Home Artikel Cermat dan Teguh Pendirian
Cermat dan Teguh Pendirian

Cermat dan Teguh Pendirian

by Imam Nawawi

Hari ini kita berada pada masa yang informasi datang begitu banyak dan dari berbagai sisi. Dalam menghadapi situasi itu kita memerlukan cara menyikapinya. Yakni dengan cara cermat dan tetap teguh pendirian.

Teguh dalam bahasa agama bisa kita pahami sebagai sikap sabar. Teguh dalam menuntut ilmu, teguh dalam memegang komitmen hidup. Dan, sabar dalam menghadapi segala situasi dan kondisi yang tidak mudah.

Kata teguh bisa juga merujuk pada kata “tsabat” yang artinya sabar, teguh, tidak bosan dan tidak risau.

Baca Juga: Jangan Pernah Krocokan Pikiran Anda Sendiri

Makna teguh juga bisa berarti telaten, menikmati semua pilihan hidup dnegan segala konsekuensinya dengan hati yang lapang.

Kisah Bani Israel

Bicara keteguhan ada kisah yang Alquran paparkan.

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 63).

Ayat itu mengisahkan bahwa sikap teguh itu mengambil janji dengan penuh kesungguhan, perhatian dan kecermatan, sehingga dapat berkomitmen dengan janji-janji itu.

Jika kita menetapkan pilihan hidup sebagai guru, berpegang teguhlah pada dedikasi terbaik dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Melakukan semua hal terutama untung rugi secara cermat. Tidak semata mementingkan hari ini tetapi juga mencermati kerugian dan keuntungan pada masa depan.

Cermat

Kalau diri ingin teguh dalam iman dan Islam, langkah berikutnya adalah benar-benar mampu berpikir secara cermat.

Misalnya, soal uang. Siapa yang tidak butuh uang dalam kehidupan ini.

Akan tetapi fakta tentang uang itu disikapi dengan cermat, sehingga tidak bergerak sebagai hamba dinar dan dirham, akan tetapi sebagai pembawa solusi umat dengan kekuatan dinar dan dirham.

Kecermatan seperti apa? Yakni kecermatan yang menjadikan hati tak mencintai harta dunia secara berlebihan yang dapat menimbulkan kebinasaan.

Alquran sering menyebut nama Fir’aun. Mungkin ia merasa sukses menjadi raja di raja. Namun ia tidak cermat sehingga akhirnya merugi luar biasa.

Baca Lagi: Inilah Hukum Hidup Sukses

Prinsipnya, semua harus kita timbang, kita cermati dengan iman. Hanya cara itu yang membuat siapapun bisa teguh (istiqomah) dalam ajaran Islam.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment