Cerdas cermat jelas itu lomba dalam sekolahan. Rasanya semua orang mengetahui hal itu. Tetapi sadarkah kita bahwa sebenarnya cerdas cermat juga berlangsung dalam kehidupan kita sehari-hari?
Orang mungkin paham, ya, kita harus rajin dan disiplin. Jangankan untuk masuk surga, untuk dapat uang banyak pun kita harus berlomba. Tapi jangan dengan korupsi caranya. Sebab itu keluar arena namanya. Sudah bukan lagi perlombaan, tapi keburukan. Nah, berlomba dalam kebaikan inilah yang harus kita ikuti dan kita gencarkan.
Lebih dalam, kalau kita perhatikan dalam bentuk kajian modern pun, jika tidak dijiwai oleh ajaran islam pasti tidak akan mampu melihat dunia secara tepat. Oleh karena itu pertumbuhan, bagi mereka sebatas harta, perolehan, dan apapun lah isitilah yang tepat. Mereka lupa bahwa setelah dunia ada akhirat. Puncak dari setiap perlombaan manusia akan menemui hasilnya.
Baca Juga: Ini Cara Agar Sehat Holistik
Dalam sifat dasar dunia, tentu itulah yang orang sebut perkembangan. Dalam Islam itu pun jelas perlu dengan catatan untuk menebar rahmat Allah ke seluruh bumi. Bukan menggenggam seperti orang zaman sekarang, yang mana ada satu orang kekayaannya selevel 10 negara berkembang yang jumlah rakyatnya bisa tembus setengah miliar orang.
Orientasi
Menarik kalau kita cermati apa yang menjadi paparan pakar hukum Tanah Air, Zainal Arifin Muchtar perihal analisisnya terhadap orientasi kepemimpinan Bapak Jokowi pada periode kedua ini.
“Segeralah nikahi publik untuk sisa empat tahun ke depan ini karena orientasi presiden adalah kepentingan publik, bukan pertain politik. Kalau berkaca kepada Amerika, kutukan di periode kedua ini bisa terjadi karena kepemimpinan mengalami disorientasi pada kepentingan politik langsung,” ujar Zainal Arifin Mochtar saat berbicara di Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa malam, 20 Oktober 2020.
Dalam bahasa tasawuf, redaksinya jauh lebih sederhana. Dan, ini berlaku kepada siapapun, bukan semata presiden.
“Bukalah mata jasmani dan mata hatimu lebar-lebar terhadap dunia yang selalu mengecoh. Hadapilah dengan penuh waspada. hawa nafsu harus dikendalikan dan diarahkan untuk mengabdi kepada Allah semata.”
Bagaimana dunia mengecoh? Ialah ketika diri mendapat berbagai nikmat dan karunia, lantas diri lupa dan terikat lantas mau diperbudak oleh nikmat dan karunia itu sendiri, sehingga diri lupa dan lalai dari mengingat Allah. Akibatnya lupa semuanya, lupa niat, lupa bahkan kalau diri adalah pemimpin yang mestinya tanggung jawab terhadap diri dan siapapun yang di bawah kepemimpinannya.
Tingkatkan
Ini berarti kecerdasan diri harus kita tingkatkan, dari memandang banyak harta dan tahta sebagai kesuksesan, sebagai hal yang mesti “kita waspadai” dan “kita evaluasi” setiap hari. Salah-salah, bisa disorientasi.
Baca Juga: Jadilah Produsen Gagasan
Sementara itu, terhadap keadaan sulit, kita pun harus memandang secara cerdas dengan melihat betapa kalau kesulitan itu kita lalui dengan tabah, sabar dan etos jihad, kebaikan pasti akan Allah berikan baik dalam kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Jika ini bisa kita lakukan, maka insha Allah, dunia akan tunduk kepada diri, bukan malah diri yang tunduk kepada dunia. Allahu a’lam.
Depok, 9 Rabiul Awwal 1442 H
Mas Imam Nawawi
