Home Artikel Etik yang Tak Berkutik
Etik yang Tak Berkutik

Etik yang Tak Berkutik

by Imam Nawawi

Baru-baru ini soal etik kembali mencuat. Namun sayang kesan yang tertangkap soal etik malah semakin tak berkutik. Etik hanya jadi polesan supaya ada kesan semua bekerja secara cantik, meski sudah benar-benar memudarkan daya tarik publik.

“Hasyim Asy’ari sebagai teradu 1 terbukti melakukan pelanggaran kode etik dan pedoman perilaku penyelenggara Pemilu,” kata Ketua DKPP Heddy Lugito saat membacakan putusan sidang di Jakarta, Senin (5/2/2024).

Namun jangan dahulu berlega dada, sebab, pelanggaran etik itu hanya diikuti oleh sanksi biasa. Terkesan tidak ada taji, meski level pengingkarannya adalah pelanggaran etik.

“Menjatuhkan sanksi peringatan keras terakhir kepada Hasyim Asy’ari selaku teradu 1,” sambung Heddy.

Baca Juga: Cerita Bersama Tentang Cita-Cita

Jadi, pelanggaran etik itu hanya cukup mengundang sanksi berupa peringatan keras terakhir. Publik mungkin bertanya, mengapa tidak lebih tegas?

Berbeda dengan KPUD

Berbeda dengan KPUD, mereka yang melanggar kode etik langsung dapat sanksi pemberhentian.

Seperti anggota KPU Kabupaten Banjar, Abdul Karim Omar; dan anggota KPU Kabupaten Maros, Mujaddid. Keduanya mendapat sanksi pemberhentian. Demikian kalau kita baca berita dari Kompas.id.

Lalu mengapa dengan KPU Pusat, Ketua KPU hanya dapat peringatan keras terakhir?

Seperti kehidupan keluarga, apakah DKPP sedang bertindak “pilih kasih” terhadap “anak-anaknya” yang bernama KPU antara Pusat dan Daerah?

Prinsip

Etika bagi Franz Magnis Suseno adalah bagaimana negara, penguasa, memandang kemanusiaan dan keberadaban sebagai subjek yang ikut memberi kontribusi pada penegakan nilai moral. Bukan sebagai hambatan apalagi musuh yang harus dihancurkan.

Baca Lagi: Menalar Etika dalam Demokrasi, Benarkah Telah Buyar?

Ide Suseno itu penting, karena kebanyakan penguasa gagap terhadap etika, terlebih kala ingin melanggengkan kekuasaan. Padahal, tanpa etika, seseorang sedang mempertaruhkan integritas dan kemanusiaannya sendiri.

Lebih jauh, sebelum kita hidup di era sekarang ini, etika telah lama jadi pedoman, referensi, petunjuk tentang bagaimana pribadi menjadi penguasa yang baik, bagaimana negara mensejahterakan rakyat dan seterusnya.

Dalam kata yang lain, melecehkan etika sebenarnya adalah langkah menjerumuskan diri sendiri. Dan, dalam konteks Pemilu, yang jadi taruhan adalah rakyat Indonesia. Nah, apakah kita masih mau etik terus tak berkutik?*

Mas Imam Nawawi

 

 

Related Posts

Leave a Comment