Kalau kita merasa lelah itu wajar. Sebagai makhluk, kita butuh jeda, istirahat atau bahkan mengalihkan kegiatan. Akan tetapi menyerah, maka jangan sampai terjadi.
Meski begitu ada lelah yang kita tidak boleh mudah terkena, yaitu lelah dalam melakukan kebaikan. Entah itu amal sholeh, aktivitas positif yang bermanfaat bahkan berguna luas bagi kehidupan.
Misalnya seseorang menjadi guru, kemudian melihat seakan tidak ada harapan. Mungkin karena gaji yang kecil, jarak yang jauh, atau merasa lingkungan tidak kondusif.
Menghadapi perasaan seperti itu maka perhatikanlah niat mengapa dahulu memilih menjadi guru.
Dan, bukankah dengan menjadi guru bisa menjadi orang yang memberikan ilmu yang bermanfaat, yang pahalanya tetap mengalir sekalipun sang guru wafat.
Bahagia bukan pada soal orang memandang apa, menginginkan apa, lalu meraihnya, pasti bahagia. Hidup ini adalah tentang seberapa bermanfaat diri ini bagi sesama.
Baca Juga: Bukti Nyata Kebaikan
Dalam hal seperti itu, kita harus terus menjaga agar diri tidak kehabisan energi. Seperti matahari, sepanjang hayat, kita harus berupaya terus menjadi orang yang semangat melakukan amal-amal kebaikan.
Rintangan
Jangan mudah lelah dalam kebaikan. Ingat, setiap niat baik dan ide bagus, serta upaya mewujudkannya akan bertemu dengan rintangan.
Nikmatilah dengan lapang dada. Di sana ada kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Satu hal yang pasti, bersama kesulitan ada kemudahan.
Orang yang menetapkan niat untuk menetapi kebaikan, sedetik kemudian akan bertemu dengan rintangan, hambatan dan segala jenis kekurangan.
Mulailah gelisah datang tanpa diundang. Akan tetapi, memang begitu rumus hidup. Tak ada keberhasilan yang tidak menaklukkan rintangan.
Orang-orang yang sukses itu sebenarnya adalah orang yang telah berhasil menaklukkan tantangan yang melingkupi kehidupan mereka.
Bahasa kebanyakan orang, sukses itu adalah saat engkau bertemu kegagalan, engkau tidak mengubah tujuan. Tetapi tetap melangkah dan tidak akan berhenti hingga di titik tujuan.
Sebaik-baik Harapan
Dan, bagaimana kita akan menyerah dalam kebaikan, sementara ada orang yang tidak beriman, salah jalan dan menetapi jalan kesesatan, hidup dengan penuh semangat dan tak kenal lelah.
Menarik ilustrasi yang Gus Baha berikan.
Saat engkau merasa dingin pada malam hari dan karena itu tidak bangun tahajjud, maka betapa kita kalah dengan orang yang menembus hawa dingin dalam gulita untuk urusan mencuri harta orang lain.
Maling, pencuri, koruptor, itu sungguh-sungguh merancang rencana dan menjalankan aksinya. Padahal jelas, akhirnya kerugian dan kenistaan.
Artinya, jangan kebaikan itu mudah terkalahkan oleh apapun. Untuk bisa melakukan itu, kita hanya butuh yang namanya iman, keyakinan, komitmen dan kesungguhan dalam mewujudkannya.
Semakin kita akan dan wajib bersemangat dalam kebaikan saat membaca ayat ke 46 Surah Al-Kahfi.
“Amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”
Jadi, jelas sekali, bahwa yang harus membuat kita bersemangat tinggi dalam mengisi hari-hari kehidupan dunia ini adalah beramal saleh.
Baca Lagi: Lelah yang Jadi Modal
Kata Gus Baha, saat semua manusia sekarang sadar bahwa uang itu penting, maka kelak (di akhirat) semua juga orang akan sadar, bahwa yang paling penting itu adalah sujud. Sujud yang mendorong kita banyak melakukan amal kebaikan.*


