Salah satu manfaat membaca buku itu, kita bisa berdialog dengan penulisnya. Ketika buku Lembaga Budi karya Buya Hamka saya baca, seakan-akan saya bertemu dan bertukar pikiran dengannya. Nikmat sekali bukan?
Apalagi buku itu menguraikan banyak hal, terutama budi bagi kita sebagai manusia. Mulai budi yang mulia hingga renungan tentang budi.
Seberapa pentingkah budi dalam kehidupan ini? Dalam pendahuluan, Buya Hamka menegaskan bahwa budi itu akar kebangkitan. Kalau seseorang sudah bisa teratur berpikirnya, baik arah gerakannya, maka itu adalah bagian dari tanda bangkitnya budi.
Lebih dalam, Buya Hamka menjelaskan bahwa manusia itu idealnya mampu mengaktifkan akal dan pikirannya.
3 Kerja Akal Budi
Lebih lanjut, orang berbudi adalah yang dalam setiap keputusannya selalu berangkat dari pertimbangan akal pikiran.
“Pikiran itu menyesuaikan di antara tujuan (ghayah) dan jalan mencapai tujuan (wasilah), serta dipikirkannya pula akibat yang diterimanya bila pekerjaan itu dia kerjakan.”
Kalimat Buya Hamka tentang pikiran yang menghubungkan tujuan (ghayah), cara (wasilah), dan akibat adalah representasi ilmiah dari perencanaan rasional dan pengambilan keputusan. Ini mencakup tiga kaidah utama dalam ilmu berpikir.
Pemikiran Berorientasi Tujuan
Otak kita secara alami menetapkan apa yang ingin dicapai. Ini adalah fondasi dari setiap tindakan sadar.
Kemudian Analisis Cara-Tujuan
Setelah tujuan jelas, pikiran akan mencari bagaimana mencapainya. Ini melibatkan pemecahan masalah dan penentuan strategi.
Selanjutnya Antisipasi Konsekuensi
Kemampuan krusial untuk memprediksi dampak dari suatu tindakan sebelum dilakukan, memungkinkan kita menimbang risiko dan manfaat.
Strategi Implementasi
Setelah mencoba memahaminya, meski baru pada pendahuluan dan bab awal, kita dapat mengambil nasihat itu secara dekat. Dalam arti seakan-akan Buya Hamka ingin kita menjalankan petuahnya.
Pertama, dalam hidup ini kita harus bisa memberikan definisi tentang tujuan. Artinya, kita mesti selalu mulai dengan menetapkan apa yang kita inginkan dengan sangat jelas.
Kedua, kita penting merencanakan cara, metode. Tak boleh berhenti. Kita mesti menemukan berbagai jalan untuk mencapai tujuan tersebut, jangan terpaku pada satu metode.
Ketiga, kita mesti juga memikirkan akibat. Jadi sebelum bertindak, memprediksi konsekuensi dari setiap pilihan kita, baik positif maupun negatif, untuk diri sendiri dan orang lain.
Dengan menerapkan tiga langkah ini—menetapkan tujuan, merencanakan cara, dan mempertimbangkan akibat—kita dapat membuat keputusan yang lebih cerdas dan bertindak lebih bijaksana dalam setiap aspek kehidupan. Dalam bahasa Buya Hamka, kita akan menjadi manusia yang berbudi.*
