Home Kisah Buang Malas, Ingat Umur yang Terbatas
Buang Malas, Ingat Umur yang Terbatas

Buang Malas, Ingat Umur yang Terbatas

by Imam Nawawi

Sabtu malam, saya tiba di rumah pukul 21:22 WIB. Kemana saja? Saya beruntung mendapat amanah BMH menemani Kang Maman menghadiri acara Festival Literasi di Pasar Kemis, Tangerang, banten (29/6/24). Letih dan lesu sudah menyerang seluruh badan. Tetapi saya menemukan kisah, seorang wanita yang diceritakan oleh seorang ulama mampu menulis 6 jilid kitab dengan tangannya. Lalu di akhir tulisan wanita itu menulis, “Jika ada kesalahan dalam penyusunan kata dalam kitab ini, mohon dikoreksi. Itu karena saya menulis dalam keadaan menyusui”. Menyadari perjuangan wanita itu, saya pun memutuskan untuk menulis. Buang malas dan ingat umur yang berharga sekaligus terbatas.

Baca Juga: Buruknya Pemimpin Tuli

Seseorang yang sadar betapa umur berharga memang akan membuang rasa malas. Rasulullah SAW itu dalam 24 jam, seluruhnya produktif. Ulama terdahulu juga demikian.

Mereka yang ahli ilmu tak pernah mau berhenti mengajar dan menulis. Bahkan karya mereka bisa begitu tebal dan sarat ilmu. Padahal kala itu menulis tidak seperti sekarang, yang tinggal ketik atau bahkan bersuara melalui smartphone.

Sekarang kondisinya berbalik. Semua mudah, semua murah, namun tak semua benar-benar memburu berkah dengan ketekunan dalam memanfaatkan umur secara benar. Sebagian besar malah mudah terkena malas. Bayangkan guru besar zaman sekarang ada yang karya-karyanya bermasalah, diduga berbau plagiarisme.

Seburuk-buruk Kemalasan

Seorang anak bisa kita maklumi kalau dia malas. Karena memang akalnya belum utuh. Meski begitu seorang anak tak boleh kita biarkan meleder. Karena itu akan menjadi tabiat dan karakter.

Namun, kalau ada orang dewasa juga mudah sekali teledor, maka itulah sebab dari segala keburukan demi keburukan dalam kehidupan umat manusia. Seorang pemimpin yang tidak menghargai kritik cerdik pandai, pasti akan celaka. Pun demikian orang yang tak mau berpikir akan terus merugi dan sengsara.

Imam Syafi’i memberikan pesan jelas untuk membuang malas. Siapa yang tak mau sabar dalam menanggung beratnya belajar. Maka ia harus siap menanggung perihnya kebodohan.

Kebodohan itu bukan soal calistung (baca tulis dan menghitung) semata. Tetapi juga bodoh dalam arti tidak mampu meyakini yang gaib dengan kekuatan akalnya juga bentuk kebodohan, malah itulah kebodohan terburuk.

Orang kafir adalah orang yang paling malas berpikir. Terhadap dakwah Nabi dan Rasul, mereka ingkar tanpa ilmu. Kalau Nabi dan Rasul mengisahkan azab Allah, bukannya ingat dan sadar, malah meminta azab itu disegerakan.

Oleh karena itu Allah kerap mendorong kita untuk aktif berpikir, menelaah, tadabbur dan lain sebagainya. Karena orang yang punya ilmu adalah yang mampu menangkap cahaya, sehingga selamat dari kegelapan.

Segera

Saat saya mendapati kisah wanita itu, seketika saya buang rasa malas dalam diri.

Baca Lagi: Indonesia Darurat Pendidikan

“Waktu bekerja orang rajin adalah sekarang, sedangkan waktu bekerja orang yang malas adalah besok,” begitu KH Abdullah Gymnastiar memberikan penjelasan.

Kalau mau ambil argumen bisa saja saya mengikuti bisikan: “Nanti saja, kamu sudah lelah. Tak perlu memaksakan diri”.

Dan, kalau itu yang saya ikuti, tulisan ini tidak akan dapat teman-teman nikmati. Meskipun sebenarnya yang merugi adalah saya sendiri, karena tak ada jejak kebaikan yang dapat saya tinggalkan.

Akhir kata saya teringat ungkapan Melayu yang mengatakan, “Nak 1000 jalan. Tak nak 1000 alasan”.

Jadi, sekarang tinggal kita memilih. Jika malas dibiarkan tumbuh, maka akan banyak umur terbuang sia-sia. Logika manusia tidak mungkin memilih yang seperti itu.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment