Dalam kehidupan sehari-hari yang penuh dengan perbedaan dan tantangan, seringkali kita berhadapan dengan konflik yang memerlukan penanganan bijak.
Lihat saja berita-berita kriminal yang terjadi, sebagiannya karena respon cepat seseorang atas sebuah kejadian yang memperturutkan amarah dalam dadanya.
Dan, sebagian orang juga masih mudah bersikap salah saat melihat realitas atau peristiwa yang tak mereka sukai.
Beruntung pagi tadi (23/3/24) saya mendapatkan kisah inspiratif dari Ustadz Hamim Thohari yang menjadi narasumber dalam kajian zoom bersama murabbi wilayah Kalimantan.
Kisah itu menggambarkan bagaimana Nabi Muhammad SAW menunjukkan kebijaksanaan dalam mengatasi konflik dengan cara yang lembut dan mendidik serta visioner.
Kencing
Ustadz Hamim Thohari membagikan perspektifnya tentang sikap Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi perilaku tak terduga dari seorang badui.
Badui tersebut, dengan tindakan yang mengejutkan, memasuki masjid dan tanpa rasa malu melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan, yaitu kencing.
Reaksi spontan dari sahabat-sahabat Nabi adalah marah dan ingin menghukum badui tersebut karena tindakannya yang mereka nilai tidak pantas.
Namun, dengan kebijaksanaan yang tinggi, Nabi Muhammad SAW mencegah sahabat-sahabatnya untuk bertindak kasar.
Nabi mengerti bahwa badui tersebut bertindak demikian bukan karena niat buruk, melainkan karena ketidaktahuan tentang aturan yang berlaku dalam Islam.
Baca Juga: Senja dan Kelembutan Allah Ta’ala
Dalam logika sebagian orang, mungkin menghajar badui itu dipandang tepat. Namun, itu tidak menjadi pilihan Nabi kepada mereka yang awam dan tidak mengerti Islam.
Pelajaran
Dalam kisah ini, Ustadz Hamim menarik sebuah pelajaran penting tentang cara Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi masalah.
Nabi tidak hanya fokus pada masalah yang terjadi, yakni perbuatan badui tersebut, tetapi juga pada solusi yang mendidik dan menyebarkan nilai-nilai dakwah.
Nabi mengajarkan untuk segera membersihkan tempat yang tercemar tersebut dan memperlakukan badui itu dengan rasa kasihan atas ketidaktahuannya, bukan dengan hukuman atau kekerasan.
Pelajaran yang dapat kita ambil dari cerita ini sangat relevan dengan kehidupan kita sehari-hari, yang mana terkadang kita cepat bereaksi dengan emosi tanpa mencoba memahami latar belakang dan alasan mengapa seseorang melakukan kesalahan.
Lembut
Kisah ini mengajarkan kita bahwa dengan pendekatan yang lembut, penuh kasih sayang, dan berusaha memahami, kita bisa menyelesaikan konflik dan pada saat yang sama menyebarkan nilai-nilai positif.
Baca Lagi: Nasihat Menggugah Bunda Aisah
Melalui praktik Nabi Muhammad SAW, kita diajak untuk merefleksikan sikap kita dalam menghadapi perbedaan dan konflik.
Dengan menempatkan empati dan kebijaksanaan di depan, kita dapat membangun komunikasi yang lebih baik dan lingkungan yang harmonis, sesuai dengan jati diri Islam yang penuh rahmat bagi semesta.
Kita akhirnya paham, masalah itu kita temukan akarnya dan selesaikan. Selebihnya biarlah cahaya Islam yang memancar, bukan ke-aku-an yang belum tentu orang butuhkan.*


