Mas Imam Nawawi

- Hikmah

Boleh Takut Tapi Jangan Mundur

Rasa takut adalah fitrah manusia. Bahkan Nabi Musa a.s. yang gagah perkasa, yang mukjizatnya mampu menumbangkan orang, pernah dilanda ketakutan. Begitu pula Nabi Harun a.s. Apalagi kita, manusia biasa di zaman sekarang, tentu dihantui berbagai macam kecemasan. Namun, satu hal yang pasti: jangan sampai ketakutan itu menggerus keimanan dan menghalangi kita dari amal saleh. “Keduanya […]

Takut

Rasa takut adalah fitrah manusia. Bahkan Nabi Musa a.s. yang gagah perkasa, yang mukjizatnya mampu menumbangkan orang, pernah dilanda ketakutan. Begitu pula Nabi Harun a.s. Apalagi kita, manusia biasa di zaman sekarang, tentu dihantui berbagai macam kecemasan. Namun, satu hal yang pasti: jangan sampai ketakutan itu menggerus keimanan dan menghalangi kita dari amal saleh.

“Keduanya berkata, “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami takut dia (Firaun) akan segera menyiksa kami atau akan makin melampaui batas.” (QS. Thaha: 45).

Ayat itu menerangkan kepada kita bahwa mengemban tugas bukanlah hal mudah. Terlebih tugas yang harus berhadapan dengan penguasa. Lebih jauh lagi kalau penguasa itu terkenal kejam dan tidak bisa memahami pendapat orang lain.

Kondisi itu mungkin menyebabkan Nabi Musa berpikir sebagai manusia biasa. Bahwa menemui Firaun sama dengan berhadapan dengan ketidakpastian. Tak jelas langkah apa yang akan Firaun ambil. Tak ada perdiksi yang mendekati pasti.

Walakin sisi yang menarik adalah Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. tidak membiarkan hati dan pikirannya dihantam gelombang ketakutan. Lebih-lebih Allah SWT langsung memberikan jawaban.

Jangan Takut, Allah Pasti Melindungi

Ketakutan Nabi Musa a.s itu langsung Allah Ta’ala jawab.

Allah berfirman: “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thaha: 46).

Ayat itu memberikan petunjuk kepada kita bahwa siapa yang sadar dan mau taat kepada perintah-Nya, pasti akan selamat.

“Aku mendengar dan melihat” menandakan kepada kita semua bahwa Allah tak akan membiarkan orang yang beriman dan beramal shaleh terpuruk.

Faktanya, kita temukan kemudian dalam Alquran bagaimana Allah menyelamatkan Nabi Musa dan menenggelamkan Firaun bersama seluruh tentaranya.

Ikhlaskan Hati

Oleh karena itu tugas kita yang sangat utama adalah bagaimana sadar dengan sebaik-baiknya. Bahwa dalam hidup ini kita semestinya mentaati Allah. Sikap itu akan semakin kuat kalau kita menjalankannya dengan ikhlas.

Ikhlas artinya kita tidak ingin kebaikan, pertolongan apalagi balasan kecuali hanya kepada Allah. Langkah inilah yang kita perlukan.

Dengan begitu iman kita akan meneguhkan sikap mental berani maju. Pantang mundur dalam urusan iman dan amal shaleh. Sebab hanya itulah yang memungkinkan Allah menolong kita, mengampuni kita dan memberikan kemenangan kepada kita.

“Siapa yang datang kepada-Nya dalam keadaan beriman dan telah beramal shaleh, mereka itulah orang-orang yang memperoleh derajat yang tinggi.” (QS. Thaha: 75).

Jadi, tak ada keselamatan dengan mengabaikan iman dan amal shaleh. Justru jalan hidup terbaik adalah kita harus takut, kalau-kalau iman sudah tak berdaya dan amal shaleh tak lagi bertenaga. Kemudian pikiran kita menjadi sangat mencintai dunia. Padahal akhirat dan apa yang ada di sisi Allah, jauh lebih baik dan kekal abadi.*

Mas Imam Nawawi

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *