Mas Imam Nawawi

- Opini

Desakan Lapar dan Panggilan Kemanusiaan di Tapanuli Tengah

Dua judul berita yang saya baca hari ini, 30 November 2025, benar-benar menghentak kesadaran. “Terisolasi 5 Hari, Warga Tapanuli Tengah dan Sibolga Sumut Mulai Krisis Makanan” dan “Bantuan Belum Sampai, Warga Terpaksa Jarah Minimarket”. Narasi ini bukan sekadar laporan jurnalistik, melainkan jeritan putus asa saudara sebangsa yang tengah bertaruh nyawa. Bayangkan kondisinya. Sejak Selasa, 25 […]

Desakan Lapar dan Panggilan Kemanusiaan di Tapanuli Tengah

Dua judul berita yang saya baca hari ini, 30 November 2025, benar-benar menghentak kesadaran. “Terisolasi 5 Hari, Warga Tapanuli Tengah dan Sibolga Sumut Mulai Krisis Makanan” dan “Bantuan Belum Sampai, Warga Terpaksa Jarah Minimarket”. Narasi ini bukan sekadar laporan jurnalistik, melainkan jeritan putus asa saudara sebangsa yang tengah bertaruh nyawa.

Bayangkan kondisinya. Sejak Selasa, 25 November 2025, banjir bandang dan tanah longsor meluluhlantakkan wilayah Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga.

Bencana ini memutus total akses mereka dari dunia luar. Listrik mati, jaringan internet hilang, dan jalanan tertutup material longsor. Selama lima hari, mereka terkurung dalam gelap dan ketidakpastian.

Ketika perut lapar tak lagi bisa diajak kompromi dan bantuan belum kunjung tiba, naluri bertahan hidup mengambil alih.

Kita tidak bisa serta-merta menghakimi tindakan penjarahan yang terjadi pada Sabtu kemarin sebagai kriminalitas murni. Itu adalah tanda bahaya bahwa krisis pangan di sana sudah mencapai titik nadir. Mereka butuh makan, dan mereka butuh sekarang.

Harapan Tetap Menyala

Beruntung, di tengah kekalutan itu, harapan tetap menyala. Hidayatullah melalui Laznas BMH, bersama tim SAR dan Pos Dai, tidak tinggal diam. Mereka langsung bergerak menembus medan sulit untuk menjangkau lokasi bencana.

Sinergi ini hadir bukan hanya membawa logistik, tetapi juga membawa pesan bahwa masyarakat Tapanuli Tengah dan Sibolga tidak sendirian. Meski demikian tim dari SAR Hidayatullah harus memilih jalur Subulussalam, Aceh Singkil, kemudian masuk ke Tapanuli Tengah dan Sibolga.

Kekuatan Solidaritas

Kehadiran relawan Hidayatullah dan BMH di lapangan menjadi bukti nyata kekuatan solidaritas. Mereka berpacu dengan waktu, memastikan setiap paket makanan sampai ke tangan warga yang paling membutuhkan sebelum keputusasaan memicu masalah sosial yang lebih besar.

Namun, perjuangan mereka belum usai. Skala bencana yang besar menuntut dukungan yang lebih masif. Kita, yang saat ini masih bisa menikmati kenyamanan rumah dan makanan hangat, memegang kunci untuk meringankan beban mereka. Jangan biarkan saudara kita menunggu lebih lama dalam lapar dan cemas.

Mari kita dukung langkah nyata BMH dan Hidayatullah. Kepedulian kita adalah energi bagi para relawan dan nyawa bagi para penyintas. Saatnya kita hadir, mengubah rasa prihatin menjadi aksi nyata untuk memulihkan Tapanuli Tengah dan Sibolga.

Sementara itu BMH dan Hidayatullah juga telah bergerak membantu penyintas banjir di Sumatera Barat. Mereka mengirimkan bantuan berupa bahan pokok dan makanan siap saji.*

Mas Imam Nawawi