerian akan terjadi. Bumi mengalami goncangan dahsyat, hingga seluruh sisinya terpecah belah. Kita sungguh tak mampu membayangkannya.

Yang kita harus paham adalah, pertama, gempa itu telah terjadi dan berkali-kali hingga 10 ribu kali lebih. Kedua, Alquran membahas perihal goncangan yang besar dan mengerikan.

Artinya dalam nalar kita, Kiamat itu pasti terjadi. Miniaturnya telah sering menyapa bumi, yaitu gempa. Lantas, mau apa kita dalam hidup ini?

Syukur

Mau apa kita dalam kehidupan dunia sekarang ini?

Jadilah apapun yang baik untuk diri kita. Entah itu mengajar, berdagang, berpolitik atau apapun. Tapi satu hal, pastikan diri terus bersyukur.

“Saya masih kurang uang,” kata seorang anak muda. “Begitu juga, saya masih belum selesai kuliah,” sambung yang lain. “Pun, saya masih belum jadi presiden.”

Ucapkan kalimat apapun, yang pasti kita mesti bersyukur.

Mengapa? Tidak lain karena Allah jadikan bumi tempat kita tinggal tidak bergoncang.

Ketika kita bangun pagi dan bumi tenang maka bersyukurlah. Sungguh orang yang kini mengungsi, kehilangan tempat tinggal bahkan jiwa dari orang yang dicintainya tahu bahwa tenangnya bumi itu adalah nikmat luar biasa.

Kabar terupdate sampai saat tulisan ini saya buat, korban jiwa gempa di Ishikawa Jepang, telah mencapai angka 50 orang.

Baca Lagi: Senyum Tulus Menggugah Syukur

Dalam kata yang lain, saat kita hidup dalam ketenangan, bumi tidak bergoncang, maka mari memperbanyak ketaatan (sebagai wujud syukur) sebelum tiba sesuatu yang pasti datang dan itu benar-benar mengerikan. Yakni hari Kiamat.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment