Home Artikel Biarlah Dunia Kacau, Hati Kita Jangan
Biarlah Dunia Kacau, Hati Kita Jangan

Biarlah Dunia Kacau, Hati Kita Jangan

by Imam Nawawi

Dalam perjalanan Depok – Ciputat (11/5/24) Pakar Psikologi Forensik, Mas Reza Indragiri tiba-tiba melempar pertanyaan kepadaku. “Indonesia sekarang ini kacau atau tidak, Mas?”

Kalau mau kita daftar, ada banyak masalah memang. Bukan soal kecil, soal yang menentukan, mulai hukum, integritas, moral, hingga etika. Semua soal itu tentu tak mudah untuk kita segera benahi.

Belum soal ekonomi, mulai dari PHK, pabrik sepatu tutup, sampai pada orang-orang miskin yang kesulitan mendapatkan pangan. Banyak sekali dan mungkin sebagian kita sepakat menilai Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

Kepada Mas Reza saya sampaikan, “Kalau tidak kacau apakah Mas Reza menilai Indonesia sedang baik-baik saja?”

Kami berdua tertawa bersama.

Kondisikan Hati

Tapi saya tidak akan melanjutkan cerita soal daftar masalah negara. Saya ingin mengajak kita semua mengkondisikan hati kita.

Jangankan soal negara, soal pribadi saja belum bisa diatasi. Mulai dari menjawab pertanyaan orang kapan menikah, mau tinggal di mana dan seterusnya.

Jadi, mana bisa kita berpikir tentang masalah negara, masalah dalam negeri (diri sendiri) masih belum bisa diatasi. Itu belum kita tambahkan daftar perang: Rusia Ukraina, Israel dan Palestina, serta perang pengaruh Amerika China.

Apalagi nmanya tekanan hidup pasti datang dari kanan kiri. Selesai kanan dan kiri, datang dari depan dan belakang. Begitulah rute kehidupan manusia.

Kata Gus Baha, Nabi Muhammad saja tidak pernah lepas dari masalah. Lalu darimana kita berpikir ingin hidup tanpa masalah. Mak jleb!

Terus bagaimana langkah mengkondisikan hati?

Dzikir

Tak ada cara terbaik mengkondisikan hati selain berdzikir. Kita mesti ingat dunia ini Allah yang ciptakan, Allah yang kendalikan, semuanya.

Baca Juga: Hati Hanya Tempat untuk Sakit?

Dzikir itu perintah. Jadi Allah memang tidak meminta kita berpikir bagaimana situasi ekonomi global. Tetapi Allah meminta hati kita itu ingat kepada Allah.

Karena kalau hati kita ingat, ketenangan itu akan datang. Itu janji Allah, pasti terjadi.

Lagian, yang Allah minta untuk kita selesaikan adalah soal hati ini dengan baik. Jangan fokus pada masalah eksternal, sebelum hati sendiri bisa menemukan jalan keluar dari masalah yang dihadapi.

Orang boleh tekun ibadah, tapi kalau hatinya terbakar iri dan dengki, hangus semua itu amal kebaikan.

Artinya soal yang utama memang soal menenangkan hati. Para pemimpin kalau mau jujur, selesai itu banyak masalah rakyat. Tapi karena mereka tidak melihat jujur itu obat, mereka senang berlelah-lelah dengan kedustaan.

Lihat, orang yang seperti itu, bicara saja belibet. Karena ia memaksa akal yang hanya bisa menjelaskan kebenaran harus menerangkan kedustaan. Itu sama dengan memaksa kepala menjadi kaki, rusak dan berbahaya sekali.

Stres

Namun, karena sebagian manusia lebih suka tidak berdzikir, sebagian besarnya gampang sekali terkena stres.

Stres kata Lazarus dan Folkman, adalah hubungan spesifik antara individu dan lingkungan yang tak sesuai harapan.

Harapan tinggi, sumber daya terbatas, lingkungan tak mendukung, jadilah stres.

Tinggi rendahnya tingkat stres seseorang, sangat tergantung pada sejauh mana dirinya terjajah oleh kesenjangan antara harapan dan kenyataan itu sendiri.

Akan tetapi kalau ia mampu mengelola stres itu, ia akan selamat dari tekanan jiwa.

Jangan Takut

Untuk bisa mengelola stres jauhi rasa takut. Terutama rasa takut yang tak beralasan.

Kalau kita belum menikah, jangan membayangkan hal-hal buruk. Apakah akan ada orang yang mau menerima saya? Apakah saya layak untuk mendapat pasangan.

Daripada waktu habis untuk mencari-cari jawaban dari pertanyaan seperti itu, lebih baik bangun karakter positif dalam diri.

Inti seseorang bisa baik dalam berumah tangga itu ada tanggung jawab, mengerti leadership dan amanah. Sejauh itu jadi komitmen, perlahan akan tumbuh kematangan dalam hal mengelola hati, mengkondisikan perasaan agar tak mudah terbanting seperti gelas kaca yang mudah pecah.

Kebanyakan orang itu takut dan berpikir yang negatif. Padahal sebaiknya dia berpikir dan bertindak positif. Dalam Islam, hari esok sangat bergantung dengan bagaimana kita mengisi hari ini.

Kalau baik dan terus dalam kebaikan, insha Allah akan terus dalam kebaikan. Tapi itu tak berarti hidup akan sepi dari tantangan. Tetap akan ada tantangan, tapi hati kita sudah siap menghadapi.

Baca Lagi: Lelah Batiniah, Mengapa Terjadi?

Lihat itu berita seorang pejabat, kelas menteri, yang semakin tua semakin susah hidupnya. Karena soal pesan makanan saja ia menyuruh anak buahnya bayar pakai uang negara. Selebihnya renungkan sendiri.

Isi Hari Ini

Langkah lebih jauh adalah bagaimana fokus pada hari ini. Selesaikan masalah kita hari ini.

Masalah hari ini masih malas membaca buku, maka ambil buku dan membacalah. Membacalah sampai bosan. Setidaknya ada waktu yang hari ini kita gunakan untuk membaca.

Hasilnya jelek, tidak memuaskan, kuncinya besok membaca lagi. Jangan terus berangan-angan bagaimana rajin membaca tapi bertindak tidak pernah.

Dan, sekali lagi jangan ragu, esok itu sangat ditentukan oleh hari ini. Maka isilah hari ini dengan kebaikan, ketentraman hati. Buang jauh rasa takut yang tak beralasan. Jauhi over thinking. Dan, mulailah lakukan satu hal yang baik!*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment