Home Kisah Diskusi Hangat di Zoom: dari Soal Pemuda, ZIS hingga Palestina
Diskusi Hangat di Zoom: dari Soal Pemuda, ZIS hingga Palestina

Diskusi Hangat di Zoom: dari Soal Pemuda, ZIS hingga Palestina

by Imam Nawawi

Malam Minggu, anak muda biasanya ngapain? Alhamdulillah saya sangat beruntung bisa hadir dalam diskusi zoom bareng kaula muda (jumlahnya tidak begitu banyak). Bahasannya hangat perihal pemuda, ZIS dan Palestina.

Selain saya ada juga Bang Fahmi Bahreisy dari Al-Irsyad dan Mbak Novi Nusaibah, Humas dari Forum Zakat Indonesia. Saya sendiri menjadi pemapar terakhir dalam kajian online itu.

Dua Fakta Pemuda

Saya memulai uraian dengan tema pemuda. Saya memberi alat ukur dari sisi masa (waktu) yakni pemuda masa pra kemerdekaan dan pemuda masa kini.

Baca Juga: Menggali Mutiara Hidup dari M. Natsir dan Abdullah Said

Dalam waktu pra kemerdekaan itu kaum muda Islam Indonesia aktif membaca, sehingga mereka bisa menakar dengan tajam perihal apa yang akan terjadi dalam konstelasi global dan apa yang perlu mereka lakukan untuk mewujudkan Indonesia merdeka.

Saya seringkali menyampaikan, bagaimana anak muda Indonesia kala itu, yang listrik belum ada, buku terbatas, tetapi gairah membacanya sangat tinggi. Lebih dari itu mereka hidup dengan cita-cita, bukan pragmatisme pribadi.

Pemuda masa kini, kita sama-sama tahu, sebagiannya, kalau ada kesempatan, lebih baik segera duduk di jabatan tinggi dengan gaji besar.

Padahal, sebagai pemuda masa kini kita punya PR, bagaimana kejayaan dahulu kita kembalikan. Kemudian, bagaimana kita mampu mengentaskan umat dari kemunduran, ilmu dan teknologi. Dan, mampu menjawab tantangan keumatan, dari ekonomi, sosial, hingga peradaban.

Bagaimanapun pemuda masa kini harus sadar dan bergerak. Karena perubahan hanya mungkin hadir dari gerakan kesadaran dan perjuangan kaum muda. Sejarah mencatat selalu begitu.

Soal ZIS

Tentang ZIS (zakat, infak dan sedekah) umat Islam dan kaum mudanya mesti sadar bahwa ini adalah sumber kekuatan empirik paling nyata.

Pada 2022, potensi zakat Indonesia mencapai angka Rp. 327 triliun. Sedangkan APBN untuk perlindungan sosial di 2022 senilai Rp. 431,5 triliun.

Artinya dari sisi zakat saja, umat Islam bisa berbuat banyak. Pertanyaannya mengapa itu selalu menjadi potensi?

Saya melihat mungkin karena soal zakat ini hanya jadi konsen Baznas dan Laznas. Anak muda tidak melakukan kajian perihal zakat ini.

Seharusnya, kaum muda juga punya perhatian terhadap zakat. Yang bisa dengan narasi khutbah maka ia melakukannya. Pemuda yang cakap dalam hal menulis, maka ia menguraikan perihal zakat ini dengan baik. Lebih dari itu, yang bisa bersuara dalam organisasi, susunlah gerakan penyadaran membayar zakat, agar potensi itu jadi nyata.

Lebih jauh dari pendekatan kelembagaan, sudah seharusnya Baznas, Laznas dan lembaga lainnya yang konsen dalam zakat, infak dan sedekah, mulai bertemu, sinergi dengan anak muda, dalam hal ini adalah organisasi kepemudaan.

Kemudian untuk menghasilkan para entrepreneurship muda ke depan, sebagian pendayagunaan zakat juga perlu didesain untuk kaum muda mendirikan pabrik tahu dan tempe, serta air mineral. Itu adalah komoditi yang setiap hari banyak orang butuhkan.

Orang-orang kaya juga perlu kita edukasi, agar mereka tidak perlu repot membuat yayasan sendiri, kemudian bingung di tengah jalan dan terabaikan apa yang telah dibangunnya.

Palestina

Terhadap Palestina, anak muda Indonesia mesti terbuka wawasan, literasi dan kesadarannya. Bahwa soal Palestina itu bukan urusan politik yang kini masuk babak konflik.

Soal Palestina adalah soal peradaban dunia. Yang mana setiap bangsa punya hak untuk hidup merdeka. Artinya yang Palestina alami sekarang adalah bentuk penjajahan. Konstitusi Indonesia menghendaki itu kita terus perjuangkan.

Lalu, bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa lebih baik kita mengurus Indonesia dan tidak perlu peduli kepada Palestina. Bukankah Israel juga punya hak hidup?

Baca Lagi: Mumpung Masih Muda

Menjawab hal itu, M. Natsir telah memberikan jawaban berupa analogi yang cerdas.

“Dulu ketika Netherland Indies Civil Administration (NICA), menduduki wilayah Indonesia seperti Semarang dan Surabaya, dan bangsa Indonesia berpencaran mengungsi, menyelamatkan diri, apa tepat jika dikatakan; “Wah tentara NICA itu berhak hidup. Kasihan dia, mentang-mentang orang Surabaya dan orang Semarang itu orang Islam, apa kita musti bantu dia itu, dia orang Nica itu berhak hidup!”

Jadi, soal Palestina bukan soal konflik, tetapi penjajahan. Dan, terhadap penjajah, apakah kita bisa santai saja menghadapinya?*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment