Home Opini Etika, Akar Soal Pertama?
Etika, Akar Soal Pertama?

Etika, Akar Soal Pertama?

by Imam Nawawi

Saat adzan Subuh tak lama lagi berkumandang, di hari Senin (5/2/24) yang cukup dingin bagiku, mataku menyapu tulisan Prof. Naquib Al-Attas yang judulnya “Islam dan Sekularisme.” Ia membayankan bahwa etika menjadi akar masalah pertama yang umat Islam hadapi.

Artinya, walaupun suatu umat atau bangsa berhasil membina fisik, infrastruktur dan lain sebagainya. Akan tetapi gagal mengembangkan jiwa manusianya, maka itu tidak akan mendatangkan apa-apa selain paluan pada banyak sektor.

Lihatlah bagaimana tol lulus membentang, namun biaya kuliah justru dunia kampus yang menyarankan untuk mahasiswa gunakan jasa utang.

Perhatikan bagaimana perilaku para elit negeri yang telanjang mempraktikkan permusuhan dan begitu loba dengan kekayaan dan kekuasaan.

Lantas mereka menilai etika sebagai utopia. Apa untungnya pakai etika, begitu mungkin cara berpikirnya.

Baca Juga: Etika Berkumpul dengan Teman, Berbisik, Berkata Baik atau Diam?

Selama soal itu, yang kita sebut etika, tak benar-benar kita kemas, maka semua pembangunan, hanya akan menyenangkan hati orang-orang kaya yang buta nurani. Yang miskin tetap tak punya akses, kesempatan, apalagi perubahan.

Pesan Prof Naquib

Untuk bisa menertibkan cara berpikir bangsa ini, kita harus tahu secara pasti apa yang sedang terjadi.

Menurut Prof Naquib Al-Attas adalah karena hadirnya pemimpin yang tak layak.

“Kemunculan pemimpin-pemimpin yang tidak layak untuk kepemimpinan yang sah bagi umat Islam, yang tidak memiliki taraf moral, intelektual dan spiritual yang tinggi yang disyaratkan untuk kepemimpinan Islam,..”

Mengapa pemimpin yang tak mustahak itu bisa hadir dan berkuasa?

Tidak lain karena terjadinya kekeliruan dan kesalahan dalam ilmu.

Kemudian adanya kehilangan adab (the loss of adab) di kalangan umat. Itulah dua sebab suatu kaum dipimpin oleh sosok yang tak semestinya.

Bentuknya

Lebih lanjut Prof Naquib Al-Attas menunjukkan bentuk-bentuk dari hilangnya adab.

Yakni mulai dari hilangnya disiplin-disiplin rata, disiplin pikiran dan disiplin jiwa.

Disiplin kata Al-Attas menuntut pengenalan dan pengakuan atas tempat yang tepat bagi seseorang dalam hubungannya dengan diri, masyarakat dan umatnya.

“Hilangnya adab menyiratkan hilangnya keadilan, yang pada gilirannya menampakkan kebingungan atau kekeliruan dalam ilmu.”

Dalam kata yang lain, untuk membawa negeri ini pada pembangunan yang semestinya, maka kita butuh masyarakat mengenal apa itu etika dan bagaimana tetap menjadi insan beradab.

Karena tanpa adab, semua nilai kebaikan akan jadi “musuh” bagi mereka yang menjadikan uang dan jabatan sebagai tuhan. Sedangkan rakyat, intelektual dan ulama, akan terus hidup dalam keterpinggiran.

Ide dan seruan soal etika mereka tidak akan menjadi komitmen para pemimpin yang ada. Justru perlahan-lahan, rakyat, intelektual dan bahkan mungkin ulama akan terseret pada cara berpikir yang destruktif.

Baca Lagi: Galabah dari Dunia Kampus

Sebab tidak ada kata penyusunan bagi manusia-manusia yang telah kehilangan adab. Kemudian merasa nyaman dengan kondisi tanpa adab seperti itu.

LIhatlah bagaimana fenomena MK yang disusul MK MK. Dan, itu hanya puncak gunung es belaka.

Pertanyaannya, siapa yang hendak menegakkan negeri ini dengan etika yang kokoh agar lahir pemimpin yang mustahak?*

Mas Imam Nawawi

 

Related Posts

Leave a Comment