Matahari belum menampakkan sinarnya, tapi sebuah pesan masuk ke ponselku. “Aku diajak ketemu A. Katanya silaturahmi. Tapi saya kalau ingat A, tak ada kebaikan yang bisa membuatku menjadi lebih baik.” Ia menunggu jawabanku. Tidak lama saya membalasnya. “Fokus saja pada yang membuatmu menjadi baik dan lebih baik.”
Jika cahaya dalam hati kita masih lemah, maka kita harus bertemu dengan orang-orang yang bisa menjadikan cahaya itu besar. Bisa bersinar terang, minimal bagi kehidupan kita sendiri.
Dalam kata yang lain, jangan temui orang yang akan membuat cahaya kebaikan dalam diri padam. Kita harus sadar, kalau belum bisa mewarnai lingkungan, jangan bermain-main dalam pergaulan.
Kata Gus Baha, kalau engkau sedang sumpek, jangan keluar rumah. Karena sunnahnya bertemu orang lain itu kita tersenyum. Kadang tak bertemu dengan orang, apalagi yang “destruktif” itu jauh lebih baik bagi hidup kita sendiri.
Seperti orang yang kelelahan, tak harus ia berolahraga. Karena memaksakan kehendak malah mengundang hal tak terduga.
Tajamkan Kebaikan Kita
Hidup yang kuat dan membahagiakan adalah yang mengantarkan kita punya fokus. Ketika kita sudah tahu ada kebaikan yang bisa kita tekuni, maka tajamkanlah.
Fokuskan semua energi kita untuk menghidupkan cahaya kebaikan itu. Bahkan kita harus menggunakan cahaya itu untuk menyaring semua hal yang baik dan perlu kita lakukan.
Setiap orang akan kehilangan arah jika semua hal dilakukan. Seperti matahari, ia fokus bersinar. Dan, bumi, fokus menyerap semua energi dari semesta, sehingga segala kehidupan bisa hadir.
Bumi tidak punya waktu mengurus kehendak angin. Begitu pun matahari, ia tak peduli dengan komentar manusia. Bahwa hari ini terasa panas. Bahkan kalau pun manusia berteriak, mana matahari, jemuranku belum kering.
Seperti kisah seorang pembuat roti yang selalu beristighfar kala melayani pembeli dan membuat adonan. Amalan yang “kecil” itu akhirnya menjadikan semua doanya terkabul. Termasuk kala ingin bertemu dengan ulama hebat, luar biasa, Ahmad bin Hanbal. Itulah kekuatan energi yang difokuskan.
Kuatkan Alasan
Hidup kita bukan semata rutinitas. Kita butuh alasan, makna untuk menjalani sebuah aktivitas. Biarkan orang datang, kita tak perlu heboh untuk menyambutnya. Kecuali orang itu adalah yang hidupnya memberi “hujan” bagi banyak orang. Jika hanya bisa membakar, maka jauhi. Sekali lagi jauhi.
Temanku itu kemudian menjawab. “Ok, saya akan melakukan kegiatan amal ini hari ini.”
Begitulah hidup. Lakukan apa yang membuat nyala kebaikan dalam hati semakin menyala. Jangan biarkan ada gangguan datang.
Kalau tampak gangguan, maka jangan menangis. Hadapi dan lalui dengan sepenuh hati. Engkau melakukannya dengan harapan Allah membantumu. Itu yang kamu perlukan dan kamu mesti fokuskan.*


