Home Kisah Dunia dalam Pandangan Ikan di Kolam
Dunia dalam Pandangan Ikan di Kolam

Dunia dalam Pandangan Ikan di Kolam

by Imam Nawawi

Pernahkah kita berpikir, bagaimana cara terbaik mengenal dunia ini dengan seutuhnya. Untuk menjawab itu saya teringat akan kondisi ikan di dalam kolam pada 3 Juli 2017 silam. Mungkin sebagian besar orang mengenal dunia sebatas itu. Mungkin ya!

Soal ikan dalam kolam itu terjadi beberapa tahun silam. Saat senja, dengan menikmati singkong goreng angin semilir saya hanyut dalam renungan mendalam.

Sambil sesekali melempar bagian singkong yang kupegang ke kolam, benakku bertanya tak biasa, kira-kira apa ya arti dunia ini bagi ikan-ikan di kolam.

Jawaban pun bermunculan satu persatu, tentu saja jawaban subjektif dan spekulatif, tapi tetap kurasa bisa diterima akal siapapun.

Bagi ikan yang berada dalam kolam itu sejak kecil, maka dia tidak akan mengerti dunia, selain yang mengitarinya saat ini. Boleh jadi, ikan itu akan menjawab, inilah dunia, sebatas dinding kolam dan sebanyak jenis makanan yang pernah mereka tahu.

Baca Juga: Tuhan Begitu Mesra dengan Kita

Tentu akan ada jawaban lebih variatif, jika sebagian ikan yang ada sebelumnya pernah hidup di akuarium atau kolam lain tentu akan ada pandangan luas. Ikan itu akan memiliki sudut komparasi. Walakin jika sebatas tentang luas tempatnya hidup, jenis makanan dan tentu saja sisi-sisi apa yang berbeda dengan kolam saat ini.

Sebatas yang Dialami

Bagi ikan di kolam ini, dunia adalah yang dialaminya.

Lantas timbul pikiran berikutnya dalam benakku. Kalau engkau ingin tahu dunia lebih banyak, cobalah tanya dunia dalam pandangan ayam, kucing, capung, burung, kupu-kupu, lebah, semut, dan binatang lainnya di sekitar rumah dan kolam ini yang kerap hadir bersilaturahmi denganmu juga.

Sebanyak apapun binatang yang kutanya tentang apa dunia ini, tentu saja jawabannya adalah perkiraanku sendiri meski coba dihadirkan dengan sudut pandang binatang-binatang itu, tetapi tetap saja, itu bukan jawaban objektif.

Sekarang, aku ingin mengetahui apa jawaban akalku tentang dunia ini.

Tanpa hidayah, manusia akan memandang dunia, sebagaimana binatang memandang hidupnya, sebatas pada tempat hidup, makanan dan kesenangan.

Seperti ikan di kolam ini. Dalam satu kesempatan, abang di rumah menawariku memancing. Kurasa, tawaran yang boleh dicoba, meski sudah sangat lama tidak lagi memancing, terlebih kurasa ini patut dicoba setelah beberapa jam menghabiskan paruh waktu pertama hari itu dengan membaca dan menulis.

Memang bukan ahlinya dalam memancing, tapi beberapa kali kailku mendapat perhatian ikan-ikan dalam kolam itu. Beberapa yang masih kecil, kulemparkan kembali ke kolam itu.

Baca Lagi: Indahnya Alquran Kala Menusuk Hati

Dan, setelah kejadian itu, beberapa kali kailku bergerak-gerak tanda ada ikan kecil itu juga yang memangsa. Meski aku tak tahu persis apakah ikan itu yang pernah menyambar umpan sebelumnya.

Kesadaran

Dalam hal ini, dapat kupahami, bahwa ikan itu tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, yang dia inginkan adalah jika ada makanan, maka sambar saja. Soal bagaimana nanti, memang ikan tak punya kapasitas untuk memahami apalagi mengantisipasinya.

Pada momentum ini kutemukan jawaban, bahwa jika dalam hidup ini, cara kita berperilaku sama seperti ikan di kolam, bisa binasa kita.

Apalagi kalau setiap ada kesempatan sikat, ada peluang hantam, ada keuntungan bungkus. Tanpa peduli halal-haram. Mungkin kita bisa senang beberapa saat untuk selanjutnya berjalan pada garis ketentuan Tuhan, yakni menerima konsekuensi perbuatan diri sendiri, cepat atau lambat.

Maha Suci Allah yang memerintahkan kita untuk berdzikir dan berpikir, sesungguhnya segala yang ada di sekitar kita sendiri sudah cukup memberikan nasihat ilmiah, bahwa hidup kita harus tunduk pada hukum Tuhan.

Segala sesuatu yang mengingkari ketentuan Tuhan, hanya mengundang tawa binatang, tumbuhan, bahkan alam semesta.

“Ah kamu, Dul, hidup cuma 60 tahun, gak pernah mau mikir. Kamu kira kamu berjalan kemana? Coba sini, “ngobrol” sama aku, kuberitahu kamu, apa yang kusaksikan dari tingkah laku manusia sebelummu di tempatmu ini, kamu pasti akan memilih hidup dengan apa yang banyak orang baca di masjid-masjid itu,” imajinasiku memberikan ledekan atas sikap manusia yang angkuh, sok paham, dan merasa dunia seperti akan berjalan sesuai kehendaknya.

Alhamdulillah, Maha Suci Allah yang mengantarkanku senja itu ke tepi kolam, dan memberikan percikan pemikiran tentang dunia ini lewat makhluk-Nya yang sama-sama kita sebut ikan.

Semoga Allah teguhkan iman di dalam hati ini hingga ruh bertemu ajal untuk tunduk bahagia menemui-Nya, aamiin.

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment