• Home  
  • Berpikir Sekaligus Bertindak
- Kajian Utama

Berpikir Sekaligus Bertindak

Bicara tentang berpikir tentu kita kenal cukup banyak orang yang populer namanya sebagai pemikir. Bicaranya retoris, datanya faktual dan analisisnya akademik. Namun, dunia tak butuh sebatas pemikir tapi juga eksekutor, alias orang yang bertindak. Kacaunya situasi dalam dunia maya, konon karena begitu banyaknya lontaran dari para pemikir yang sebagian sudah tidak lagi berdiri kokoh atas […]

Mari berpikir sekaligus bertindak itulah Islam

Bicara tentang berpikir tentu kita kenal cukup banyak orang yang populer namanya sebagai pemikir. Bicaranya retoris, datanya faktual dan analisisnya akademik. Namun, dunia tak butuh sebatas pemikir tapi juga eksekutor, alias orang yang bertindak.

Kacaunya situasi dalam dunia maya, konon karena begitu banyaknya lontaran dari para pemikir yang sebagian sudah tidak lagi berdiri kokoh atas pondasi akademik. Satu cara berpikir yang mengedepankan analisis data secara akurat dan mementingkan kejujuran, tetapi interes alias kepentingan sesaat.

Baca Juga: Era Peradaban Baru

Akibatnya dunia maya kita, terutama media sosial dipenuhi omongan-omongan orang yang mudah terrangsang emosinya, kemudian merasa mendapakan lahan untuk menumpahkan ketiadaan budaya berpikir dalam dunia maya dengan bahasa yang tidak sepatutnya.

Pada saat situasi sedemikian rupa, lantas muncul narasi bahwa kita harus membangun bangsa dan negara.

Ok, itu optimisme yang bagus. Tapi seharusnya kita mulai dengan mendidik jiwa ini bisa berpikir sekaligus bertindak. Agar tidak terlalu banyak slogan berhamburan dalam ruang-ruang kesadaran publik.

Islam

Islam adalah jalan hidup yang sempurna. Sedari awal, sebelum kaum saintis Barat menolak doktrin gereja, semua ajaran Islam tidak ada yang bertentangan dengan akal pikiran manusia. Bahkan Islam sangat menghormati kedudukan akal.

Alquran dibaca untuk memperkaya tindakan
Alquran dibaca untuk memperkaya tindakan

Jadi wajar jika dalam peradaban ilmu dunia hingga kini, semua perkembangan sains yang ada tidak bisa lepas dari landasan, inovasi dan improvisasi yang para saintis Muslim hasilkan. Sebuah temuan yang begitu cemerlang karya-karyanya justru karena sangat dekatnya jiwa dan pikiran mereka dengan Alquran.

Ibn Sina, siapa tidak kenal, di Barat ia disebut Avicena, karyanya pada bidang kodekteran telah memberi sumbangsih tak ternilai bagi bangkitnya masyarakat Barat dari hegemoni gereja yang anti ilmu.

Dengan kata lain, pada abad semodern sekarang orang salah dalam memahami Islam adalah sebuah keterlaluan luar biasa.

Hanya saja – memang harus jujur – hari ini sebagian besar umat Islam belum mengenal betul Islam dengan baik, sehingga sebagian pemikiran dan perilakunya persis seperti awan yang tak tentu tempat dan posisi, karena sangat tergantung pada arah angin yang berhembus.

Tindakan

Pertanyaannya apa yang membedakan umat Islam kontemporer dengan umat Islam di masa Rasulullah SAW dan di masa para saintis Muslim menginspirasi dunia?

Jawabannya sederhana, tindakannya. Tindakannya yang tidak sama. Alqurannya sama, haditsnya sama, bahkan kiblatnya tetap. Tetapi, tindakannya jauh berbeda.

Tadi dalam Khutbah Jumat di Masjid Ummul Quro Depok, Ustadz Iwan Abdullah mendorong diri kita melakukan introspeksi diri. Introspeksi diri dalam satu hal saja, yakni Alquran.

Para ulama terdahulu kala Ramadhan tidak ada tindakan paling utama yang jadi agenda setiap saat selama Ramadhan selain berinteraksi dengan Alquran. Sampai ada yang hatam 60 kali dalam sebulan Ramadhan. Ada yang 20 kali. Prinsipnya satu, tindakannya benar-benar membuktikan bahwa pikirannya benar-benar berlandaskan Alquran.

Belum lagi dalam hal menulis. Prof Hamid Fahmi Zarkasyi menerangkan bahwa Ath-Thobari menulis 40 halaman setiap hari selama 40 tahun. Jadi selama hidupnya yang 57 tahun beliau telah menulis 584.000 halaman.

Baca Juga: Filsafat Kematian

Dari sinilah Ustadz Abdullah Said melalui Pesantren Hidayatullah mengajak umat Islam untuk mengamalkan atau menjadikan tindakan apa yang menjadi keyakinan, sehingga keindahan dan keharuman Islam itu bisa orang rasakan dan orang buktikan.

Terbayang apa yang akan terjadi kalau kesadaran itu massif dalam kehidupan umat Islam? Tidak akan ada lagi orang yang suka berdebat apalagi saling menyalahkan. Kecuali yang benar-benar tidak pernah mau berpikir dan bertindak atas dasar keimanannya. Allahu a’lam.

Mas Imam Nawawi_Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *