Mas Imam Nawawi

- Artikel

Dakwah Keluarga: Membangun Benteng Jiwa di Era Digital

Seringkali kita terjebak dalam definisi sempit bahwa dakwah hanyalah aktivitas publik. Kita membayangkan podium, kerumunan massa, atau konten media sosial yang viral. Padahal, ada ruang dakwah yang jauh lebih sunyi namun memiliki dampak ledakan peradaban yang luar biasa, yakni dakwah di dalam keluarga. Oleh karena itu Islam memiliki perhatian serius ke dalam keluarga. Salah satunya […]

Dakwah Keluarga: Membangun Benteng Jiwa di Era Digital

Seringkali kita terjebak dalam definisi sempit bahwa dakwah hanyalah aktivitas publik. Kita membayangkan podium, kerumunan massa, atau konten media sosial yang viral. Padahal, ada ruang dakwah yang jauh lebih sunyi namun memiliki dampak ledakan peradaban yang luar biasa, yakni dakwah di dalam keluarga.

Oleh karena itu Islam memiliki perhatian serius ke dalam keluarga. Salah satunya adalah dorongan agar para suami atau ayah benar-benar bisa memastikan keluarganya selamat dari api neraka.

Kesadaran ini mendesak untuk kita tumbuhkan kembali. Terutama bagi seorang ayah, tugas mendidik bukan sekadar sampingan setelah lelah bekerja. Rasulullah SAW memberikan komparasi yang sangat menohok logika kita:

“Pengajaran seseorang pada anaknya lebih baik dari (ibadah/pahala) sedekah satu sha.’” (HR. At-Tirmidzi).

Mengapa mendidik anak lebih unggul dari sekadar memberi materi? Karena sedekah harta itu satu kali habis manfaatnya bagi penerima. Namun, mendidik anak adalah membangun mata air kebaikan yang terus mengalir.

Investasi Abadi

Mari kita renungkan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 261. Allah menjanjikan satu benih tumbuh menjadi tujuh bulir, dan tiap bulir berisi seratus biji. Jika sedekah harta saja memiliki efek multiplikasi yang dahsyat, bayangkan jika kita berhasil mencetak anak, istri, dan keturunan yang shalih.

Kita penting belajar dari Nabi Ibrahim, beliau mampu membangun keluarga yang semuanya tidak saja baik, tapi juga punya semangat tinggi dalam dakwah.

Mereka bukan hanya menjadi ahli sedekah, tetapi juga menjadi aktor perbaikan zaman.

Jadi, inilah letak strategis dakwah keluarga. Kita tidak hanya beramal sendirian, tetapi kita sedang melahirkan generasi yang akan melipatgandakan amal-amal baik itu di masa depan.

Menjawab Krisis Jiwa

Urgensi dakwah keluarga ini menemukan momentumnya saat kita melihat realitas hari ini. Anak-anak kita hidup di era digital dengan tantangan yang tidak main-main. Mereka harus berinteraksi di dunia maya, bergaul secara global, namun di sisi lain rentan rapuh secara mental.

Data berbicara jujur dan menyakitkan. Survei I-NAMHS 2022 menunjukkan 15,5 juta remaja (34,9%) memiliki masalah kejiwaan. Bahkan, WHO menyebut 1 dari 7 anak usia 10-19 tahun mengalami gangguan mental. Mereka cemas, depresi, dan kehilangan arah.

Pertanyaannya, bisakah anak-anak kita selamat dari badai gangguan mental ini jika ayahnya absen dalam pendidikan jiwa mereka?

Layanan kesehatan mental bagi anak sejatinya berawal dari rumah. Ketika fungsi dakwah dalam keluarga berjalan maksimal—ada dialog, ada penanaman nilai, ada keteladanan—maka jiwa anak akan tumbuh kokoh. Dakwah keluarga adalah imunisasi terbaik menghadapi racun dunia digital.

Maka, sudah saatnya kita pulang. Jadikan meja makan dan ruang keluarga sebagai mimbar dakwah paling utama. Sapa istri dan anak kita, tatap mereka dan berikan perhatian mendalam agar mereka menjadi pelaku-pelaku dakwah di masyarakat.

Sungguh upaya menyelamatkan satu jiwa di dalam rumah kita, hakikatnya adalah menyelamatkan masa depan peradaban itu sendiri.*

Mas Imam Nawawi