Home Kisah Di Pengungsian Saya Menulis
Di Pengungsian Saya Menulis

Di Pengungsian Saya Menulis

by Imam Nawawi

Di pengungsian saya menulis. Inilah nikmat yang Allah berikan kepada saya dalam momentum ini, yang tidak lama lagi akan memasuki masa pergantian tahun.

Entah mengapa hati ini selalu bahagia kala akan bertemu dengan hamba-hamba Allah yang tahu dan merasakan bagaiman Allah memberi nikmat dalam bentuk bencana. 

Boleh jadi karena dua hal. Pertama, rasa syukur para pengungsi. Sekalipun ada yang kehilangan rumah dan harta benda bahkan jiwa, mereka yang tertimpa musibah ternyata lebih siap menghadapi kenyataan.

Saya merasakan sendiri bagaimana kala makan malam bersama di dalam tenda, mereka tetap ceria. “Sudah ada yang mengatur, Allah tahu segalanya,” kata seorang warga kepada saya kala itu.

Baca Juga: Terus Alirkan Kebaikan untuk Cianjur

Barusan saya sempat berbincang dengan seorang warga berusia 66 tahun. Ia menuturkan kisah terjadinya gempa dan rumahnya hancur dengan senyum rela.

“Waktu mau kejadian, saya tidak bisa tidur. Padahal biasa kalau sudah sholat Dhuhur saya istirahat. Hari itu saya tidak mau tidur. Tidak lama gempa datang, saya pun berlindung. Alhamdulillah, semua selamat, tapi rumah rata,” ungkapnya sebelum adzan Isya berkumandang hari ini (30/12).

Kepedulian

Alasan kedua tidak lain adalah besarnya perhatian, kepedulian dari kaum Muslimin. Sebab rasanya tidak pantas diri datang ke lokasi bencana namun tidak membawa bantuan kepada mereka yang Allah uji dengan musibah.

Jadi setiap kedatangan saya ke tempat-tempat bencana pernah terjadi adalah dalam misi mulia, menyampaikan amanah kaum Muslimin. Dalam bahasa teman-teman, amanah kebaikan para donatur atau muzakki.

Nah, ketika saya datang bersama teman-teman, maka senyum sumringah para warga akan menyungging. Mereka senang bukan karena kami membawa makanan atau bantuan lain. Tetapi karena kami sudah mereka anggap layaknya saudara.

Dalam kasus Cianjur ini, teman-teman BMH tidak pernah mau lepas. Sampai-sampai mereka yang tinggal di pengungsian diberlakukan jadwal pergantian per pekan.

Seperti malam ini, kami seperti keluarga yang lama tak pulang. Penduduk menyediakan makanan, minuman. Kemudian anak-anak satu persatu menyapa, mengucap salam dan bersalaman.

Keindahan

Bagi saya menuliskan momentum ini juga sebuah kebahagiaan. Karena ada cerita, persaudaraan dan harapan. Kami sering berdoa kalau melihat anak-anak pengungsi, semoga Allah berikan mereka kemampuan belajar yang baik dan menjadi pemimpin masa depan.

Menariknya dalam pengungsian ini selalu ada hamba-hamba Allah yang senang datang. Beraktivitas membantu para pengungsi, bterinteraksi dan tentu saja mencoba menyelami keindahan hidup penuh syukur dalam segala jenis keterbatasan.

Baca Lagi: Yang Membahagiakan

Selain Laznas BMH ada juga teman-teman dari Pondok Roja Hidayatullah Sukoharjo. Baru tiba saya sudah ditembak untuk podcast oleh teman-teman relawan Roja. Saya berkata, siap jadi host. “Oh jangan, Ustadz. Jenengan narasumber.”

Insha Allah besok, pukul 16.00 – selesai di Kampng Pasir Gombong, Desa Sukamulya, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur ini Laznas BMH akan menggelar perhelatan doa akhir tahun. Sebuah upaya untuk bersama menguatkan tekad tetap peduli, berbagi dan bersaudara.*

Mas Imam Nawawi

 

Related Posts

Leave a Comment